Catatan H+1 Malam Tahun Baru 2009

Kampanye sepeda tidaklah harus beramai-ramai untuk menunjukkan apa yang ingin kita kampanyekan. Akan tetapi, jika niat dan hati kita tulus untuk berkampanye meski hanya sendiri, insya Allah tujuannya pun akan tercapai dengan baik pula. Inilah yang pernah saya lakukan, meski sebenarnya niat bersepeda malam hari tadinya mau dilakukan saat malam Tahun Baru tetapi tidak jadi karena satu dan lain hal. Kenyataannya saya tidak menyesal karena dari berita yang saya dapatkan, lalu lintas di beberapa titik Kota Bandung macet total saat malam pergantian tahun itu.

Seperti biasa, saya pun mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Celana sepeda yang tersembunyi di balik celana jeans, sandal gunung, sweater kesayangan, rompi kuning B2W edisi perdana (karena sudah ada edisi kedua yang sedikit berbeda ^_^), helm biru dengan tambahan karet ban untuk menempelkan lampu belakang, sarung tangan baru, dan tentu saja SPIDI bermerek Master dengan sedikit pemompaan pada ban depannya. Rencana saya adalah menggowes nonstop alias tanpa henti dari berangkat hingga pulang ke tempat-tempat yang bahkan saya pun belum pernah melaluinya dengan sepeda, plus [kalau bisa] tanpa minum.

Setelah semuanya siap, dengan bismillah [selepas maghrib, kira-kira pukul 18.15] saya pun mulai mengayuh pedal meninggalkan rumah di Jl. Papanggungan menuju perempatan Binong. Setelah lampu hijau, saya belok kanan memasuki Jl. Ibrahim Adjie (dulu Jl. Kiaracondong) yang saat itu lumayan padat oleh kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat. Saya kemudian memilih jalan layang karena ingin melihat Kota Bandung dengan lampu-lampu yang bercahaya indah. Kecepatan saya buat standar agar bisa menikmati perjalanan [FD pada angka 2 dan RD pada angka 5], kayuhan juga dibuat standar yang artinya tidak akan dipercepat maupun diperlambat. Kendaraan bermotor yang padat terus mengiringi meski saya sudah belok ke Antapani. Suasana lengang baru saya jumpai saat memasuki Jl. Ars Internasional hingga belok kanan memasuki Jl. Ahmad Yani ke arah Cicaheum. Saat siang, Jl. Ahmad Yani boleh dibilang padat tetapi tidak kendati jam belum jauh beranjak dari maghrib. Suasana sepi dan gelap sangat terasa saat melewati Bank Perkreditan Rakyat yang tidak ada lampu.

Saya pun berbelok ke kiri memasuki Jl. Suci saat sampai pertigaan sebelum Terminal Cicaheum. Dari sinilah saya menemukan kembali lalu lintas yang padat. Surapati Core yang baru saya lihat terlihat gelap kendati samar-samar terlihat megah. Beberapa orang mungkin sedikit heran melihat saya, tetapi biarlah, toh saya menikmati perjalanan sendiri ini. Tadinya saya mencoba memindahkan RD ke angka 4 atau 3, tetapi karena merasa tidak nyaman akhirnya saya pindahkan kembali ke angka 5. Setelah melewati perempatan Pahlawan dan memasuki Jl. Surapati, saya terkejut karena ada yang menegur dari arah belakang. “Alus euy helmna,” ujar suara itu yang ternyata adalah polisi patroli bermobil. Saya pun hanya tersenyum kepada mereka berdua. Luar biasa!

Sekadar intermezzo: Health Promotion Journal of Australia mengeluarkan tulisan berdasarkan penelitian di Sydney pada 2004 tentang paparan polusi terhadap seluruh pemakai jalan. Ada lima zat polutan yang diperiksa, yaitu benzene, toluene, ethylbenzene, xylene, dan nitrogen dioxide (BTEXN). Penelitian itu menghasilkan kesimpulan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, yaitu bahwa para pengendara motor ternyata terpapar empat zat polutan (kecuali nitrogen dioxide) tertinggi, sedangkan pesepeda hanya terpapar benzene sedikit lebih rendah daripada pengendara mobil.

Dr. Chris Rissel dari the Central Sydney Area Health Service yang merupakan salah satu dari peneliti tersebut menerangkan, “There are two competing explanations for our findings: the tunnel effect, where everybody is travelling in the same polluted corridors, and the leaking of the exhaust and fuel systems into vehicles.” Jadi, saat pesepeda mengambil jalur lalu lintas yang lengang sementara mereka tidak menghasilkan polusi (kecuali bau keringat tentu saja), para pengendara kendaraan bermotor menghirup polusi dua kali lipat, yaitu dari kendaraan bermotor di sekeliling mereka dan kendaraan mereka sendiri. Tingginya kadar benzene yang dihirup oleh pengendara kendaraan bermotor adalah karena sistem bahan bakar kendaraan yang mereka pakai.

