Mawar untuk Soedirman

cov01—-Bunga itu layu. Bunga mawar yang tumbuh di sudut jalan terlihat memucat. Kelopak-kelopaknya sudah ada yang berguguran, sebagian yang lain bertahan lunglai. Warna hijau pada daun juga semakin gelap dan kering. Ketika kusentuh batangnya, pun terasa rapuh. Pohon ini sekarat! Aku menurunkan tubuhku dan berjongkok di depannya dengan mata tak berkedip, ikut sedih.
—-“Ono opo to, Nduk?” sebuah suara halus menyentuhku. Suara khas Bapak.
—-Tanpa menoleh aku menunjuk mawar itu.
—-“Waduh …, maware wis arep mati, Nduk!” Bapak ikut berjongkok.
—-Aku terus memandangi mawar itu.
—-Tangan Bapak merengkuh pundakku. “Ragil suka?”
—-Aku menoleh ke arah Bapak. Kemudian mengangguk.
—-Bapak tersenyum. “Yo wis, mawarnya kita bawa ke rumah ya! Siapa tahu bisa segar lagi dan menghiasi pekarangan rumah kita.”
—- Mataku berbinar kegirangan.
—- Kemudian dengan cekatan, tangan hitam Bapak mulai mengorek tanah di sekitar pohon mawar itu hingga akhirnya mawar yang hampir mati ini sudah berada di tangannya. “Nah, sekarang kita pulang yuk! Biar mawarnya ora mati.”
—- Aku meloncat-loncat dan bertepuk tangan. Bapak pun menggandeng tanganku yang kecil. Beriringan berjalan pulang.
—- Sepanjang perjalanan, hatiku bersenandung riang. Tampaknya mawar itu tersenyum padaku. Kadang-kadang aku mencoba bergelayutan di tangan Bapak yang kekar. Bapak pun meladeninya. Sungguh, hatiku saat ini seindah bunga. Dan aku berharap mawar itu juga seindah hatiku nantinya. Tiba di pekarangan rumah kami, Bapak berhenti sejenak. Matanya berkeliling memperhatikan pekarangan itu. Kemudian Bapak menyerahkan pohon mawar itu kepadaku. “Tunggu sebentar ya, Nduk.”
—- Aku mengangguk. Sementara itu Bapak langsung masuk ke dalam rumah. Aku membelai mawar itu dengan rasa sayang dan kasihan. Tidak beberapa lama kemudian Bapak sudah kembali sambil membawa sebilah golok. “Maware badhe ditandur neng ndi, Nduk?” tanya Bapak.
—- Aku menunjuk ke suatu tempat dekat pintu.
—- Bapak pun tersenyum mengangguk. Lalu kami menuju ke tempat itu dan berjongkok. Bapak mulai menggerakkan goloknya hingga membuat lubang di tanah. “Ragil …, tolong jiku no banyu yo?”
—- Aku mengangguk dan langsung berlari ke dalam rumah. Kuambil tempat air yang terbuat dari kayu di sudut dapur. Secara hati-hati aku mengambil air dari belanga dengan menggunakan batok kelapa. Setelah terisi setengahnya aku segera keluar. Saat kembali, Bapak sudah selesai menanam mawar itu dan memandang tersenyum kepadaku. Setelah tempat air yang kubawa berpindah tangan, Bapak mulai menyibakkan air dengan tangannya ke arah pohon mawar. Hati-hati sekali. Tak lama kemudian tanah di sekitar tempat pohon mawar itu ditanam telah basah, pun seluruh permukaan kulit mawar. Hatiku juga basah memandang mawar itu. Basah karena bahagia. Semoga mawar itu juga.
—- “Nah, Nduk! Sejak saat ini Ragil yang harus merawatnya ya. Setiap pagi dan sore, mawar ini harus dimandikan seperti tadi. Ojo lali loh, Nduk!”
—- Aku pun mengangguk senang.

