Solperson 4e

—-Aku masih termenung. Pikiranku tidak bisa lagi berkonsentrasi pada satu keputusan yang mungkin bisa mengubah jalan hidupku. Dan juga pengalamanku.
—-To, kami semua sudah pada sepakat. Sekarang, tinggal kamu sendiri yang belum memastikan dan menentukan untuk pergi bersama kami. Maaf, kalau kami terpaksa memakai jalan ini. Tetapi harus. Kami tunggu hari ini di Restoran Nusantara jam 21.00 teng. Jika tidak, kamu tahu sendiri akibatnya.
—-Sekali lagi kubaca pesan e-mail yang terpampang jelas di hadapanku itu. Di bawahnya tertanda: Solperson 4e. Aku tidak bisa mengelak. Solperson 4e adalah kelompok maya yang berdiri sendiri di dunia maya, yaitu internet. Kelompok yang hanya beranggotakan 5 orang, termasuk aku sendiri. Solperson 4e tidak mempunyai ketua karena kelompok ini adalah kelompok kebebasan. Kelompok yang tidak terikat oleh batasan apa pun, seperti yang ada di setiap organisasi atau badan-badan tertentu yang cenderung malah akan semakin menularkan pelanggaran. Itulah tekad kami pertama kali mendirikan kelompok ini. Solperson 4e artinya 5 orang yang berbuat untuk segalanya, tanpa kecuali. Dunia adalah kebebasan, kebebasan adalah tanpa batas, begitu prinsip kami.
—-Oleh karena kelompok ini adalah kelompok maya maka masing-masing dari kami belum pernah mengenal tiap-tiap anggotanya. Aku belum mengenal dan melihat 4 orang lainnya. Aku hanya mengenal sebutan mereka, dan hal ini pun bukan menjamin bahwa sebutan itu adalah nama mereka. Dan nama mereka pun juga bukan jaminan akan menunjukkan jenis kelamin mereka. Ini sudah prinsip kami, makanya aku pun juga tidak peduli dengan status mereka, kelamin mereka, pekerjaan mereka, bentuk fisik mereka, dan segala tetek bengek mereka. Namun, saat ini segalanya berubah.

—-Entah apa yang mendorong dan siapa yang memulai, karena segalanya tidak dibatasi. Yang jelas hari ini mereka berempat sepakat untuk mengadakan pertemuan di Restoran Nusantara, hari ini, jam 9 malam. Ah, aku bingung untuk memutuskan. Hadir atau tidak? Ketika setuju bergabung dengan kelompok ini, aku sudah mematri tidak akan melihat dan mengetahui identitas masing-masing. Karena, jika aku mengetahui mereka, maka mereka pun akan mengetahui siapa aku. Aku tidak mau identitasku diketahui oleh orang yang tidak aku kenal. Hal itu bisa membahayakan reputasiku sebagai seorang cendekiawan. Ya, cendekiawan bisa terkenal oleh teori-teorinya, tetapi bukan oleh kebebasannya. Aku tidak mau hal itu terjadi. Tetapi, mereka telah memaksaku. Jika aku tidak datang, otomatis keanggotaanku akan dihapus, dan tentu saja nantinya mungkin di-black-list. Inilah yang kutakutkan. Aku tidak menginginkan kebebasanku dibelenggu.
—-Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke tempat pertemuan itu. Terus terang aku menjadi penasaran untuk datang. Bukan penasaran melihat fisik mereka, atau apa mau mereka, tetapi oleh kebebasanku ingin mengetahui hal-hal yang penasaran. Pas, tepat jam 9 aku telah tiba di Restoran Nusantara. Kubetulkan sedikit kacamataku, dan kemudian melangkah masuk. Di dalam, aku memperhatikan beberapa tamu dan menduga-duga. Hanya sesaat.
—-“Maaf, tuan. Sudah pesan tempat?” tanya seorang pegawai menyambutku.