Menjelang Gasibu, saya belok kanan memasuki Jl. Merak dimana terdapat Space 59 [C59], lalu belok kiri melewati Gedung Telkom hingga akhirnya memasuki jalan (yang sangat) gelap ke arah Monumen Perjuangan. Kegelapan ini rupanya dimanfaatkan oleh beberapa pasangan yang mojok. Mudah-mudahan saja mereka pasangan yang sah alias sudah diikat pernikahan. Wallahu’alam. Setelah melewati gang kecil yang diapit oleh pedagang kaki lima dengan sedikit ‘action’, saya memasuki Jl. Dipati Ukur yang juga padat ke arah Simpang Dago. Baik kafe maupun toko di kiri-kanan jalan lumayan dipenuhi para pengunjung. Beberapa penumpang angkot maupun mobil pribadi melihat saya, di antara mereka pun terlibat pembicaraan yang entah apa. Bisa jadi mereka mengatakan, “Kayaknya asyik ya sepedaan malam-malam.”

Setelah sampai di Simpang, saya pun berbelok ke kiri memasuki Jl. Ir. H. Djuanda. Setelah sedikit lelah menanjak, tidak ada salahnya beristirahat sambil menikmati turunan yang mengasyikkan. Lalu lintas lumayan padat merayap ke arah utara, tetapi tidak terlalu untuk arah selatan. Sambil berdiri dan bergaya, saya pun menikmati turunan panjang hingga di depan Plaza Dago. Barulah kepadatan lalu lintas mulai terasa setelah Aquarius Dago hingga membuat saya terpaksa melewati jalur pedestrian. Inilah saatnya saya menunjukkan kebolehan saya ber-bunny hop saat menghadapi trotoar yang rendah maupun yang tinggi. Saya yakin orang-orang yang melihat saya merasa “jealous” dengan kebisaan dan kecepatan saya … hehehe … hingga cepat sampai ke perempatan Merdeka. Suasana padat sangat terasa di Jl. Merdeka, terutama di depan Gramedia dan BIP, hingga saya pun harus selalu zig-zag memasuki daerah-daerah yang bisa dilewati sepeda. Suasana kembali lowong saat melewati Balai Kota yang gelap, hingga saya berbelok ke kanan pas di depan Polwiltabes memasuki Jl. Wastukencana.

“Weisss, bike to work,” ujar salah satu dari dua gadis berkerudung di daerah Masjid Al-Ukhuwah yang kebetulan melihat saya. Sekali lagi ada perasaan luar biasa di hati saya. Tatapan kekaguman atau keheranan orang-orang yang melihat saya bersepeda malam itu saja sudah membuat kepuasan tersendiri, apalagi mereka yang mau berkomentar dan terdengar oleh saya. Saya pun kemudian berbelok ke kiri memasuki Jl. Padjadjaran dan langsung mengambil jalur kanan karena langsung belok kanan memasuki Jl. Cihampelas. Selepasnya, saya belok ke kiri memasuki Jl. Abdul Rivai, lalu berputar dan memasuki Jl. Cipaganti yang lumayan gelap. Lalu lintas di jalan ini memang tidak terlalu padat, tetapi saat melewati Iga Bakar Si Jangkung, suasana kembali padat. Medan di sini lumayan berat karena jalan makin menanjak, apalagi di bundaran depan restoran fast food memasuki Jl. Setiabudi sehingga memaksa saya memainkan RD secara bertahap sampai ke angka 1. Setelah 100 meter, barulah saya bisa bertahap memindahkan RD kembali ke angka 5.

Melanjutkan intermezzo: Penelitian di Eropa pada 1995 menemukan bahwa meskipun para pesepeda menghirup dua atau tiga kali lebih banyak daripada para pengendara kendaraan bermotor, ternyata tidak membuat mereka harus menghirup polusi lebih banyak. Dr. Jan Garrard, seorang ahli kesehatan dari Victoria, Inggris, mengemukakan bahwa aktivitas yang rutin dari para pesepeda itulah penyebabnya. “Aktivitas fisik secara teratur akan meningkatkan sistem imunitas tubuh, sehingga orang yang sehat (dalam hal ini adalah para pesepeda) akan memiliki sistem kekebalan tubuh lebih besar.” Kemudian, akan sangat wajar apabila para peneliti di Sydney menganjurkan, “Orang yang bekerja pada jam-jam lalu lintas yang sibuk seharusnya menggunakan kendaraan alternatif selain kendaraan bermotor untuk mengurangi masuknya paparan polusi udara ke dalam tubuh, sekaligus mengurangi jumlah polusi karena mengistirahatkan kendaraan bermotor mereka.”

