Semua Penulis [Akan] Mati

Semua penulis akan mati.
Hanya karyanyalah yang akan abadi.
Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan
dirimu di akhirat nanti.
(Ali bin Abi Thalib)

Saya pernah berdiskusi dengan Kang Irfan (dosen sastra Unpad dan ketua umum FLP) di rumahnya tentang konsep profesi penulis yang seolah-olah selalu dipertanyakan, baik itu oleh pelaku yang sudah berkecimpung dalam dunia kepenulisan atau oleh masyarakat umum.

Menurut wikipedia versi Indonesia, penulis adalah sebutan bagi orang-orang yang menulis atau menciptakan suatu karya tulis. Karya tulis bisa dalam bentuk karya tulis ilmiah, makalah, buku, artikel, opini, atau sastra (termasuk prosa dan puisi). Media penulisan pun bisa beraneka seperti buku, majalah, koran, atau internet. Orang yang pekerjaan utamanya menulis maka biasanya disebut sebagai penulis. Sedangkan penulis sebagai kegiatan sampingan atau sub dari pekerjaan utama, boleh disebut sebagai penulis juga.

Pada umumnya seorang penulis harus memiliki tiga keterampilan dasar. Pertama adalah keterampilan berbahasa dalam merekam bentuk lisan ke tulisan, termasuk di dalamnya adalah menggunakan ejaan, tanda baca, dan pemilihan kata. Kedua adalah keterampilan penyajian, termasuk di dalamnya adalah pengembangan paragraf, merinci pokok bahasa menjadi sub bahasan pokok, dan susunan secara sistematis. Ketiga adalah keterampilah perwajahan, termasuk di dalamnya pengaturan tipografi seperti penyusunan format, jenis huruf, kertas, tabel, dan lain sebagainya.

Menilik sejarah, profesi penulis boleh dibilang tidak ada, artinya penulis bukanlah pekerjaan utama melainkan sebagai pekerjaan sampingan dimana pelakunya sudah memiliki pekerjaan utama, misalnya sebagai dokter, ahli dakwah, dll. Akan tetapi, berdasarkan perkembangan zaman, kini penulis bagi beberapa orang telah menjadi profesi utama. Sebut saja penulis skenario, penulis fiksi, penulis buku-buku pelajaran, penulis buku-buku proyek, bahkan sampai penulis spesialis lomba/sayembara. Wallahu’alam, di luar konteks pro dan kontra tentang profesi penulis, yang jelas profesi penulis tetap sama dengan profesi lainnya yang mengutamakan kerja profesional. Kalau memang sudah terjun total sebagai seorang penulis, tidak ada alasan baginya untuk tidak menulis. Sama halnya tidak ada alasan baginya untuk tidak membaca karena bagaimanapun kerja menulis tidak dapat dipisahkan dari membaca.

Ada satu tolok ukur yang tidak boleh diabaikan tentang profesi penulis, yaitu adanya pembaca yang secara tidak langsung akan mengikuti apa yang disampaikan (secara tersirat atau tersurat) dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang harus diperhatikan secara serius oleh penulis. Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan anggapan bahwa penulis [baca: pengarang] telah mati setelah karyanya selesai. Maksud dari konteks ini adalah adanya tanggung jawab moral seorang penulis setelah karyanya menjadi santapan umum di kemudian hari. Bolehlah sekuler menilai keindahan sebagai ‘freedom of expression’, namun Islam menilai keindahan sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran (A. Teeuw). Inilah yang menjadi titik tekan mengapa saya lebih memilih menulis yang bermanfaat bagi masyarakat umum (dakwah bil qalam). Tidak ada maksud lain bahwa menulis adalah cara lain untuk memburu pahala, termasuk mengalirnya amalan kebaikan kendati sang penulis telah tiada. Saya tidak menutup mata kalau rezeki menulis juga turut mengikuti. Bisa jadi inilah bonus lain yang sudah disediakan Sang Maha untuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas.

