Menulis dengan Ikhlas

Karakteristik seorang hamba pada saat beribadah kepada Tuhannya–menurut sebuah hadits–terbagi menjadi tiga kelompok. Agar tidak salah paham, perlu diketahui bahwa ketiga kelompok ini masih tergolong baik alias tidak menyerempet ke arah yang dilarang oleh agama, yang membedakan hanyalah kadar keimanannya.

Kelompok pertama adalah para pedagang. Mereka beribadah mengikuti tata cara berdagang, yaitu mencari keuntungan. Keuntungan yang dimaksud di sini tentu saja pahala. Kelompok kedua adalah para penakut. Mereka beribadah karena takut apabila mereka termasuk golongan yang akan dimasukkan ke dalam api neraka. Sedangkan kelompok yang terakhir adalah para pencinta, yang biasa disebut pula dengan para kekasih. Mereka beribadah tidak mengharapkan apa-apa alias ikhlas. Mereka tidak peduli apakah ibadahnya mendapatkan pahala atau ibadahnya akan menjauhkan mereka dari siksa api neraka, yang penting mereka bisa dekat dengan Sang Kekasih. Kecintaan pada Allah-lah yang meleburkan semuanya menjadi tak bermakna.

Seseorang yang benar-benar jatuh cinta pasti akan mencintai apa yang dicintai kekasihnya dan juga akan membenci apa yang dibenci oleh kekasihnya. Orang ini pun juga ikhlas apabila diminta oleh kekasihnya melakukan sesuatu yang membuatnya sengsara, asalkan sang kekasih merasa senang dan bahagia. Oleh karena itulah mereka berusaha menaati perintah Allah, menjauhi semua perbuatan yang dilarang-Nya, dan berusaha mematuhi segala apa yang diminta-Nya kendati hal itu akan membahayakan fisik dan jiwanya.

Tak berbeda jauh dengan masalah ibadah, menulis pun juga mengenal ketiga karakteristik itu. Ada orang yang menulis karena keuntungan semata, yaitu materi. Ada orang yang menulis karena keterpaksaan agar ekonominya terpenuhi sehingga tidak jatuh miskin. Dan ada pula yang menulis karena ikhlas. Orang inilah yang menulis benar-benar tidak mengharapkan apa-apa kecuali ingin mencurahkan segala gagasannya dalam bentuk tulisan. Ia menulis karena ia sangat mencintai kegiatan menulis, dan dengan menulis ia bisa menyuarakan kebenaran, memuaskan diri, mencatat hal-hal penting, melepaskan emosi, menunjukkan eksistensinya, dan menyebarkannya–ataupun hanya disimpannya sendiri.

Richard North Patterson di Writer’s Digest pernah memberi saran, “Menulislah terus-menerus, dalam skedul disiplin yang sesuai dengan hidup Anda. Jika bisa mengusahakan menulis bagus lima halaman per minggu, di akhir tahun Anda akan punya 250 halaman. Itu cukup bagus buat seorang penulis.” Halaman setebal itu tentu bisa menampung cukup banyak kisah, penjelajahan, atau argumen—meski harus diakui tidak berarti menulis selinear itu.

Ya, apapun tujuan seseorang dalam menulis, ia patut diapresiasikan dengan baik. Apakah ia menulis karena mengharapkan imbalan materi, apakah ia menulis karena takut tidak dapat menghidupi keluarganya, atau apakah ia menulis karena benar-benar ikhlas. Yang jelas, menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya dan inilah yang terpenting. Anwar Holid pernah mengatakan bahwa tulisan bergantung pada cara pandang penulis terhadap dunia; tulisan adalah wujud pandangan terhadap kompleksitas hidup. Pembaca boleh berharap apa pun pada sebuah tulisan, sebab metodenya pun tak terbatas sekaligus bisa dijelaskan, dikritisi, memiliki model, motif, dan bisa ditelusuri. Bisa jadi ia memuaskan dahaga rasa ingin tahu. Mewakili sebagian hasrat pada sesuatu, memberi opini dan informasi, penekanan, alternatif, dan juga sudut padang.

Sangat mudah mencirikan tulisan yang ikhlas, sama mudahnya kita menilai seseorang beribadah dengan sangat ikhlas. Orang yang ibadahnya ikhlas akan terlihat dari kesehariannya, orang yang dakwahnya ikhlas akan terasa pada materi dakwah yang disampaikannya, orang yang sedekahnya ikhlas akan terasa pada cara penggunaannya yang berkah. Tulisan yang ikhlas akan terasa dekat dengan pembaca sehingga tak berjarak seakan-akan itulah kehidupannya yang sebenarnya, tak merasa didikte, tak merasa digurui; mengalir begitu saja. Pembaca merasa itulah tulisannya sendiri karena tulisan yang ikhlas telah melekat erat pada dirinya; melebur dalam jiwanya dan kemudian membuatnya menjadi tersadarkan. Entah saat itu atau mungkin nanti.[]

Advertisements

9 thoughts on “Menulis dengan Ikhlas

  1. ibadah maupun tulisan yang dikerjakan dengan ikhlas akan sangat terasa oleh orang yang ada di sekitarnya. aura keikhlasan itu tidak bisa dimanipulasi, akan benar-benar terasa jiwa yang mengitarinya… 😀

    >> amiiin….

  2. menulis dengan iklas ? Hmmm…bunda gak bisa menilai diri sendiri…iklas apa tidak ya ?.
    yang jelas,itulah yang Bunda alami,tanpa bermaksud sombong ,menggurui..dll.
    lha wong tulisane mung cerita aja kok…mengalir begitu saja,tanpa di buat buat..malah sulit ya kalau dibuat buat..he..he..he..

    >> Justru yang mengalir itulah yang lebih ikhlas, bunda.

  3. Untung saya yang termasuk ikhlas bang, senang saja orang terbantu atau berubah oleh info yang saya sampaikan termasuk misi blog saya yang mengajak orang untuk mencari peruntungan hidup yang lebih baik di negeri seberang

    >> amin, semoga keberkahan selalu mengalir, mas.

  4. Assalamu’aliakum kak, moga2 uni menulis karna ikhlas ^_^,
    btw met puasa kak, maafin uni ya
    moga kita semua semakin jd pribadi yang bermanfaat dan semakin dikasihi Sang Maha Pengasih, amiiin

    >> wa’alaikumsalam. met puasa juga, mohon maaf lahir dan batin.

  5. hadiirrr…..
    siang siang memanfaatkan waktu luang mengunjungi sahabat…, siapa tahu ada pelangi baru yang dapat mencerahkan hariku….

    betuulll…. lakukanlah segala sesuatunya dengan ikhlas… sekecil apapun itu, ikhlas berarti melakukannya dengan hati… en engkau akan terkejut dengan hasilnya nanti…
    makasih udah diingatkan ya… nice postingan

    cu…

    >> terima kasih sudah hadir di siang yang amat terik ini ^_^

  6. Kalo Bang Aswi sendiri udah merasa ikhlas belom?

    🙂

    Klo aku pengen dapet duit dari nulis berarti aku ga ikhlas ya?
    *udah tau nanya*
    Hehe

    >> semua selalu ada prosesnya ^_^ yang jelas, saya berusaha ikhlas, kalau ternyata saya mendapatkan sesuatu (duit) dari sana berarti itu buah dari keikhlasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s