Factory Outlet di daerah ini sangat padat pengunjung yang rata-rata dipenuhi oleh mobil ber-letter B. Setelah Gampong Aceh, saya pun belok kiri memasuki Jl. Sukawangi dan kembali belok kiri menuruni Jl. Sukajadi. Sempat saya bertemu dengan biker lain saat berhenti di perempatan Jl. Cemara namun tidak saya kenal. Ting-ting-ting, sambut saya dengan membunyikan bel. Suasana kembali sangat padat menjelang Mal Paris Van Java hingga RS Hasan Sadikin. Beberapa kali saya harus memainkan rem, padahal turunan begitu asyik. Rencananya sih saya ingin melewati Ciroyom, tetapi tidak jadi karena tangan saya malah berbelok ke kiri memasuki Jl. Pasteur. Sepeda saya arahkan kembali ke kanan memasuki Jl. Cihampelas. Turun dengan kekuatan penuh tanpa digowes, saya pun langsung belok ke kiri memasuki Jl. Wastukencana hingga melewati Pasar Kembang. Tenaga sedikit dipaksakan saat menanjak memasuki Jl. RE. Martadinata (Riau) hingga perempatan Jl. Merdeka. Setelah lurus sedikit, saya berbelok ke jalan belakang BIP. Di sanalah saya bertemu biker lain, yaitu Kalis, sambil memberi hormat. Perjalanan saya lanjutkan lurus memasuki Jl. Sumatera (memaksa berlawanan arah yang seharusnya tidak boleh demi menjaga ketertiban lalu lintas).

Setelah melewati Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution, lalu lintas mulai sepi. Sepi banget hingga memaksa saya melihat ke HP dan ternyata sudah pukul 20.30. Setelah melewati Patung Ajat Sudrajat, saya pun memasuki Jl. Lembong. Awalnya saya berniat berbelok ke arah Alun-alun, namun entah mengapa saya lupa dan malah terus memasuki Jl. Lengkong Besar. Setelah Atmosphere, saya belok kiri memasuki Jl. Cikawao. Setelah perempatan Jl. Karapitan, saya belok kiri lagi memasuki Jl. Sadakeling. Saya menggowes terus saat bertemu perempatan dan memasuki Jl. Talaga Bodas. Sampai jalan ini habis, saya pun berbelok ke arah kiri memasuki Jl. Pelajar Pejuang sehingga bisa menikmati sedikit keramaian kendaraan bermotor. Sampai di perempatan Jl. Laswi, saya belok kanan memasuki Jl. Gatot Soebroto. Ya, karena sudah mendekati larut malam, suasana lalu lintas tidak terlalu ramai bahkan di depan BSM sekalipun. Barulah di minimarket dekat PT Pindad saya berhenti untuk membeli minuman penyegar guna membasahi kerongkongan. Alhamdulillah, saya pun kembali ke rumah dengan selamat pas pukul 21.00 (berarti saya telah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2,5-3 jam nonstop tanpa minum).

Intermezzo terakhir: Polusi udara sudah barang tentu tidak dapat dihindarkan dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Tidak pernah ada yang tahu kapan kita menghirup sesuatu yang sangat berbahaya, apakah itu berbau tidak enak, harum, atau bahkan mungkin tidak berbau. Ada hubungan yang signifikan antara transportasi dengan kesehatan karena polusi yang dihasilkan alat transportasi lambat laun akan menyebabkan penyakit pernafasan. Kita sendirilah yang menentukan mana yang terbaik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan. Apakah memulai dengan bersepeda (kendati hanya sendiri) atau tetap dengan kendaraan yang menghasilkan polusi udara?

So … adakah sobat baraya yang tahu berapa kilometer perjalanan yang telah saya tempuh itu? Saya pun berharap bisa keliling Bandung lagi tetapi dengan jalur yang berbeda. Semoga….[]

Advertisements

9 thoughts on “Catatan H+1 Malam Tahun Baru 2009

  1. >> BO : Sebenarnya sudah dicatat setelah bersepeda, namun baru bisa diposting kali ini ^_^
    >> Q11901 : Amiiin.
    >> rizal : Memang sengaja dihapal karena itulah enaknya bersepeda hehehe….
    >> Ade : Kan, tinggal beli, De….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s