Misteri Surat Kuning

cov021

—-Akhirnya terlaksana juga, bisikku.
—-Yap. Hari ini merupakan hari kemenangan yang telah lama kunantikan dan kuperjuangkan. Hari dimana aku bisa bebas merdeka dan menghirup udara segar sepuas-puasnya. Dan sepertinya hari ini pantas untuk dirayakan. Oleh karena itu, tanggal, bulan dan tahunnya harus dicatat agar nanti-nanti aku bisa merayakannya setiap tahun. Inilah kebebasan yang selama ini kuidam-idamkan. Bebas dari segala macam rongrongan, bebas dari segala macam perintah yang mengekang, bebas dari mata tajam agar aku tetap belajar di dalam kamar, bebas dari semua adat istiadat yang terdengar aneh di telingaku, bebas dari ini itu. Pokoknya aku bebas!
—-Tak terpasungnya jiwa dan fisikku dimulai ketika Daftar Calon Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Negeri sudah diumumkan di sebagian besar surat kabar di pelosok negeri ini. Dan aku termasuk di dalam daftar tersebut. Berarti aku bisa bebas untuk melakukan segala hal termasuk memutuskan harus berbuat apa dan bagaimana tanpa sorotan mata orang tua maupun pengawal-pengawal saudaraku. Karena sejak saat ini aku akan tinggal di suatu daerah yang belum pernah kukunjungi dan tidak ada sanak saudara di sana untuk menuntut ilmu. Eh, untuk hidup bebas! Dan rencananya, empat hari lagi aku harus pergi bersama kedua orang tuaku. Hmm…, aku tertawa terbahak-bahak di dalam hatiku memikirkan jadwal yang penuh dengan hura-hura di kota tersebut. Selamat tinggal pembelajaran, sayonara keterikatan, good bye keterbatasan, dan wilujeng sumping ketakterbatasan.

Hari ini hari terakhir aku membereskan perbekalanku. Setelah memeriksa seluruh tas dan barang-barang yang akan dibawa, aku pergi ke gudang untuk melihat apakah ada barang menarik yang pantas kubawa juga. Di gudang, banyak barang-barang bekas yang sudah tak terpakai lagi. Kebanyakan adalah barang-barang peninggalan masa kecilku dan perabotan rumah tangga yang sudah usang. Saat aku menelusuri setiap sudut ruangan, tampak olehku sebuah peti usang tertutup oleh kain biru lusuh. Dengan hati-hati kubuka peti itu, dan kujumpai banyak baju-baju model lama yang masih agak bersih. Kuteliti satu persatu tumpukan kain tersebut, dan ketika sampai pada tumpukan terakhir aku menemukan jaket biru yang unik. Walaupun modelnya termasuk usang tapi tampak menarik buatku sehingga kuambil dan langsung kupakai.
Keren juga…, pikirku. Dan ketika kumasukkan tanganku ke dalam saku, terasa olehku sesuatu benda seperti lipatan kertas. Setelah kuambil, tampak olehku lipatan kertas yang sudah agak lusuh dan berwarna kuning. Lalu, perlahan-lahan kubuka lipatannya dan terlihatlah sebuah catatan pendek yang ditulis dengan coretan kuno.

Manusia itu merugi
Semua berada pada ambang bahaya
Berdiri di tepi jurang yang menganga
Hanya tali iman
Hanya rantai amal
Yang mengarah pada kebenaran
Yang berpegang pada kesabaran

