Menghitung Harga Buku

Saat sobat baraya pergi ke toko buku dan membeli sebuah atau beberapa buku, pernahkah sobat baraya bertanya mengapa buku ini harganya jauh lebih murah daripada buku itu kendati jauh lebih tebal? Mengapa buku ini mahal sekali padahal sangat tipis? Mengapa buku-buku terbitan A selalu berada di bawah angka 50 ribu rupiah sedangkan buku-buku terbitan B selalu berada di atas angka 50 ribu rupiah? Mengapa buku-buku terjemahan lebih mahal daripada buku-buku yang ditulis oleh penulis lokal yang sama-sama ditulis dalam bahasa Indonesia?

Well, ada banyak faktor yang membuat buku memiliki harga yang berbeda-beda. Bahkan, faktor-faktor yang kadang-kadang tidak pernah dipikirkan oleh para pekerja buku–dan sangat dihindari–pun bisa jadi membuat harga sebuah buku menjadi sangat mahal dari perkiraan awal. Misalnya saja keterlambatan proses sebelum naik cetak, kesalahan pada cetakan sehingga harus diulang, atau kesalahan pada sampul buku sehingga harus dibuat jaket.

Biaya-biaya yang mempengaruhi harga sebuah buku terbagi menjadi dua bagian, yaitu pada bagian penerbit dan percetakan seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Di penerbitan, ada proses penyiapan naskah yang meliputi naskah, penyuntingan (edit), pembacaan pruf, ilustrasi, foto, desain isi, dan desain sampul. Untuk naskah terjemahan tentu ditambah proses penerjemahan dan pembelian naskah asli yang jauh lebih mahal. Sedangkan di percetakan, ada biaya yang meliputi pembuatan film, dummy (bisa juga dikerjakan di penerbit), pemakaian kertas, pemakaian tinta, efek-efek tambahan pada sampul buku seperti spotlight uv, laminating doff, hardcover, dan lain-lain agar buku yang bersangkutan menjadi lebih menarik. Perlu diingat, ukuran buku dan jumlah halaman pun mempengaruhi harga buku karena berhubungan dengan pemakaian kertas sehingga wajar saja jika jumlah halaman buku selalu memakai kelipatan 8 atau 16 agar tidak ada bagian kertas A0 (plano) yang terbuang. Sisa kertas sampul biasanya digunakan lagi untuk membuat pembatas buku agar tidak mubazir, tetapi tidak semuanya menerapkan hal ini.

Sebagai ilustrasi, naskah misalnya dibeli putus dari penulis dengan harga Rp 3 juta (nanti akan saya jelaskan bedanya mengapa penerbit atau penulis lebih memilih royalti daripada jual putus). Naskah tersebut kemudian disunting dengan harga Rp 700 ribu, dipruf dengan harga Rp 300 ribu, diilustrasi atau foto dengan harga Rp 500 ribu, didesain isi dengan harga Rp 400 ribu, dan didesain sampul dengan harga Rp 600 ribu. Pada bagian percetakan, buku dicetak sebanyak 3.000 eksemplar (jumlah standar) dengan spesifikasi 144 halaman, ukuran 11 x 18 cm, serta softcover yang di-laminating doff dan spot uv (Ini spesifikasi standar untuk novel chicklit atau teenlit). Ambil kasar saja biaya cetak buku adalah Rp 3.500 per eksemplar buku dengan catatan sudah termasuk pembuatan dummy dan film. Bagi yang ingin mengetahui detailnya bisa menghubungi percetakan atau berkonsultasi dengan saya. Total biaya proses pada penerbitan adalah Rp 5,5 juta dan biaya proses pencetakan adalah Rp 10,5 juta, sehingga semuanya menjadi Rp 16 juta.

