Menulislah Seperti Angin

Kenapa harus bersedih?
Apakah menurutmu mati itu kabar buruk?
Sayang sekali kalau begitu …
Percayalah padaku.
Kematianmu adalah awal kehidupan yang lain.
(Rinrin Migristine)

Menurut KBBI, angin adalah gerakan udara dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Kendati tak dapat dilihat, pergerakan angin dapat dilihat dari bergeraknya daun-daun di pepohonan. Kendati tak dapat diraba, dinginnya angin dapat kita rasakan di kulit. Perlu diketahui bahwa angin memiliki energi gerak sehingga dapat digunakan sebagai pembangkit listrik dengan membuat kincir angin. Manfaatnya jelas banyak sekali dimana salah satunya adalah menerbangkan layang-layang hingga membuat Benjamin Franklin menemukan listrik.

Dalam bahasa Inggris, angin biasa disebut dengan WIND. Berdasarkan ini, sifat-sifat angin pun terkandung dalam empat huruf-hurufnya, yaitu [W]aft, [I]nvisible, [N]atural, dan [D]aily. Sifat angin yang lebih banyak dipakai karena nuansa positifnya, pun bisa dipakai dalam kepenulisan. Ya, menulislah seperti angin, baik yang baru belajar, yang sudah merasa, atau yang sudah dicap menjadi seorang penulis. Artinya, sebagai seseorang yang terjun dalam dunia kepenulisan harusnya bisa mempraktikkan sifat WIND ini: Waft (melayang-layang), Invisible (tak dapat dilihat), Natural (alami), dan Daily (bersifat harian).

1. Waft

Sifat angin yang pertama adalah waft atau melayang-layang. Pergerakannya begitu stabil, sehingga bisa turun ke bawah atau terbang tinggi ke atas, dengan pergerakan yang lambat ataupun sangat cepat, namun tetap dalam koridor melayang. Sudah sepantasnya seorang penulis harus memiliki sifat ini karena dunianya adalah dunia imajinasi tanpa batas. Imajinasinya harus melayang-layang. Kreativitasnyalah yang dapat memanen imajinasi itu sehingga menghasilkan karya yang indah. Pada proses melayang, seseorang dapat melihat dunia dari berbagai pandangan. Jika tidak percaya, bandingkanlah pandangan kita saat berdiri di atas tanah, berdiri di atas meja, berdiri di atap rumah, berdiri di atas gedung, atau melihat dari jendela pesawat.

2. Invisible

Sifat angin yang kedua adalah invisible atau tak dapat dilihat, namun keberadaannya dapat disaksikan melalui pergerakan benda lainnya seperti daun, bulu, debu, rambut, bendera, layar, dll. Ya, seorang penulis sudah biasa disebut sebagai tokoh di belakang layar. Masyarakat luas hanya mengenal buah karyanya yang tersebar luas tanpa mengetahui siapa sebenarnya penulis yang bersangkutan. Kendati demikian, sebagai seorang penulis kita harus bertanggung jawab penuh atas sesuatu yang sudah ditulis. Menulis kebenaran jauh lebih penting daripada menulis sesuatu dengan apa adanya. Mengajak banyak orang untuk berbuat lebih baik jauh lebih penting daripada menjerumuskan mereka. Satu hal yang perlu diingat: Tulislah sesuatu yang berpahala karena penulis itu hidup abadi!

3. Natural

Sifat angin yang ketiga adalah natural atau alami karena bergerak mengikuti alur irama yang telah ditetapkan, yaitu berdasarkan perbedaan tekanan yang juga alami. Seorang penulis juga harus memiliki sifat alami. Artinya, ia harus bebas menyuarakan kebenaran tanpa harus dikungkung atau ditekan oleh pihak mana pun. Menulislah secara mengalir tanpa harus mengikuti gaya tertentu, meski pada awalnya ia harus belajar dari gaya yang dianggapnya terbaik. Menulislah secara alami tanpa harus terpenjara oleh statusnya sebagai seorang karyawan, ibu rumah tangga, pebisnis, trainer, artis, atau bahkan pejabat atau penjahat sekalipun. Lihatlah mereka yang berhasil menulis karya besarnya meski harus di penjara seperti Sayyid Qutb saat menulis “Fii Zhilalil Quran”. Jadi, apakah kita harus terpenjara oleh waktu yang bisa diatur oleh kita sendiri?