Tergetar juga aku membacanya. Kucoba merenunginya, tapi saat ini pikiranku buntu. “Ah, bodo amat!” Sambil tetap memakai jaket temuan itu, aku pergi meninggalkan gudang setelah membuang lipatan kertas itu, tanpa menyadari bahwa lipatan kertas itu hilang tanpa bekas.
Sudah hampir sebulan lebih aku tinggal di kost-an ini, sendirian tentunya. Dan selama itu pula aku selalu meluangkan waktu untuk bermain-main, pergi ke sana-sini, ngobrol ngalor-ngidul, jalan ke tempat-tempat tertentu, atau menyetel radio metal keras-keras. Yang jelas selama di sini aku selalu mengusahakan untuk bisa mengerahkan kepuasan batin. Kerjaanku kalau tidak di rumah, pasti keluar main ke pusat perbelanjaan atau ke rumah seorang teman wanita yang saat ini sedang kuincar. Yah, aku naksir dengan dia pada pandangan pertama. Mungkin inilah cinta pertamaku.
Saat ini aku sedang di rumah. Dan seperti biasanya, bila sedang di rumah aku selalu menyetel radio keras-keras. Sampai para tetangga tahu kapan aku ada di rumah atau tidak. Dan aku tidak ambil pusing dengan mereka, toh ini radioku sendiri dan disetel di kamarku sendiri. Pernah ada seorang tetanggaku yang pergi pindah ke tempat lain. Katanya tidak betah mendengar style musikku. Terus terang aku geli sendirian. Mana mungkin dia pindah hanya karena tidak tahan mendengar suara radioku. Mungkin memang sudah saatnya untuk pindah dari sini, pikirku.
Ketika asyik-asyiknya santai, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Aku pun langsung menyambar jaket biruku dan berjalan menuju ke arah pintu dan membukanya.
“Maaf…”
“Ya, ada apa?”
“Maaf, Mas! Suara radionya bisa dikecilkan.”
“Memang kenapa?”
“Terlalu keras suara radionya. Sehingga mengganggu konsentrasi saya yang sedang belajar. Saya harus berkonsentrasi, soalnya besok ada ujian, Mas.”
“Loh! Kenapa harus terganggu, ini kan radio saya dan situ kalo mau belajar enggak perlu ikut-ikut dengerin. Konsen saja sama pelajaran.” Dan belum sempat ia menjawab, aku langsung menutup pintu agak keras. Memang dikiranya apa? Mau belajar kok ngedengerin radio, pikirku. Aku pun langsung merebahkan tubuh ke atas kasur yang empuk. Bodo amat! Emang gue pikirin. Sambil menyenandungkan sebuah lagu kesukaanku, tanganku tanpa sadar masuk ke dalam saku jaket dan terkejutlah aku.
Jemariku merasakan sesuatu benda seperti lipatan kertas. Perasaan, aku tidak pernah menyimpan sebuah kertas di dalam saku ini…, atau mungkin ada temanku yang sengaja memasukkannya. Lalu dengan tidak sabar, aku mengambilnya. Mendadak aliran darahku terhenti serta nafasku lenyap tanpa bekas. Tampak di pegangan tanganku sebuah lipatan kertas berwarna kuning lusuh, persis seperti kejadian di gudang sebulan yang lalu. Dengan hati-hati kubuka lipatan kertas itu dan terlihatlah sebuah kesamaan dengan kejadian waktu itu, yaitu terdapatnya catatan kecil yang ditulis dengan coretan kuno.

Tetanggamu adalah saudaramu
Tetanggamu adalah darahmu
Tetanggamu adalah Abu Aswad
Yang mengatakan dengan lantang,
“Demi Allah, aku tidak menjual rumahku,
Tetapi aku menjual tetanggaku.”

