W R I T I N G

Waktu

  • Sebagai salah satu makhluk yang diciptakan Allah, manusia (walau telah dimuliakan dengan nikmat akal dan hati) tetap saja mempunyai keterbatasan. Dan salah satu faktor yang membatasi manusia adalah waktu. Oleh waktu, manusia dilahirkan. Oleh waktu pula, kelak manusia akan menghadapi kematian. Karena dengan keterbatasan itulah, manusia harus cerdas dan pandai dalam mengelola waktu.
  • Waktu berkaitan erat dengan pengalaman. Waktu yang telah lalu, telah menjelma pengalaman. Manusia tidak bisa membalikkan waktu, tetapi manusia bisa belajar dari masa lalu. Manusia bisa belajar dari pengalaman. Bukan hanya pengalaman dirinya sendiri, tetapi juga pengalaman orang lain. Pengalaman orang-orang terdahulu. Pengalaman yang tersurat maupun yang tersirat.
  • Dalam menulis, manusia akan lebih mudah menulis yang sudah pernah dialaminya. Menulis pengalamannya sendiri. “Hanya ada satu sumber yang tersedia sebagai bahan fiksi (tulisan) Anda. Sumber tersebut adalah pengalaman Anda sendiri, kehidupan Anda sendiri, kenangan Anda sendiri, mimpi Anda sendiri, dan imajinasi Anda sendiri,” kata Carmel Bird.

Ruang

  • Ruang adalah faktor lain yang juga membatasi manusia. Mustahil manusia bisa berada di dua tempat sekaligus, apalagi dengan jarak yang begitu jauh. Oleh ruang, manusia pernah mengalami alam ruh hingga alam rahim. Oleh ruang pula, manusia harus menjalani kehidupan di alam dunia ini hingga kelak menghadapi alam kubur dan alam akhirat.
  • Ruang berkaitan erat dengan suasana, yang berjalan di jalur kenyamanan, hingga sampai pada titik kenikmatan. Tentu saja semua ini berada dalam kaidah kepenulisan. Ruang dan menulis memang tidak bisa dipisahkan. Dari ruang, manusia bisa nikmat menulis. Dari menulis pula, manusia bisa menciptakan ruang. Manusia harus bisa mencari esensi ruang yang tepat untuk menulis, hingga bisa maksimal menghasilkan karya yang spektakuler.
  • Tak salah kalau Budi Darma mengatakan, “Kepengarangan saya tergantung pada mesin tulis dan suasananya.” Menulis adalah dunia tersendiri. Ruang terisolasi. Maka, hilanglah dunia keseharian kita. Apapun status kita. Dan … menulis adalah napas kita.

Idiom

  • Menulis adalah bermain kata-kata. Menulis adalah bermain bahasa. Menulis adalah idiom. “Menulis adalah berbicara di atas kertas,” kata Donald H. Weiss. Tak salah jika Edgar Allan Poe juga mengatakan, “Dalam tulisan tak boleh ada satu kata pun yang terbuang percuma. Setiap kata harus punya fungsi.”
  • Kuasailah kata-kata. Kata-kata adalah bahan bakar. Kata-kata adalah roda. Kata-kata adalah gas, rem, dan kemudi. Kata-kata adalah jok. Kata-kata adalah segalanya. Kuasai kendaraan tulisan dengan kata-kata. Nikmati perjalanan tulisan dengan kata-kata. Percepat dan perlambat keindahan dan ketajaman tulisan dengan kata-kata. “Diksi di dalam penulisan tidak ada kaitannya dengan pelafalan. Diksi mengacu pada cara Anda memilih kata-kata,” kata Donald H. Weiss.
  • Seorang editor pernah mengatakan pada salah seorang penulis pemula, “Gunakan kalimat yang pendek. Gunakan paragraf pertama yang pendek. Gunakan bahasa Anda semaksimal mungkin. Buat kalimat positif, bukan negatif.” Penulis pemula itu pun mengikuti saran sang editor. Dan kini, penulis pemula itu dikenal dengan nama Ernest Hemingway.