—-Aku mengangguk. “Solperson 4e,” kataku tegas.
—-Pegawai itu mengangguk. “Kalau begitu ikuti saya, 3 orang teman tuan telah menunggu di meja 17.”
—-Aku mengikuti pegawai itu. Meja 17 adalah meja yang terletak di bagian belakang restoran ini, sehingga tidak bisa melihat langsung dari arah pintu masuk. Tepatnya, berada di taman belakang dan tertutupi oleh rerimbunan pohon. Aku tahu itu, karena aku sering makan di restoran ini.
—-“Silahkan, tuan,” pegawai itu mempersilahkanku setelah sampai di meja 17.
—-Aku mengangguk. Kini di hadapanku telah berdiri, dengan maksud hormat, 2 orang laki-laki dan seorang perempuan. Satu orang laki-laki terlihat seperti pemuda kebanyakan, namun badannya terlihat atletis. Satu orang laki-laki lainnya berpakaian safari bermerek, jelas kalau ia seorang yang kaya. Dan yang perempuan terlihat sangat cantik, apalagi didukung oleh bentuk fisiknya yang langsing dan putih. Aku tidak ingin berpikiran macam-macam, dan kemudian menyalami mereka.
—-“Bagaimana perjalananmu?” tanya laki-laki berbadan atletis.
—-“Baik. Terima kasih.”
—-“Oh, iya. Aku seorang pengusaha,” ujar laki-laki berpakaian safari.
—-“Aku seorang mahasiswa,” lanjut laki-laki atletis.
—-“Dan aku seorang model,” sambung si perempuan.
—-Aku manggut-manggut. Pantas saja, bisikku. “Aku seorang peneliti.”
—-Tidak ada percakapan yang menjelaskan tentang identitas kami, selain percakapan seputar kebebasan yang kami anut. Tampaknya, masing-masing anggota tahu prinsip Solperson 4e. Tidak lama kemudian datang orang kelima yang diantar seorang pegawai restoran. Laki-laki. Memakai peci dan bertumbuh agak gemuk. Kami pun menyalaminya dan memperkenalkan profesi kami masing-masing. “Aku seorang ulama,” jawabnya tersenyum.
—-Kini, seluruh anggota Solperson 4e telah berkumpul. Makanan telah kami pesan, dan kami melanjutkan perbincangan kami seputar masalah-masalah kebebasan yang pernah kami chatting-kan di dunia maya. Juga membincangkan rencana jalan-jalan ke sebuah hutan untuk berburu. Tujuan perjalanan itu adalah untuk mempererat antar anggota dan juga merealisasikan kebebasan kami. Kami pun sepakat. Dari perbincangan ini, aku juga sedikit menjadi tahu tentang karakter masing-masing dan juga menebak nama masing-masing. Di dunia maya, aku dikenal sebagai Bito. Lalu ada Arbie yang selalu berdebat dengan gaya para pemimpin. Harwa adalah seorang yang cenderung mengikuti arah diskusi, tetapi selalu masuk pada saat yang tepat. Kusno adalah tipe orang yang ceplas-ceplos, sangat terlihat bahwa ia adalah tipe orang tradisional. Dan terakhir Melur, salah satu orang anggota Solperson 4e yang paling pendiam. Ia hanya menjawab ketika ditanya. Berdasarkan hal itu, aku menebak kalau sang mahasiswa adalah Arbie, lelaki pengusaha adalah Harwa, perempuan model adalah Melur, dan ulama itu adalah Kusno.
—-“Maaf,” sela ulama yang kutebak Kusno, “Apakah lebih baik jika masing-masing memperkenalkan sebutan kita di dunia maya?”
—-Kami berempat diam.
—-“Aku tidak setuju,” jawab mahasiswa yang kutebak Arbie, “karena hal itu telah mengganggu kebebasan individual kita.”
—-Aku pun mengangguk.
—-Perempuan model yang kutebak Melur hanya tersenyum.
