Eco-Hotel: Konsep Hijau pada Sebuah Hotel

Sungguh miris mendengar kenyataan bahwa Bandung bukan lagi sebuah kota yang layak huni. Bagaimana tidak, konsep pertama dibangunnya Kota Bandung sebagai kota taman dan peristirahatan untuk 500 ribu penghuninya, ternyata pada tahun ini penghuninya sudah mencapai angka 2,5 juta orang. Belum lagi pada masa weekend atau liburan panjang yang dijamin terjadi peningkatan signifikan karena banyaknya wisatawan yang berduyun-duyun memacetkan lalu lintas kota ini. Sedih rasanya apalagi mendengar kenyataan ini dari mulut Pak Askari yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Beliau membuka acara “Eco-Hotel Rating Workshop” yang diadakan di Carios Lounge Hotel Aston Braga hari Rabu (11/2) mewakili Walikota Bandung Dada Rosada yang tidak dapat hadir. Saya sendiri hadir sebagai perwakilan dari Komunitas Batagor alias Bandung Kota Blogger.

Dalam sambutannya itu, ia juga mengemukakan kenyataan lain (yang lagi-lagi menyakitkan) bahwa ruang hijau di Kota Bandung baru sekitar 30%. Idealnya, dari 2,5 juta orang itu harusnya di Kota Bandung sudah tertanam 1,25 juta pohon dewasa karena 1 pohon dewasa bisa memberikan udara yang layak kepada 2 orang. Akan tetapi, lihatlah kenyataan yang ada di kota ini! Berdasarkan data tersebut (bahkan kalau perlu sudah merupakan kesadaran mandiri tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup), sudah sepantasnya semua pihak turut berpartisipasi. Dari acara ini, pihak pariwisata (yang diwakili oleh PHRI atau Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) memang sepantasnya berkewajiban peduli terhadap masalah lingkungan hidup itu. Tidak salah kalau salah satu kelompok peduli lingkungan di Tanjung Benoa, Bali, mengatakan, “Kesan yang sangat baik terhadap kebersihan disamping pemeliharaan dan menjadi bagian yang harmonis dengan alam adalah tujuan kami.”

Secara keseluruhan, acara yang dimoderatori oleh A. Suratin (Kang Aat), budayawan yang sekaligus pengelola Gedung Indonesia Menggugat, cukup menarik, apalagi menghadirkan beberapa kalangan penting yang terkait seperti dari PHRI, Riung Bandung Association, BPLHD Jawa Barat, lembaga pendidikan, LSM, termasuk hadirnya para mahasiswa pariwisata yang menyegarkan mata [ehm]. Kendati begitu, saya sebagai perwakilan masyarakat awam yang tidak mengetahui sama sekali seluk-beluk perhotelan pada akhirnya menjadi paham tentang beberapa hal, salah satunya adalah tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup yang bisa disinergikan antara pihak perhotelan dengan komunitas yang saya ikuti. Inti dari seminar ini pada akhirnya adalah bagaimana menciptakan pariwisata yang mempunyai etika, yaitu pariwisata yang berkonsep pada hablumminallah dan hablumminannas (keseimbangan terpadu secara vertikal dan horizontal).

Kang Iwan (BPLHD Jawa Barat) mengatakan bahwa tanggung jawab pariwisata harus ditujukan pada turunnya dampak negatif ekonomi, sosial, dan lingkungan yang ditimbulkan oleh industri pariwisata, meningkatnya perekonomian masyarakat yang berkaitan, adanya pelestarian lingkungan, dan timbulnya rasa respect terhadap segala hal yang berhubungan (khususnya manusia dan alam). Inilah yang harus diperhatikan mengingat prediksi beberapa tahun ke depan kalau kawasan hutan di Indonesia akan habis, areal pesawahan yang makin menghilang, serta pertumbuhan kota yang luar biasa meningkat. Apa jadinya negeri ini kalau ruang hijau sudah tidak ada lagi sementara kota yang selama ini dianggap sebagai pabrik polusi dan biang kesemrawutan begitu merajalela?

Tidak ada cara lain kecuali manusianya yang harus berubah. Kang Aat mengatakan kalau kita (generasi sekarang) sebenarnya meminjam ruang hidup anak cucu kita (generasi mendatang), sehingga sudah selayaknya kalau kita harus mengembalikan pinjaman itu secara utuh atau jauh lebih baik lagi, bukan malah sebaliknya. Sebagai manusia, kita harus lebih peduli lagi pada lingkungan. Tak salah kalau di Jepang sedang giat-giatnya menciptakan robot untuk membantu manusia mengerjakan hal-hal yang teknis, sehingga manusianya bisa secara total mengurusi masalah alam. Mbak Mita (STPB) memberikan konsep kepedulian lingkungan dengan cara sukarela, bertahap, dan menghargai kearifan lokal.

Sedangkan pada bagian akhir, Mbak Yuyun (Yayasan Bali Fokus) memberikan sebuah panduan bagaimana sebuah hotel bisa mendapatkan sertifikasi lingkungan yang berorientasi internasional. Hal ini begitu penting karena sejalan dengan Deklarasi Hague tentang kepariwisataan yang dinyatakan oleh World Tourism Organization (WTO), “Lingkungan alam yang asli, budaya dan manusianya adalah prasyarat fundamental bagi pembangunan kepariwisataan. Selain dari pada itu, pengelolaan yang rasional dari kepariwisataan dapat memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi perlindungan dan pengembangan lingkungan fisik.” Tidak hanya itu, dari data Tearfund pada tahun 2000 menyatakan bahwa lebih dari 60% wisatawan Inggris bersedia membayar mahal untuk liburannya ke luar negeri apabila uangnya disalurkan untuk perbaikan lingkungan atau dana sosial setempat. 60% dari mereka bahkan mempersiapkan tambahan 10-25 poundsterling kepada operator wisata terpilih untuk memastikan komitmen mereka terhadap lingkungan.

Nah, apalagi yang harus ditunggu oleh industri pariwisata Indonesia (khususnya di Kota Bandung) untuk meningkatkan omzet pemasukan kas daerah sekaligus bisa menjaga lingkungan hidup? Saya pun, pada forum yang lebih kecil dan spesifik, mengajukan ide bagaimana sebuah hotel bisa memberikan value added service seperti wisata sepeda dengan tujuan kota atau desa. Kalau di kota, kegiatan ini salah satu poin positifnya adalah mengurangi kemacetan lalu lintas. Sedangkan di desa, salah satu poin positifnya adalah menambah pemasukan warga desa setempat sekaligus mengurangi urbanisasi. Wallahu’alam.[]

Advertisements

7 thoughts on “Eco-Hotel: Konsep Hijau pada Sebuah Hotel

  1. bang emang mahasiswa priwisatanya bawa obat penyegar mata ya..???
    wah dengan penghijauan pasti akan sangat menyegarkan mata tuh bang…ga perlu mahasiswa lagi..apalagi mahasiswi..hihihi…(komen ga nyambung.in the middle of deadline)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s