Penjual Bunga Cempaka

Jangan pernah mengangap sepele pekerjaan yang kita lakukan, apapun bentuknya dan bagaimanapun kecilnya di mata kita maupun di mata masyarakat. Salah jika beberapa orang—bahkan ulama—mengatakan kalau waktu ibadah kita hanya tersedia pada waktu-waktu shalat dan ketika membaca Al Qur’an (baca: mengikuti pengajian) saja. Asal niat kita luruskan, perjalanan ke tempat kerja pun akan bernilai ibadah. Bekerja yang menghabiskan waktu 8 jam pun akan bernilai ibadah. Mengurus anak dan membersihkan rumah pun bernilai ibadah. Menyingkirkan duri dari jalan pun bernilai ibadah. Bahkan tersenyum pun bernilai pahala.

Selanjutnya, saya hanya ingin mengisahkan pengalaman nyata seorang Kiai Zawawi Imron—yang juga seorang penyair dari Madura—yang disampaikan oleh Jalaluddin Rakhmat di buku Sate Rohani dari Madura terbitan Rosda.

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar yang sangat jauh dari rumahnya, dan ia berjalan kaki untuk menempuh perjalanan itu. Usai jualan, ia pergi ke Masjid Agung yang ada di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melaksanakan Shalat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari itu sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuh perempuan tua itu. Dan hal itu berlangsung setiap hari.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari, takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai shalat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan padaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan tua itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan daun-daun itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, Pak Kiai,” tutur perempuan tua itu. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan shalawat kepada-Nya. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya.”[]

Advertisements

2 thoughts on “Penjual Bunga Cempaka

  1. Kalo gak salah di Cirebon tanaman bunga cempaka ini dinamai bunga Kantil yg biasanya dijadikn pelngkap sajen brsama kembang 7rupa/kembang setaman utk ritual goib. Belum ada sy jumpai tanaman kantil ini di crb tp kembangnya memang banyak dijual di pasar Kanoman hasil kiriman dr daerah lain. Brngkali ada yg bs bantu /juai utk pgadaan bibitnya mohon kontak sy, Mksh..(Sugito, 085659832219, Cerbonfarm@plasa.com )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s