—-“Alasannya apa?” tanya pengusaha yang kutebak Harwa.
—-“Begini. Perjalanan itu mungkin beresiko dan aku yakin bahwa kita semua sudah sadar dan berani menanggung sendiri. Tetapi, kita memerlukan kerja sama untuk mengurangi resiko bahaya itu. Jadi…,” ulama yang kutebak Kusno menggaruk kepalanya, “bukankah lebih baik jika kita mengetahui sebutan masing-masing orang?”
—-“Aku tetap tidak setuju,” jawab mahasiswa yang kutebak Arbie.
—-“Loh! Bagaimana jika misalnya Mbak Model ini tertinggal, mosok aku harus berteriak Mbak Modee … el.”
—-Aku tersenyum. “Sebenarnya, mungkin, masing-masing dari kita sepertinya sudah dapat mengetahui sebutan masing-masing orang. Kan, terdeteksi dari perbincangan hari ini dan perdebatan di dunia maya.”
—-“Mungkin bagi kamu sendiri, karena kamu memang bekerja sebagai peneliti,” sahut pengusaha yang kutebak Harwa. “Kalau menurutmu?” tanyanya pada model yang kutebak Melur.
—-“Aku akan menyetujui pada pendapat yang terbanyak,” jawabnya tersenyum.
—-“Kalau begitu, lebih baik kita mengambil suara, setuju?” usulku.
—-Semua menyetujuinya untuk mengambil suara. Dari hasil itu, mahasiswa yang kutebak Arbie dan aku tidak sepakat untuk mengetahui orang yang mempunyai sebutan di dunia maya. Ulama yang kutebak Kusno dan pengusaha yang kutebak Harwa sepakat. Dan tinggallah keputusan model yang kutebak Melur. Ia hanya tersenyum, lalu mengatakan, “Kalau begitu aku tidak memilih.”
—-Yah, begitulah. Akhirnya setelah mengalami perdebatan yang tidak terlalu panjang dan melelahkan, karena restoran itu sudah mau tutup dan kami pun hanya duduk-duduk saja, kami semua bersepakat untuk merahasiakan sebutan kami. Biarlah masing-masing dari kami saling menebak sebutan masing-masing orang. Karena, proses menebak itu adalah suatu bentuk kebebasan yang harus dijunjung tinggi. Aku sendiri merasa lega, karena identitasku tidak terlalu kentara, walau profesi dan bentuk fisikku sudah diketahui. Toh, aku juga mengetahui hal itu terhadap mereka.
—-Beberapa hari kemudian, sesuai dengan waktu yang dijanjikan, kami berkumpul lagi dan pergi ke hutan untuk berburu. Kami tidak menyebutkan hendak ke hutan apa dan mau berburu apa. Biarlah itu menjadi kebebasan perjalanan kami dalam menentukannya. Yang jelas, Solperson 4e telah selamat sampai di tujuan, dan lengkap. Di hutan itu, kami diberi kebebasan hendak berburu apa, termasuk dengan senjata yang kami bawa. Aku sendiri tidak membawa senjata tajam atau api, tetapi membawa peralatan penelitianku, karena aku hendak berburu sesuatu yang berbau ilmiah di hutan itu. Pengusaha yang kutebak Harwa membawa senapan api, dan ia berniat untuk berburu celeng atau mungkin kelinci. Ulama yang kutebak Kusno tidak membawa apa-apa karena ia berniat berburu kesepian, dan hendak bertafakur, katanya. Mahasiswa yang kutebak Arbie dan model yang kutebak Melur mempunyai keinginan yang sama, yaitu berburu hiburan alias jalan-jalan. Dan tampaknya, menurut penglihatanku, di antara keduanya telah terjalin sesuatu yang pernah kurasakan ketika remaja dahulu.