4. Daily

Sifat angin yang keempat adalah daily atau bergerak setiap hari. Kalau mau dipaksakan, bahkan hitungannya sudah ‘detikly’ alias setiap detik. Apa jadinya jika angin tidak bergerak satu hari saja? Begitulah halnya dengan seorang penulis. Menulislah setiap hari meski itu hanyalah satu kata saja! Joni Ariadinata pernah menuliskan bahwa cerpen bagus (bermutu) tidak lahir dari proses yang sederhana tetapi membutuhkan banyak perangkat, di antaranya adalah kemampuan menguasai teknik dan mengetahui betul apa yang ditulis. Lanjutnya, “Menguasai teknik didapat melalui latihan membaca, kemudian latihan menulis, dan terus menulis tanpa jemu dan putus asa. Sedangkan mengetahui betul apa yang ditulis didapat dari dua hal terpenting, yakni membaca abstrak (melihat, mendengar, dan merasakan) dan membaca yang sebenarnya.”

NB: Tulisan ini terinspirasi dari cerpen Rinrin Migristine (FLP Bandung) berjudul “Angin dan Bunga Rumput” yang dimuat di Tribun Jabar (Minggu, 3 Mei 2009) dimana pada hari yang sama beliau wafat karena penyakit gagal ginjal. Semoga akhir hidup beliau adalah awal bagi kehidupan kita yang terus berusaha belajar menjadi penulis.[]

Advertisements

21 thoughts on “Menulislah Seperti Angin

  1. Semoga amalnya diterima Allah SWT, dan ia akan selalu dikenang karena karya yang ditinggalkannya. Kita semua akan mati. Dan kematian kita bukan akhir dari kita untuk selalu berguna bagi sesama. lewat buku yang kita tinggalkan kita akan selalu berguna.

  2. Subhanallah, jadi malu, selama ini kalo gak mood, ya gak nulis. Nulis kalo lagi sempet and kalo ada request. Padahal kalo ngebaca sepak terjang temen2 milis, aduh, jadi malu sendiri. Bener2 komit dengan misinya untuk mencerdaskan moral dan intelektual anak bangsa bukan materi semata.
    Mbak Ririn Magriste (Semoga Allah SwT menerima beliau disisi-Nya), meski saya belum pernah baca karyanya, beruntung sekali telah meninggalkan kebaikan yang akan terus mengalir pahalanya.

    Oya bang Aswi, manteranya: menulislah satu hari meskipun satu kata aja, bener2 mujarab! Hehehe, kemarin asli libur nulis. Malem jam 22.00 baru baca imel ini. Tanpa beban, nulis deh satu kata. Eeehhh malah keterusan sampe jam 02.00. Lumayan jadi beberapa lembar. Makasiihhh bangeedd.

    Coba googling ah, siapa tau ada cerpen Mbak Ririn
    SEMANGAAATTTT! !!

  3. >> yessi : asal jangan kayak di film2 yang sering disalahgunakan, chi … ^_^
    >> riyawati : amiiin.
    >> amalia : semangat terus, lia….

  4. wow! KERENN..
    ternyata angin menyimpan banyak ilmu..
    jadi inget waktu SMA dulu saya demen banget sama yang namanya WIND a.k.a ANGIN itu…

    dulu banyak banget postingan tentang angin itu,
    tapi disini saya melihat ANGIN dari sisi yang berbeda.

    Mantaaaffffs!

    izin copas yaa bang…

  5. >> marsudiyanto : sama2, mas. terima kasih sudah mengunjungi blog ini.
    >> oran : mangga, insya Allah akan membawa kebaikan untuk orang lain juga….
    >> lili : deuh … yang langsung berpuisi ria ^_^

  6. angin yang jahat seperti angin puting beliung
    yang sekarang lagi ngetrend di berbagai daerah di Indonesia
    kok point ke 2 agak menyimpang dengan angin puting beliung ya
    angin puting beliung bisa dilihat πŸ˜›

  7. >> afwan : Insya Allah bermanfaat ya, Wan.
    >> anno : Hehehe, itu mah yang kelihatan debunya. Sebenarnya bentuk anginnya aseli nggak kelihatan. Coba aja cek ke ilmuwan. Salam kenal….

  8. kunjungan balik…..wah, penulis rupanya…makasih dah nengok kulkas saya….
    theme-nya bagus bang….
    tulisannya juga…

  9. Tulisan ini inspiratif sekali Bang Aswi
    Hari ini menjadi lebih bermakna karena saya mengetahui blog yang sangat ‘penuh’ ini πŸ™‚

  10. assalamualaikum..
    ceritanya inspiratif banget.nggak nyangka kalau angin/wind itu ada akronimnya.alhamdulillah,dapat ilmu dari bangaswi.bang,kebetulan saya lg memotivasi diri dan awan2 agar gemar menulis.gimana kalau saya sebarkan ilmu ini ke akwan2?sekalian saya minta izin untuk co-pas artikel in ya bang.
    jazakumullah
    wassalamualaikum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s