—- “Kok melamun saja sih, Gil! Ono opo to, Nduk?” suara Ibu membuyarkan lamunanku. Namun aku masih diam saja dan terus menatap pohon mawar yang sudah segar itu dan banyak memekarkan bunganya. Lalu aku menoleh ke arah Ibu.
—- “Bapak pulangnya kapan sih, Mbok?” tanyaku kemudian.
—- Ibu mengernyitkan alisnya. Sambil mendekatiku, Ibu tersenyum kepadaku. “Kangen ya?” tanya Ibu.
—- Aku mengangguk.
—- Sementara itu tangannya yang halus mengelus rambutku. “Kalau sudah selesai tugasnya, nanti juga pulang.”
—- “Bapak bergerilya sama siapa sih, Mbok?”
—- “Sama Bapak Jenderal.”
—- “Jenderal siapa?”
—- “Jenderal Soedirman.”
—- “Sopo sih kuwi, Mbok?” tanyaku penasaran.
—- Ibu menengok ke kiri dan ke kanan. Lalu merangkul pundakku dan mengajakku masuk ke dalam rumah. “Kita ngobrol di dalam rumah saja, ya!”
—- “Bapak Jenderal adalah panglima besar yang dipunyai bangsa kita. Beliaulah yang berhasil mengusir penjajah Belanda di Ambarawa. Beliau pulalah yang berhasil mempersatukan tentara pemerintah dan laskar rakyat.” Ibu berhenti sejenak dan menarik nafas. Lalu Ibu mengelus rambutku lagi. “Setelah Belanda mengingkari isi Perjanjian Renville dengan menyerang kota kita, Bapak Jenderal langsung memerintahkan pasukannya untuk bergerilya. Bapak pun ikut karena Bapak isin dan bangga. Bapak malu karena Bapak Jenderal masih mau bergerilya dalam keadaan sakit parah. Dan Bapak bangga karena bisa menjadi anak buahnya walaupun hanya untuk menandu Bapak Jenderal.”
—- Aku mencoba memahami apa yang diceritakan Ibu.
—- “Ragil masih ingat kan pesan Bapak sebelum pergi?” tanya Ibu tiba-tiba.
—- “Merawat mawar itu dan jangan lupa sembahyang,” sahutku.
—- “Wis sembahyang Ashar durung?”
—- Aku menggelengkan kepala.
—- “Nah sekarang Ragil sembahyang dulu ya. Terus berdoa biar Bapak bisa pulang dengan selamat. Nanti kalau Bapak pulang, Ragil bisa memberi bunga mawar itu kepada Bapak.”
—- Aku mengangguk senang dan segera berlari ke belakang untuk mengambil air wudhu.

—- Yogyakarta lagi cerah. Burung-burung pagi masih bersahut-sahutan. Hembusan angin terasa menyejukkan dan membelai kulitku secara lembut membawa udara pagi yang juga terasa menyegarkan. Sinar matahari masih terasa hangat-hangat kuku menyentuh permukaan kulit, padahal sudah berjarak dua jengkal di atas kepala. Sementara aku sudah sibuk di kebun belakang bersama Ibu. Kami sedang berusaha mencabut beberapa pohon singkong yang sudah matang. Rencananya kami akan sarapan dengan singkong rebus. Nikmatnya.
—- Kami sudah berhasil mencabut dua batang pohon singkong. Namun tiba-tiba terdengar sebuah teriakan yang mengagetkan kami dari arah depan rumah. Suara Budhe Sri, tetangga sebelah rumah kami.
—- “MBAK YU…!!! MBAK YU…!!”
—- Kami segera bergegas ke luar rumah meninggalkan singkong-singkong yang sudah berhasil dicabut itu. Dan bertemu dengan Budhe Sri yang sedang berlari ke arah kami. Juga terlihat beberapa orang yang berlari-lari di jalan menuju ke arah kota.
—- “Ono opo to, Mbak yu?” tanya Ibu.
—- “Anu, Mbak yu…,” Budhe Sri menarik nafas sejenak. “Tentara kita sedang memasuki kota.”
—- “Yang benar, Mbak yu?” terlihat wajah Ibu yang terkejut.
—- “Benar kok! Tuh orang-orang pada berlarian ke arah kota,” sahut Budhe Sri. “Yo wis, aku duluan ya…” Budhe Sri langsung berlari ke arah jalan. Ibu terlihat bingung dan masih kaget. Aku juga begitu.
—- “Cepat, Nduk! Bapak pulang…” Ibu menarik lenganku dan ikut berlari.
—- “Mbok…, mawarnya!” seruku ingat. Ibu menoleh ke arahku.
—- “Yo wis, cepat Nduk!!”
—- Aku berlari kembali ke arah pohon mawar. Dan segera kuambil beberapa tangkai bunga mawar yang sudah mekar. Tentu saja yang paling terindah.
—- Di kota sudah banyak orang yang berkerumun. Di sepanjang jalan rakyat berjejal untuk menyambut tentara Indonesia yang sudah berbulan-bulan bergerilya.
—- Aku memegang erat tangan Ibu dan berusaha melihat ke arah datangnya tentara kebanggaan bangsa ini. Sebagian dari mereka sudah mulai berangkulan dengan keluarga yang sudah ditemuinya. Isak tangis merebak di mana-mana bercampur dengan tawa yang melukiskan kebahagiaan mereka. Sementara jantungku semakin berdebar kencang. Perasaan haru dan rindu pada Bapak semakin menggebu-gebu di hatiku. Ibu sekali-kali melihat ke arahku dan rombongan. Tampaknya suasana hati Ibu juga sama denganku. Semakin erat pula aku menggenggam tangan Ibu dan beberapa tangkai mawar ini.
—- Kulihat tandu yang membawa Bapak Jenderal telah melewati kami. Aku terharu melihat penampilannya yang pucat dan kurus, namun masih berusaha tersenyum dan melambaikan tangannya. Rombongan hampir habis, tetapi belum kulihat Bapak. Aku semakin gundah dan peganganku pada Ibu semakin erat. Mawar-mawar yang kubawa juga semakin kudekapkan di dadaku.
—- “Mbak yu…!”
—- Kami menoleh ke arah seorang laki-laki sebaya Bapak yang juga anggota rombongan. Kami mengenalnya sebagai teman Bapak, Pak Le Tarno.
—- “Maaf, Mbak yu…! Mas Wagino sudah gugur sebagai pejuang sejati,” sahut Pak Le Tarno.
—- Bagai suara petir yang menggelegar, berita itu terdengar menyakitkan. —- Mawar-mawar yang kupegang tanpa disadari telah berjatuhan. Ibu memandang ke arahku dan memelukku dengan erat. Ibu menangis sesenggukan, sementara aku bingung harus berbuat apa meski juga ikut-ikutan berurai air mata.
—- Saat Pak Le Tarno hendak meninggalkan kami, aku tersadar. “Pak Le…!” teriakku.
—- Pak Le Tarno menghentikan langkah dan membalikkan badannya.
—- Ibu memandangku dan melonggarkan rangkulannya.
—- Aku segera memunguti mawar yang sudah berjatuhan dan berlari ke arah Pak Le Tarno. “Tolong berikan mawar ini kepada Bapak Jenderal…,” ujarku tersendu.
—- Pak Le Tarno mengangguk.
—- Mataku masih berembun memandang Pak Le Tarno yang sudah agak menjauh.