—-Sebelum berpisah, kami pun berjalan-jalan untuk menentukan suatu tempat di hutan sebagai titik pertemuan kembali. Dan tempat itu haruslah unik dan berbeda, sehingga kami mudah menemukannya. Dan titik itu ketemu. Yaitu adanya sebuah pohon kelapa yang hanya berbuah satu saja. Dan hal ini telah membuatku tertarik, apalagi ditambah dengan kondisi hutan yang tidak memungkinkan tumbuhnya pohon tersebut. Dan tampaknya, juga membuat ulama yang kutebak Kusno tertarik.
—-“Anehkah?” tanya mahasiswa yang kutebak Arbie.
—-“Tetapi lucu,” sambung model yang kutebak Melur.
—-“Lalu…?” lanjut pengusaha yang kutebak Harwa.
—-“Ini mukjizat,” jawab ulama yang kutebak Kusno.
—-“Apa yang kamu ketahui?” tanyaku pada ulama yang kutebak Kusno itu.
—-Ia memandangku, lalu memandang kepada semua orang. “Tetapi tolong…,” bisiknya serius, “jangan diberitahukan kepada orang lain. Ini sebuah rahasia besar.”
—-Mendengar hal itu, aku semakin penasaran. “Rahasia apa?”
—-“Ya, rahasia apa?” tanya yang lain bersamaan.
—-“Sssst.” Ulama yang kutebak Kusno memandang berkeliling, lalu menyuruh kami duduk membentuk lingkaran. “Ini terjadi pada masa kerajaan Demak, yaitu ketika masih adanya Sunan Kalijaga.”
—-Kami berempat serius memperhatikan ucapannya.
—-Kemudian ulama yang kutebak Kusno menceritakan bahwa salah seorang murid Sunan Kalijaga yang bernama Ki Giringwanatara pernah melakukan semedi dengan maksud mempunyai keturunan yang dapat menguasai tanah Jawa. Untuk kepentingannya itu, ia menanam sabut kelapa. Kemudian sabut kelapa itu tumbuh menjadi tunas, dan akhirnya tumbuh menjadi sebatang pohon kelapa yang sempurna. Namun, pohon kelapa itu hanya berbuah satu saja. Sunan Kalijaga pun mendatangi Ki Giringwanatara dan mengatakan bahwa siapa pun yang meminum air kelapa itu, maka ia atau keturunannya akan menjadi raja atau penguasa di tanah Jawa. Entah karena sudah takdir atau bagaimana, kelapa itu akhirnya diminum oleh Pemanahan, seorang Lurah Laweyan di wilayah kerajaan Pajang. Beberapa tahun kemudian, Raden Ngabehi Loring Pasar yang merupakan anak tertua Pemanahan, berhasil menjadi Raja Mataram yang menguasai tanah Jawa dan seluruh Nusantara dengan gelar Panembahan Senopati.
—-Ulama yang kutebak Kusno tersenyum. Kami berempat yang mendengar cerita itu menjadi termenung. Benar-benar cerita yang fantastis dan menakjubkan, bisik hatiku. Cerita itu akhirnya telah menghipnotis kami dalam perenungan kami masing-masing, dan kebebasan yang kami anut pun semakin membelenggunya, termasuk ulama yang kutebak Kusno itu. Hutan yang maknanya lebat dan menyeramkan tidak kami hiraukan lagi. Hanya sunyi.
—-“Ya, sudah,” ujar ulama yang kutebak Kusno memecah kesunyian, “sudah saatnya bagi kita untuk berpisah. Kita kembali kepada tujuan kita ke hutan ini, yaitu berburu.”
—-Kami pun berpisah, masih dalam kesunyian dan keheningan.
