Ditolak? Lalu Menyerah Begitu Saja!

Bagi beberapa orang, menulis bisa jadi merupakan profesi yang menjanjikan. Akan tetapi, sebagaimana yang saya alami, jalan menjadi seorang penulis tidak sekadar sim salabim. Prosesnya begitu rumit, melelahkan, dan bisa jadi di antara sobat-sobat baraya harus berhenti di tengah jalan alias menyerah. Ya, apalagi kalau sudah berhadapan dengan istilah ‘ditolak’.

Penolakan adalah salah satu bagian dari kehidupan seorang penulis. Siapapun yang ingin menjadi penulis perlu belajar untuk menghadapi penolakan. Semangat yang menggebu-gebu seorang penulis pemula karena mendengar cerita indah dari sang mentor yang sudah menjadi penulis beken dalam suatu pelatihan, pada akhirnya meredup ketika beberapa kali hasil karyanya ditolak untuk dimuat di media massa atau penerbit. Itu masih mending karena ada pula yang langsung mati kutu setelah ditolak untuk pertama kalinya.

Saya tidak akan memberikan cerita panjang lebar tentang bagaimana seharusnya reaksi sobat-sobat baraya saat naskahnya yang dianggap bagus ternyata ditolak. Nah, makanya harus rajin meminta pendapat orang lain apakah naskah sobat-sobat baraya memang bagus atau tidak. Akan tetapi, saya hanya memberikan wejangan singkat yang maknanya bisa sobat-sobat baraya dalami sendiri. Setuju!

Ada tiga cara yang bisa sobat-sobat baraya lakukan ketika hasil karya sobat-sobat baraya ditolak, yaitu:

  • Menertawakan penolakan itu.
  • Belajar dari penolakan itu.
  • Kembali membuat karya baru.

It’s a simple life, Bro-Sist! Dunia ini begitu luas untuk dijelajahi sehingga jangan terpaku dengan hal-hal yang sempit. Media massa sangat banyak, dari yang berskala lokal, nasional, bahkan sampai internasional. Begitu pula ada banyak penerbit yang mengharapkan naskah-naskah sobat baraya. Jika sobat baraya ikut dalam salah satu milis kepenulisan, berapa banyak penerbit yang meminta naskah? Bisa sampai dua penerbit dalam satu minggu! Itu saja baru satu milis.

Novel-novel yang akhirnya meledak di pasaran dan berakhir sebagai bestseller pun seringkali mengalami banyak penolakan. Sobat-sobat baraya dapat belajar dari sejarah mereka dan pada akhirnya memperlakukan penolakan sebagai hal yang biasa saja. Di antara mereka adalah:

  • Dune karya Frank Herbert – 13 penolakan.
  • Harry Potter and the Philosopher’s Stone karya JK. Rowling – 14 penolakan.
  • Auntie Mame karya Patrick Dennis – 17 penolakan.
  • Jonathan Livingston Seagull – 18 penolakan.
  • A Wrinkle in Time karya Madeline L’Engle – 29 penolakan.
  • Carrie karya Stephen King – lebih dari 30 penolakan.
  • Gone with the Wind karya Margaret Mitchell – 38 penolakan.
  • A Time to Kill karya John Grisham – 45 penolakan.

Tidak hanya itu, di bawah ini adalah daftar penolakan yang pernah dialami oleh para penulis-penulis hebat sebelum karya pertama mereka terpublikasikan.

  • Louis L’Amour, penulis lebih dari 100 novel – mendapatkan lebih dari 300 penolakan sebelum mempublikasikan buku pertamanya.
  • John Creasy, penulis 564 novel misteri – 743 penolakan sebelum mempublikasikan buku pertamanya.
  • Ray Bradbury, penulis lebih dari 100 novel dan cerita science fiction – mendapatkan sekitar 800 penolakan sebelum menjual cerita pertamananya.
  • The Tale of Peter Rabbit karya Beatrix Potter – ditolak oleh semua penerbit sehingga dia memutuskan untuk menerbitkan sendiri karyanya.

Kalau mau contoh yang lokal, tanyakan sendiri deh ke penulisnya melalui blog-blog mereka. Sekadar tambahan saja, setahu saya (mohon maaf kalau salah dan tolong dikritisi), Dee pun yang melejit lewat Supernova-nya pun ditolak oleh banyak penerbit sehingga ‘terpaksa’ menerbitkan sendiri.

Jadi, mengapa harus berhenti berkarya kalau baru ditolak sepuluh atau tiga puluh kali? Saya pun sering ditolak bahkan oleh media yang juga sering memuat karya saya atau oleh penerbit dimana dulu saya bernaung. Yuk, menulis lagi….[]

Advertisements

25 thoughts on “Ditolak? Lalu Menyerah Begitu Saja!

  1. Betul Bang. Dah terbiasa ditolak :). Pertama mungkin sedih, kedua dstnya sudah nggak aku pikirkan lagi. Yang penting mencoba dan jangan menyerah.

  2. wah setuju pisan ini…
    etapi saya lom pernah nawarin tulisan saya. tapi skarang si emang jd freelance. lagi pengen bikin buku juga, cuma bingung apa yg mo diceritain :))

  3. Jadikan penolakan sebagai energi baru, mengubahnya memang sulit, manusiawi sekali kalau kecewa namun kembali kita harus mau belajar pada ahlinya …. ahlinya ditolak, termasuk kepada keempat tokoh dunia yang bang Aswi rujuk.

    Terima kasih infonya Bang. Selamat berjuang.

  4. Allah emang mau menguji seberapa sabar ama tawakkal hamba-Nya lewat penolakan2 tsb.
    asal klo ditolak, jangan dukun yg bertindak aja, bung aswi 😀

  5. >> dKazuma : Sok atuh dikirimkan. Kalau masalah bingung, kok bisa ngeblog? Berarti banyak kan yang bisa ditulis.
    >> Puspita : Sama-sama, Mbak. Kita harus banyak belajar dari mereka yang gagal namun kemudian berhasil.
    >> zee : Pengalaman yang menarik kan?
    >> toim : Ah, itu mah yang pikirannnya pendek aja, nggak ada orang lain kecuali si Mbah Dukun ^_^
    >> afwan : Betul itu….

  6. saya juga punya hobi menulis, tapi belum bisa memisah atau membagi waktu kapan waktunya menulis dan kapan waktunya ngedesain. ada saran bang? boleh dunk di balas di blog saya saja

  7. >> antown : Yang penting keduanya harus seimbang, tetapi bila salah satu menjadi yang dominan (misal desain), berarti memang desain yang dominan diantara keduanya.

  8. Wah sebagai manusia kita memang seharusnya begitu. Tapi terkadang kalau lagi sendirian, diterpa perasaan macam2, perasaan2 down suka muncul lagi.

    Pengalaman2 orang2 di atas memang bisa jadi pelajaran

  9. maju trus mas, saya ingin belajar dari mas, apalagi saya baru belajar menulis,,
    minta kita , kiatnya, dna saya ingin ikut bergabung,..
    yuki

  10. Aduh, baca ini jdi terharu, tapi saya ga punya mentor tuh bang, gimana ath? Salam kenal ya Bang Aswi. Cita-cita saya itu jdi penulis ma pengarang komik. Tapi sampai sekarang nih gagal mulu gawenya… 😛

    Belajar aja deh dari sini dulu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s