—-“Ragil mandinya sehari berapa kali?” tanya Bapak.
—- “Dua kali,” jawabku senang.
—- “Nah, mawar ini juga harus mandi dua kali. Podho karo Ragil, ya!”
—- Aku mengangguk kegirangan.
—- “Nanti kalau sudah berbunga banyak dan bermekaran, rumah kita yang sederhana ini akan terlihat indah dan menarik. Sehingga suasana keluarga kita bertambah semerbak.” Bapak tertawa dan mengelus-elus rambutku.
—- Bayangan akan Bapak terus membekas di pikiranku. Aku terus memandangi kebun mawar yang sudah hampir memenuhi pekarangan rumah. Kemudian beralih ke beberapa tangkai mawar yang sedang kupegang. Kusentuh beberapa kelopaknya yang merona.
—- “Nduk! Bapak harus berangkat. Selama bangsa kita belum diakui merdeka, Bapak akan terus ikut bergerilya. Nanti kalau sudah selesai, Bapak janji akan membuat kebun mawar. Tetapi, Ragil kudhu gelem bantu Bapak ya?”
—- Aku mengangguk mantap waktu itu.
—- “Kalau Bapak sudah pulang, Ragil bisa memberikan mawar itu,” suara Ibu juga terngiang.
—- Dan aku masih teringat dengan apa yang diceritakan Budhe Sri tentang ucapan Panglima Besar Jenderal Soedirman terhadap Bapak Presiden Soekarno, “Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah dan saya akan meneruskan perjuangan. Mert of zonder pemerintah, TNI akan berjuang terus.”
—- Aku bangga pada Bapak dan Bapak juga bangga pada Bapak Jenderal.[]

NB: Ini adalah cerpen saya yang dibukukan pertama kali pada 2001 oleh Penerbit Syaamil dengan gambar sampul seperti di atas. Waktu itu saya masih memakai nama Agus Wibowo. Calon istri pun memberikan secarik kata, “Luruskan niat, sempurnakan ikhtiar!” Kawan-kawan yang ikut menulis di buku itu adalah Intan Riyani, Vani Diana, M. Irfan Hidayatullah, dan Diah Evasari. Asma Nadia pun memberikan semangat dengan tulisan, “Congratulations! Keep up the good work….”

Advertisements

8 thoughts on “Mawar untuk Soedirman

  1. waa… penulis cerpen yg cermat….
    bunga layu pun bisa tumbuh dan berkembang hanya karena ada niat tulus untuk merawat dan menjaganya.

    Lalu kapankah kebun mawar kita akan benar-benar ada??? sudah dapatkah kita dikatakan merdeka saat ini? dimana masi bny yg kekurangan dan di bawah garis kemiskinan…HAYO INDONESIAKU MAJU TERUS!!!

  2. waaah…cerpen yang bagus..
    Bang aswi harusnya mengajari menulis ya…
    saya pernah kunjungan ke sekolah sekolah…eh,rata rata mereka tak bisa menulis apa yang ada dalam angan angannya.

  3. >> mahardhika : Penulis memang dituntut untuk cermat. Semoga saja….
    >> rhe : Amiiin….
    >> dyah : Terima kasih, Bu. Insya Allah saya akan mengajar tentang kepenulisan di SMPIT Baitul Anshor Cimahi tiap minggu ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s