—-Pada jarak tertentu yang aku sendiri tidak menahu, aku berhenti. Cerita itu telah menempel erat dalam hatiku. Ada sesuatu yang menggebu-gebu dalam hatiku, dan itu adalah kebebasan yang menggelora. Aku memang cendekiawan dan seorang peneliti, tetapi pikiranku sedikit mengakui adanya sejarah kewalian. Dan hal itu, kadangkala tidak diperlukan pembuktian pasti dengan percobaan atau penelitian. Hatiku berdebur dengan emosi. Kebebasan di dunia ini akan diraih jika kita menjadi penguasa di negeri ini. Dan kebebasan itu adalah kebebasan individual. Sesuai dengan keinginanku. —-Akhirnya, aku pun segera membalik dan berlari ke arah pohon kelapa itu.
—-Ternyata aku tidak sendiri. Semua anggota Solperson 4e juga berlari ke arah pohon kelapa itu. Tampaknya mereka memang berniat untuk meminum air kelapa yang hanya satu-satunya itu dan menjadi penguasa. Aku berhasil memanjat, tetapi segera ditarik oleh mahasiswa yang kutebak Arbie dan memukulku di bagian muka. Kepalaku pusing dan terjatuh membumi. Dalam penglihatanku, kulihat pengusaha yang kutebak Harwa langsung menembakkan senapan apinya ke arah model yang kutebak Melur. Model yang kutebak Melur itu tewas seketika. Mahasiswa yang kutebak Arbie terlihat marah dan langsung menyerang pengusaha yang kutebak Harwa, dan menusuknya dengan pisau yang ia bawa. Dan pengusaha yang kutebak Harwa itu pun langsung tewas. Aku berdiri lagi dan mencoba menggapai batang pohon kelapa itu, namun kembali jatuh ketika kurasakan pukulan yang menyakitkan di tengkukku. Pandanganku sesaat gelap, namun aku segera memaksakan diri untuk tetap sadar. Menjelang sadar, aku melihat ulama yang kutebak Kusno telah rebah di tanah, dengan pisau di punggungnya. Pandanganku berputar dan melihat ke atas, kulihat mahasiswa yang kutebak Arbie sedang memanjat dan hampir berhasil mencapai pucuknya. Setelah sadar benar, aku segera mengambil senapan api milik pengusaha yang kutebak Harwa dan menembakkannya ke arah mahasiswa yang kutebak Arbie. Mahasiswa yang kutebak Arbie langsung jatuh dan tewas seketika. Aku tersenyum melihatnya. Aku senang bahwa aku adalah pemenangnya.
—-Aku pun memanjat pohon kelapa itu dengan tenang. Sudah terbayang keadaanku nanti yang menjadi penguasa tanah Jawa ini, atau bahkan, menjadi penguasa negeri Nusantara ini. Dan menyebarkan kebebasan yang aku pahami sebagai seorang peneliti. Setelah bersusah payah, aku berhasil mencapai pucuknya dan memetik buah kelapa itu. Aku tertawa terbahak-bahak dan menimang-nimang buah kelapa itu. Namun….
—-Dor!
—-Sebuah letusan terdengar. Dan aku merasakan nyeri di punggungku, menembus sampai dadaku. Ketika tersadar bahwa dadaku telah berdarah, aku sudah melayang jatuh. Dalam kabut pandanganku, kulihat ulama yang kutebak Kusno menjatuhkan senapan apinya yang telah berhasil menembakku. Ia pun jatuh kembali dan tewas sebenarnya. Tubuhku terasa lemas. Dan akhirnya, pandanganku menggelap. Namun, samar-samar, aku masih sempat melihat seekor monyet yang membawa pergi buah kelapa itu.[]

31.08.09
[Ayo! ke Pesta Blogger 2009]

Advertisements

5 thoughts on “Solperson 4e

  1. Maaf.. Kesimpulannya gimana?? Apakah kita dengan kebebasannya masing-masing boleh dan harus mengambil kesimpulan dan hikmah sesuai dengan karakternya masing-masing…??? 🙂

  2. >> vizon : makasih….
    >> hais : nah, ada seorang sastrawan yang mengatakan, “biarlah karya yang bicara alias pengarangnya telah mati.” jadi, apa pendapatmu soal cerpen tersebut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s