Penyesalan Dita

Sepasang suami isteri yang sama-sama berkarier terlihat meninggalkan rumahnya dengan sepeda motor yang terlihat masih gres. Karier sang suami boleh dibilang sedang menanjak, dan sebagai buktinya mobil keluaran terbaru sudah terpajang di garasi rumah mereka sejak sebulan yang lalu. Kebetulan saja hari itu mereka memang tidak berniat untuk memakai mobil. Mereka telah memiliki seorang anak perempuan yang cantik dan imut, namanya Dita dan baru berusia tiga setengah tahun. Di rumah, ada seorang pembantu yang berusia sekira 30 tahunan, Dita sering memanggilnya dengan sebutan Mbok Minah.

Apabila Mbok Minah sedang sibuk di dapur atau menyelesaikan pekerjaan lainnya di dalam rumah, Dita sudah terbiasa bermain sendiri di sekeliling rumah. Dia bisa bermain boneka di kamarnya, di ruang tamu, di teras, bermain ayunan di halaman, atau hanya sekadar memetik bunga maupun dedaunan di taman kecil di samping dan depan rumahnya. Mbok Minah tidak terlalu khawatir karena Dita tergolong anak yang penurut dan tidak macam-macam. Ya, dia bisa beranggapan seperti itu karena Mbok Minah yang memegang dan mengasuh Dita sejak masih bayi.

Sedang asyik-asyiknya bermain di halaman, Dita menemukan paku berkarat. Merasa tertarik, Dita pun mencoba paku itu layaknya sebuah pulpen atau pensil warna yang biasa ia mainkan di atas kertas atau buku. Hanya saja, kali ini Dita menggunakan lantai marmernya sebagai media. Tentu saja apa yang ia lakukan menjadi sia-sia karena licinnya lantai marmer itu. Karena penasaran, Dita pun mencobanya pada permukaan mobil baru milik orangtuanya. Dan dia berhasil! Coretan Dita pada mobil hitam itu pun terlihat jelas. Kreativitas Dita pun semakin terasah dan tertantang untuk mencoret seluruh permukaan mobil orangtuanya, dari samping kanan, belakang, samping kiri, hingga ke depan. Dalam benak Dita, ia menggambar dirinya, ayahnya, ibunya, Mbok Minah, dan orang-orang yang pernah dekat dengannya.

Tanpa terasa, hari pun sudah sore. Orangtua Dita pulang dari tempat kerja, dan pada saat itulah wajah keduanya merah padam melihat mobil baru mereka. “Kerjaan siapa ini?!” teriak sang ayah menggelegar. Mbok Minah yang sedang mempersiapkan makan malam terkejut bukan kepalang. Ia pun segera ke depan, mendatangi asal suara tuannya yang sudah pulang. Begitu pula dengan Dita yang merasa senang mendengar ayah dan ibunya telah pulang.

Sang tuan rumah pun langsung menghardik pembantu rumah tersebut. “Siapa yang melakukan ini semua, Mbok?! Kerjamu apa saja seharian ini?! Bagaimana semua ini bisa terjadi?” Mbok Minah pun tahu kalau yang melakukan itu semua pasti Dita karena tidak ada lagi orang lain selain mereka berdua. “Maaf, Tuan … ini salah saya,” jawab Mbok Minah menunduk gemetaran. “Ya, tentu saja ini salah kamu!” teriak sang nyonya rumah tidak mau kalah.

Dita yang belum sadar apa yang terjadi langsung bergelayutan di tangan ayah dan ibunya. “Ayah! Ibu! Bagus nggak gambar buatan Dita? Lihat … itu Ayah dan itu Ibu. Yang ini Dita. Lihat … Mbok Minah juga ada!” Ia terus bergelayut manja pada tangan ayah dan ibunya. Mendengar hal itu semua, tentu saja sang ayah menjadi sangat pitam. Secara refleks, sang ayah mengambil ranting kecil dari dahan pohon yang ada di dekatnya, dan langsung dipukulkannya ke telapak tangan Dita yang terbuka. Tentu saja Dita menjerit kesakitan dan meraung-raung. Tetapi apa daya, sekeras apapun jeritan itu bagai angin yang lalu saja karena sang ibu seperti menyetujui perbuatan suaminya. Sementara Mbok Minah hanya bisa nelangsa. Setelah berkali-kali dan merasa puas, tangan Dita pun dibalik dan kembali dipukul pada bagian punggung tangannya.

Sepasang suami istri itu bukannya tidak tahu kalau pada akhirnya tangan Dita terlihat berdarah dan luka-luka, tetapi mereka berdua sepakat kalau itulah pelajaran yang berharga untuk anaknya yang masih berusia batita itu. Tanpa menghiraukan tangisan Dita yang menjadi-jadi, keduanya langsung masuk seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya Mbok Minah yang langsung memeluk Dita dan membawanya ke kamarnya untuk diobati. Hati Mbok Minah miris karena luka Dita boleh dibilang amat parah. Dengan telaten, ia membersihkan luka-luka itu dan terus menghibur gadis kecil yang dulunya periang itu. Sampai malam, Dita terus berada di kamar Mbok Minah. Ayah dan ibunya tidak melarang Dita untuk tidur di sana. Toh, hal itu juga menjadi bagian dari hukuman.