Tema

  • Setiap perjalanan selalu membutuhkan arah. Setiap pelayaran selalu membutuhkan kompas. Dalam kepenulisan, kita membutuhkan tema. Dengan begitu, kita tidak akan tersesat dalam berimajinasi (bagaimanapun liarnya). Tetapi … tema bukanlah segalanya. Ia hanyalah salah satu petunjuk. Salah satu pedoman. Sama halnya dengan kompas. Sama halnya dengan bintang.
  • “Seorang penulis haruslah memiliki serangkaian kepekaan tertentu, yang dikumpulkan, dilatih, dan diasah tajam-tajam ketika membaca. Dua hal yang paling utama diantaranya adalah kepekaan bahasa dan kepekaan materi,” kata Ismail Marahimin. Maka, berlatihlah dalam mengasah kepekaan kita akan tema. Tema sederhana bisa dijadikan cerita yang menarik. Tema yang menarik bisa dijadikan cerita yang luar biasa.
  • Dengan tema, manusia bisa terarah dalam menulis. Dengan tema, manusia bisa bercerita. Dengan tema, manusia bisa mencintai tulisan. “Penyebab utama kematian prosa adalah tidak adanya kecintaan penulis terhadap bahan tulisannya,” kata Carillo Mean. “Sebuah cerpen yang baik adalah cerpen yang merupakan suatu kesatuan bentuk, utuh, manunggal, tak ada bagian-bagian yang tidak perlu, tetapi juga tak ada sesuatu yang terlalu banyak, semuanya pas, integral dan mengandung suatu arti. Cerpen harus memberikan gambaran sesuatu yang tajam,” kata Jakob Sumardjo. Dan sesuatu yang tajam itu adalah tema.
  • Bagian dari tema yang sangat penting adalah judul. Ia adalah halaman depan sebuah rumah. Ia adalah taman yang menunjukkan sebuah rumah bagus atau tidak. Ia adalah halaman depan sebuah surat kabar, hingga manusia harus memutuskan untuk membeli atau tidak. Cerdaslah dalam memilih judul. Berhati-hatilah!

Iqra’

  • Mohammad Diponegoro pernah mengatakan, “Satu-satunya nasihat bagi pengarang muda ialah sesuatu yang mungkin sangat baru bagi sebagian mereka, yaitu membaca. Jika Anda senang menulis, kenapa Anda sampai bisa meremehkan apa yang sudah ditulis?” Ya, kenapa tidak? Tidak sedikit penulis terkenal yang berawal dari kesenangannya dalam hal membaca.
  • Bacalah buku apa saja untuk menangkap gaya setiap penulis. Membaca juga membuat kita tahu apa yang membuat sebuah tulisan itu bagus serta memperluas kosa kata. Tapi begitu tiba waktunya menulis, kita harus mulai dengan gaya kita sendiri. Mulailah menulis apa saja yang Anda tahu. Tulislah apa yang Anda alami dan apa yang Anda rasakan. Itulah yang kulakukan. (J.K. Rowling)
  • Membaca bukanlah yang tersurat, tetapi juga yang tersirat. Bacalah alam. Bacalah peristiwa. Bacalah orang-orang yang ada di sekitar kita. Bacalah segala hal yang membuat kemanusiaan kita menjadi penting bagi orang lain, yang apabila kita tidak ada membuat orang lain merasa kehilangan. Membaca … akan membuat kita lebih bernilai. Terlebih jika kita membaca sendiri tulisan yang sudah kita buat, hingga mengetahui berbagai kesalahan sebelum orang lain mengetahuinya. “Perbaiki tulisan Anda dengan mencari kata, membaca, dan menulis,” kata Gary Provost.
  • Imam Syafi’i juga mengatakan, “Goresan penaku di tengah lembaran kertas, terasa lebih indah ketimbang khayalan. Aku terjaga setiap malam untuk belajar, pada saat orang-orang lelap tertidur.”

Narasumber

  • Seorang penulis adalah seorang “pencipta”. Ia adalah narasumber bagi sebuah cerita. Bagi sebuah tulisan. Entah tulisan itu kemudian akan disebarkan kepada khalayak ramai atau tidak. Dan seorang narasumber yang baik, harus memaksimalkan tulisannya dengan data-data yang lengkap. Data-data yang akurat. Data-data yang tidak memungkinkan munculnya keganjilan. Tidak memunculkan sebab-akibat yang aneh.
  • Selalu ada hubungan antara penulis dan pembaca. Selalu ada hubungan antara entertainer dan penonton. Karena itu, jangan kecewakan pembaca. Jangan pernah menganggap bahwa pembaca itu bodoh sehingga banyak hal yang harus ditulis agar pembaca bisa mengerti. Kita harus menganggap pembaca itu cerdas. Gunakanlah kalimat-kalimat pendek, kalimat-kalimat langsung, atau kalimat-kalimat aktif agar lebih mudah diterima mereka. Jangan pernah berpanjang-panjang dalam menulis.
  • “Kewajiban pertama seorang penulis adalah menghibur pembaca. Pembaca akan bosan dengan eksposisi dan filosofi abstrak. Mereka ingin dihibur. Tapi mereka akan merasa ditipu, misalnya, jika Anda tidak punya sesuatu yang membuat mereka belajar sesuatu dari tulisan Anda,” kata Steven Goldsberry.