Al Zabidi mengatakan bahwa sastra atau ‘al adab adalah sesuatu yang diaplikasikan oleh sastrawan untuk membantu memperbaiki manusia. Ia membimbing manusia ke arah sifat-sifat terpuji dan menghindari sifat-sifat keji. Jadi, sudahkah kita menulis untuk kebaikan bersama?[]

Advertisements

20 thoughts on “Semua Penulis [Akan] Mati

  1. selain mmg sdh bakat, penulis itu bisa diciptakan. dengan latihan yg terus menerus, insya allah akan berhasil. penulis tiada berarti tanpa pembaca, krn pembacalah yg akan menilai seberapa berkualitasnya tulisan kita, atau seberapa bermanfaatkan bagi pembaca.
    blog, salah satu sarana itu. sebenernya, nulis itu sesuai saja dengan keinginan, ide dan gagasan nggak perlu dibatas2i.
    saya lg melakukan survey kecil2n..kira2 tulisan yg dapat bentuk bgmn yg disukai oleh pembaca saya.

  2. Menulis perlu latihan.
    Bakat juga menentukan, tapi berdasar pemahaman dan pengalaman saya, masing2 orang bisa menulis. Mengapa kalau di perusahaan, orang dilatih menulis, membuat analisa, proposal, makalah, mempresentasikan dan meyakinkan atasan atau klien bahwa tulisannya layak dijual atau barang yang dipasarkannya memang kualified.

    Tapi menulis dalam hal terkait dengan bisnis, mungkin beda dengan menulis untuk cerita, novel atau sastra. Namun semua punya porsi masing-masing…jadi mau tak mau siapapun hendaknya bisa menulis….

  3. penulis tidak akan mati. penulis akan selalu hidup, selama dia bisa berpikir, dan sanggup menuangkan apa yg dipikirannya ke dalam tuliasan.

  4. Karena sadar suatu saat akan mati, makanya saya mulai belajar menulis.

    Belajar pada teman-teman blogger sambil blogwalking.

    Selamat sore.

  5. Membaca. Betul banget Bang. Dan sulit ternyata menduakan profesi menulis dengan pekerjaan lainnya. Waktu untuk membaca, riset, dll yang diperlukan dalam penulisan sebuah buku sedikit dikalahkan dengan rutinitas pekerjaan. Dan itu menyebalkan.

  6. Assalamu’alaikum kak, terimakasih telah mengingatkan kembali, insyaAllah akan berusaha terus menulis demi kebaikan bersama, dan bukan sebaliknya ^_^

  7. saya belum merasa bisa banyak berbagi untuk sesama, berhubung pengetahuan dan pengalaman yang masih ala kadarnya. Jadi menulis di blogpun masih seadanya juga Bang Aswi

  8. >> guskar : setuju banget!
    >> edratna : setuju juga dengan pendapat ini!
    >> dKazuma : setuju lagee ….
    >> Puspita : Tidak ada kata terlambat.
    >> enggar : teruslah belajar dan bersemangat, Mbak.
    >> Julie : makasih….
    >> uni : wa’alaikumsalam, saling mengingatkan, uni.
    >> mascayo : sikap ini jauh lebih utama daripada merasa bangga sudah melakukannya.

  9. Aku cuma belum pernah liat ada penulis yang menuliskan profesinya di KTP. Menurut Bang Aswi, mereka enggak mau atau memang belum ‘disahkan’ ya?

  10. Saya teringat waktu SD dulu, ketika saya merasa ‘paling anti’ dengan yang namanya mengarang. Namun kini saya rasakan betapa bahagianya apabila tulisan saya begitu dihargai orang lain.

  11. >> Pritha : Itu memang belum ada, tetapi wajar kok, karena profesi lainnya juga kadang-kadang ditulis dengan ‘wiraswasta’. Apakah seorang polisi menuliskan profesinya dengan kata polisi?
    >> Q11901 : Hidup memang penuh pembaruan yang menakjubkan. Bukan begitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s