Kesokan harinya Mbok Minah terkejut melihat tangan Dita yang terlihat membengkak. Setelah dilaporkan, ternyata jawaban sang ayah hanyalah, “Ya sudah, olesi saja dengan salep. Nggak terlalu parah-parah amat, kan?” Pada hari kedua suhu badan Dita sudah semakin panas. Mbok Minah pun segera melaporkannya pada nyonya rumah, tetapi jawaban yang didapatkannya hanyalah, “Berikan saja obat warung untuk menurunkan panasnya, Mbok. Masih wajar, kok.” Pada hari ketiga Mbok Minah bingung bagaimana harus melaporkan keadaan Dita yang semakin parah saja. Bengkak di tangannya tidak hilang-hilang, begitu pula dengan demamnya yang semakin tinggi saja. Ayah dan ibunya pun hanya menjenguknya (baca: mengintipnya) sesaat dari balik pintu kamar Dita, sementara Mbok Minah terus menemaninya dengan mengganti kompres di dahinya.

Pada hari keempat, Mbok Minah tidak sanggup lagi. Ia pun melaporkan keadaan Dita dengan detail kepada sang nyonya rumah. “Ya, sudah. Kamu siapkan dia, nanti jam lima sore kita ke klinik,” sahut ibunya setelah melihat kondisi Dita yang memang parah. Tetapi mungkin pikirannya sederhana, bahwa Dita masih bisa sembuh jika sudah ke kliniik. Tetapi anggapannya salah, dokter di klinik angkat tangan. Mereka menyarankan agar Dita segera dibawa ke rumah sakit. Saat itulah hati ibunya menjadi tidak menentu. Karena khawatir, ia segera menelepon suaminya agar bisa ke rumah sakit menemui mereka. Di rumah sakit, pada akhirnya Dita harus dirawat inap mengingat bengkak di kedua tangannya yang sudah mulai mengeluarkan nanah. Demamnya pun semakin tinggi saja. Menurut dokter, kedua tangannya sepertinya sudah terkena infeksi.

Satu hari setelah dirawat inap, ayah dan ibu Dita dipanggil oleh dokter ke ruangannya. Sang dokter pun memberikan ultimatum yang membuat telinga sepasang suami istri seperti mendengar suara halilintar. “Kedua tangan Dita harus diamputasi. Ini demi menyelamatkan nyawa Dita. Dan tindakan ni harus disegerakan, kalau tidak ….” Suami istri pun segera berpelukan. Sang nyonya rumah menangis, begitu pula dengan sang tuan rumah yang tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan putri semata wayangnya setelah kedua tangannya tidak ada.

Operasi amputasi itu pun berhasil dengan baik. Kondisi tubuh Dita sudah tidak demam lagi. Setelah obat biusnya hilang, Dita siuman dan sedikit merasakan sakit di kedua tangannya. Dia terkejut melihat kedua tangannya yang sudah berbalut perban putih. Sementara di depannya, ayah dan ibunya menangis. Begitu pula dengan Mbok Minah. “Ayah … Ibu …, kenapa dengan tangan Dita?” tanya Dita menunjukkan kedua tangannya. “Mbok Minah, kemana tangan Dita?” Mendengar pertanyaan lugu itu, ketiganya kembali menangis dalam diam. Mbok Minah sendiri langsung berbalik karena tak kuat menahan haru.

“Ayah … tolong kembalikan tangan Dita,” lanjut Dita memohon pada ayahnya. “Untuk apa tangan Dita diambil? Dita janji tidak akan melakukannya lagi. Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil Ayah. Dita janji tidak akan nakal lagi. Ibu … mana tangan Dita? Bagaimana Dita mau makan? Bagaimana Dita bisa bermain lagi?” Namun pertanyaan-pertanyaan sederhana itu tidak ada yang bisa menjawab. Semuanya hanya bermuara pada penyesalan yang amat sangat. Baik pada diri sang ayah, sang ibu, maupun pada diri Mbok Minah sendiri. Ya, hanya penyesalanlah ujungnya.[]

Advertisements

18 thoughts on “Penyesalan Dita

  1. memang pelajaran dari kisah itu harus terus didengungkan ke para orang tua,malah kisah yang serupa di akhiri dengan bunuh dirinya sang ayah karena sangat menyesal.

  2. Saya kurang setuju jika dalam kasus ini cuma anak yang diedukasi. Orang tuapun harus diedukasi.
    Dalam kasus ini si anak tidak mengetahui apa yang ia lakukan, maka idealnya, si orang tua menyalurkan bakat anak (menggambar, dalam cerita di atas) ke tempat yang tepat.

  3. >> ferry : Ya, kadang2 yang diedukasi itu tidak hanya anak, tetapi juga orangtuanya. Mau membukukannya, Pak?
    >> fauzan : Sangat setuju, Zan.

  4. sdh berkali2 sy bc kisah ini,selalu sj airmata meleleh,bolehkah sy sharing ke temen2? tentunya dgn mencantumkan nama bang aswi..tq

  5. >> mala : Pasti serem banged. Kita semua pasti ada pengalaman yang sama meski kadarnya berbeda2. Semoga ini menjadi pelajaran untuk tidak mengulanginya pada generasi mendatang.

  6. >> ayung : Cerita ini sudah tersebar dalam berbagai versi. Cerita sebenarnya pun saya tidak tahu karena beberapa bahkan dikatakan kalau cerita ini berasal dari luar negeri. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s