Gagasan

  • “Orang gagal bukan karena mereka tolol, tapi karena mereka kurang ngotot,” kata Burt Struthers. Gagasan atau ide bisa menjadi salah satu faktor yang menakutkan bagi seorang penulis. Buntu menulis!? Kehabisan ide? Bingung bagaimana memulainya? Jangan jadikan alasan. Jangan menunggu ide! Ide sudah tersebar di mana-mana, tinggal kita sendiri yang harus rajin mencari dan mengumpulkannya.
  • Seorang penulis tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Waktu baginya, adalah menulis. Tanpa ide pun ia akan menulis. Yang ada di pikirannya adalah menulis, bukan ingin menulis apa. Dan ketika menulis, ia akan menemukan gagasan akan menulis apa … kemudian. “Menulislah (pada saat awal) dengan hati. Setelah itu, perbaiki tulisan Anda dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan,” kata William Forrester (yang diperankan oleh Sean Connery) dalam film “Finding Forrester”.
  • Menulis adalah profesi. Apapun aktivitas kita, adalah profesi. Dan profesi, pada titik tertentu akan mengalami kemandulan. Manusia akan mengalami kehidupan di bawah. Namun seperti sebuah roda, kehidupan akan terus bergulir. Dunia kepenulisan akan terus bergulir. Pada titik tertentu, seorang penulis harus beristirahat. Bertamasya. Mungkin menulis diari bisa menjadi pilihan tamasya yang menyegarkan. “Orang yang kembali ke buku harian adalah orang yang mencari dirinya, penyusuran jalan menuju pengembangan dan kesadaran, jalan menuju kreativitas,” kata Anais Nin.
  • Cobalah berjalan-jalan dan temukan ide itu. Bacalah! Kunjungi orangtua atau sahabat atau siapa pun yang tanpa disadari mungkin sudah terlupakan. Kembangkan sayap rajawali kita selebar-lebarnya. Buka koneksi yang lebih luas lagi. Lalu terbanglah tinggi-tinggi. Lihatlah ke bawah … betapa luas gagasan dan ide yang ada di sekitar kita. Masih belum bisa menulis? Cobalah untuk tidur. Lupakan pikiran bahwa kita ingin menulis. Tidur saja, dan bermimpilah. Dan ketika bangun, segera menulis!
  • “Karya sastra tidak hanya berupa buah naskah atau buku yang berwujud terbitan, akan tetapi terutama suatu ‘proses interaksi’ yang memiliki prolog dan epilognya juga. Sastra pada hakikatnya sudah mulai dari saat penulis terkena benih hasrat ingin menyampaikan sesuatu, sampai pada fase kritik dan kontra-kritik hasil jadi. Sastra bergerak juga dalam percakapan-percakapan pribadi maupun secara resmi tertulis atau terkata dalam diskusi-diskusi kemudian. Seluruh jangka dan acara bersastra atau menyastra sangatlah luas, penuh variasi. Dan sekian suka-duka aksi serta reaksi antara penulis, diri-sendiri, para sumber dan bahan-bahan informasi lain, kritikus, penerbit, ilustrator, resensor, dan terutama para pembaca, itu semua pada hemat saya suatu peristiwa (happening) yang terdiri dari fase-fase dan bagian-bagian penghayatan yang semuanya penting, pantas diperhatikan dan dinikmati juga,” kata Y.B. Mangunwijaya.[]
Advertisements

18 thoughts on “W R I T I N G

  1. asslamu’alaikum bang….
    gmn kabarnya????

    klo ada lomba-lomba kasih tw aku yang bang..
    lagi pengen ikutan lomba nich…

    makasih bang aswi

  2. >> fajar : wa’alaikumsalam, alhamdulillah baik. kalau saya nggak ngasih kabar, cari aja di mbah google ya….
    >> aki : sama-sama, ki….

  3. >> afwan : Harusnya seperti itu karena belajar menulis bisa di mana-mana. Jangan jadikan media sebagai alasan….
    >> fajar : Sama-sama, Jar.
    >> mascayo : Mangga, Mas, dengan senang hati ^_^

  4. niat gantung diri menjadi terwujud dengan menulis…..orang selalu bingung dengan tulisan yang dari otak tidak writing by heart….. bagus banget tulisan mas ni……lam kenal mas

  5. >> wishper girl : Ya, menulis itu sama dengan bermain. Maksudnya, di blog mascayo akan dibuat link agar bisa berkunjung ke blog ini atau … kamu bisa aja copy-paste tulisan ini di blog kamu dengan syarat menyebutkan sumbernya, yaitu http://bangaswi.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s