Di luar itu semua, masih ada lagi biaya-biaya tambahan yang berkaitan dengan marketing, gaji karyawan, operasional seperti air dan listrik, dan juga biaya penyusutan terhadap inventaris yang dipakai. Oleh karena itulah, biaya Rp 16 juta itu masih 20% dari harga buku minimal atau biasa disebut HPP. 80%-nya digunakan untuk marketing (50%), gaji (7%), operasional (3%), dan lain-lain. Pada akhirnya, HPP pun ditetapkan pada nilai 16 juta x 5 = Rp 80 juta, sehingga per bukunya bisa dijual dengan harga 80 juta : 3.000 eksemplar = Rp 26.666,67 … itu pun kalau dijual di toko sendiri. Kok bisa? Lha iya, kalau dijual pada toko-toko buku tertentu seperti Gramedia, Karisma, MP Book Point, BBC, dan lain lain tentu mereka juga mengharapkan untung, sehingga beberapa penerbit sedikit menaikkan harganya kendati beberapa tidak. Ini hitungannya sudah jelas berbeda lagi dan biasanya orang marketing juga tahu.

Jadi, wajar saja kan kalau buku-buku sejenis chicklit atau teenlit yang memiliki ketebalan 144 halaman dan ukuran 11 x 18 memiliki harga 25-30 ribu rupiah. Kalau ada yang lebih murah lagi, itu bisa disiasati dengan penggunaan kertas koran putih, misalnya, atau minimalisasi biaya pada proses penyiapan naskah. Atau, bisa juga mencari percetakan yang bisa memberikan harga miring dengan kualitas sama. Tak heran, jika sampai sekarang selalu ada proses tarik-ulur harga antara penerbit dengan penulis, penerjemah, penyunting lepas, ilustrator, fotografer, dan desainer. Mudah-mudahan, hal ini tidak menzalimi salah satu pihak yang belum berpengalaman bermain di dunia buku.[]

NB: Oleh karena itulah saya menyarankan untuk membeli buku ‘aseli bukan bajakan’ karena saat sobat baraya membayar di kasir, uangnya tersebar ke mana-mana sesuai haknya masing-masing. Bukan berkumpul pada satu tempat si pembajak saja yang tidak mengetahui betapa rumit dan panjangnya jalan sebuah buku. Berkah gitu loh maksudnya!

Advertisements

9 thoughts on “Menghitung Harga Buku

  1. setelah saya membaca ternyata membuat buku cukup panjang prosesnya. Tentu saja sebagai awam saya merasa masih harus banyak belajar dari bang aswi. btw, untuk posting selanjutnya diberikan grafik atau ilustrasi mungkin bisa membantu pembaca awam seperti saya memahami alurnya sebelum membaca tulisannya. sekedar usulan saja sih

    >> Insya Allah dijadwalin untuk ikutan PB. Semoga dengan yang seperti apa adanya ini sudah dipahami oleh seluruh rekan-rekan blogger ^_^

  2. Wah, nambah satu lagi tempat belajar. Terimakasih.

    Mentalitas orang Indonesia, pengen yang gampang, pengen yang murah, jalan pintas, minat baca rendah. Tantangan euy!

    >> Semoga bermanfaat. Memang menjadi tantangan bagi kita yang kreatif … ^_^

  3. Hmm… Makasih sudah membagi pengalamannya Bank… lain kali critain juga kiat-kiat seorang penulis agar tidak dibohongi penerbit masalah harga naskah….

    >> Sama2 dan insya Allah….

  4. mau nanya, kalo kerjasama penerbit dan toko buku, misal toko buku minta diskon 50%, yang membayar ppn nya toko buku atau penerbit?

    >> PPN tetap ditagihkan ke Penerbit, tidak ada hubungannya dengan toko buku.

  5. Wah, telat tau. Info yang bermanfaat banget nih. Mau nanya dong Bang Aswi. Beberapa hari yang lalu saya pergi ke percetakan untuk tanya biaya cetak. Spesifikasi yang saya kasih seperti ini: ukuran buku 14 x 20 cm; 200 halaman; kertas bookpaper dan dicetak 500 eksemplar. Setelah dihitung, mereka bilang biaya cetak per eksemplarnya adalah 32 ribu rupiah. Saya pikir, mahal amat. Kalo harga cetak per eksemplarnya aja segitu, mau dijual dengan harga berapa itu buku. Jatuhnya pasti mahal banget. Mana ada yang mau beli?

    >> Sudah dijawab ya via WA ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s