Kembali aku mencoba merenungi. Tanpa sadar tanganku yang memegang kertas itu sedikit bergetar, sehingga langsung meletakkannya di sudut meja. Apa maksud dari semua ini? tanyaku sendiri. Aku pun menggeleng. Saat menoleh ke arah tempat kertas itu diletakkan, mataku langsung membeliak. Kertas itu sudah hilang tanpa bekas. Aku segera memeriksa di sekeliling tempat itu, lalu berpindah ke tempat lain. Namun ternyata memang kertas itu sudah raib.
Selama seminggu lebih aku masih terus memikirkan kejadian itu. Sampai saat ini aku tidak tahu siapa yang sengaja berbuat seperti itu, tampaknya yang menulis surat itu mengetahui keadaanku sehari-hari. Siapa ya? tanyaku sendiri. Atau jangan-jangan…, aku langsung memeriksa jaket biru itu secara seksama. Semua saku dan sudut lekukan kain kuperiksa. Tiba-tiba saja darahku berdesir dan bulu-bulu di tengkukku berdiri. Aku langsung melempar jaket itu jauh-jauh ke sudut kamar dan menatapnya lekat-lekat.
“Jaket ini…, ada sesuatu di jaket ini. Tapi…”
“Ah, mana mungkin? Tampaknya biasa-biasa saja kok! Aku tidak percaya dengan segala macam tahayul, mungkin ini pekerjaan temanku yang iseng…”
Pikiranku berkecamuk keras saling memperebutkan posisi pendapat yang paling benar. Saraf-saraf otakku mengalir cukup deras, denyutan jantung pun telah sampai ke otot-ototnya, dan synaps-synaps di ujung saraf semakin gencar memuntahkan senyawa messenger kimia. Dengan perlahan-lahan, kuberanikan diri untuk mendekati jaket itu. Langkah demi langkah kutapaki dengan teratur dan penuh perhitungan. Jarakku dengan jaket itu semakin dekat dan ketika tanganku hendak memegangnya, tiba-tiba….
“KRIIINNGGGGGG…!!!”
Aku langsung terlonjak dan hampir saja kepalaku terbentur langit-langit kamar. Tubuhku sempoyongan ketika menjejakkan kembali kakiku ke lantai.
“KRIIINGGG…!!!”
Antara sadar dan tidak, aku menoleh ke arah sumber suara yang cukup mengagetkan itu dan saat itulah aku menyadari kebodohanku. Dengan sigap aku mengangkat gagang telepon setelah terdengar deringan yang ketiga kalinya. “Haloo….”
“Haloo…, bisa bicara dengan Raji?”
“Ya, saya sendiri…”
“Hei, Raji apa kabar! Ini aku, Garnis…”
“Oh-eh…, hei Garnis! Baik, aku baik-baik saja kok. Ada apa ya? Kok tumben nelpon ke sini?” Seketika juga persoalan yang tadi rumit kuuraikan benang merahnya, lenyap. Suara wanita yang sejak awal kutaksir terdengar merdu di telingaku.
“Maen dong ke rumah!”
“Boleh, kapan?”
“Sekarang aja, mau kan?”
“Hah!… eh, iya…, iya boleh. Kalau begitu tunggu ya, sebentar lagi aku tiba di sana.” Musnah sudah pikiranku tentang peristiwa aneh tadi, berganti menjadi bentuk romansa yang tak tergambarkan. Hatiku terasa berada di awang-awang mengetahui wanita pujaan mengundangku untuk ke rumahnya hari ini. Ya, hari ini! Lalu tanpa menghiraukan jaket biru itu lagi, setelah berganti pakaian aku langsung meluncur ke rumah Garnis.
“Ji! Maaf ya tadi aku mendadak sekali menelponmu untuk segera datang ke sini,” ujar Garnis setelah aku tiba di rumahnya, setengah jam kemudian.
“Ga pa-pa kok, Nis.”
“Gimana dengan perjalananmu tadi ke sini, Ji? Enggak kesasar kan?”
“Yah, sedikit. Tadi waktu mau masuk kompleks. Tapi gak pa-pa kok, lagian emang aku kepingin sekali untuk maen ke rumah kamu.” Dengan pikiran nakal kupandangi wajahnya yang cantik dan matanya yang teduh dan bening itu. Garnis pun menunduk malu ketika mata kami saling beradu. “Eh, ngomong-ngomong orang tuamu mana?”
“Enggak ada, lagi ada acara ke luar kota. Itulah, Ji! Maksudku ngajak kamu ke sini untuk menemaniku ngobrol, mau kan?”
“Iya, aku juga senang kok!”
“Hmmm…, oh iya mau minum apa Ji?”
“Apa aja deh.”
“Kalau begitu tunggu sebentar ya, aku ambilkan minum dulu.”
“Iya.” Aku pun tersenyum manis sambil terus memandang Garnis yang berdiri dan kemudian pergi ke belakang. Tanpa berkedip aku terus menatap Garnis yang lekuk-lekuk tubuh sensualnya sangat terlihat jelas, dan saat itulah pikiran kotor mulai menyerangku. Sembari memainkan pikiran-pikiran yang sudah semakin meyimpang, aku memasukkan tangan ke dalam saku baju hendak mengambil rokok. Dan kembali aku terkejut.
Bersama sebungkus rokok, juga terdapat lapisan kertas berwarna kuning dan aku bisa menebak bahwa di dalamnya juga terdapat tulisan kuno. Pikiranku mulai melayang-layang kembali. Berarti bukan karena jaket biru itu…, bisiku dengan mata melotot. Dengan sedikit ragu dan takut antara membuka lipatan kertas tersebut atau tidak, benakku terus menerobos mencari sebuah jawaban tentang teka-teki surat ini. Namun, karena terkalahkan oleh keingintahuanku kubaca juga surat itu.

Sungguh laknat kau pemuda!
Tak ada bedanya kau dengan para pendusta
Yang berzina atas nama cinta
Tak bisakah kau sekadar bertanya
Dari rahim siapakah kau keluar?

Dengan tubuh gemetar dan wajah pucat, aku bolak-balik memandang kertas itu dan arah hilangnya Garnis. Dan tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung pergi meninggalkan rumah Garnis. Aku tidak peduli lagi memikirkan bagaimana Garnis bengong melihat ruang tamunya kosong tanpa adanya wujudku di sana, atau kepala Garnis yang celingukan mencariku di sudut rumahnya yang mewah. Aku hanya sanggup berpikir bagaimana agar aku bisa lepas dari kertas-kertas itu.
Aku langsung memacu kendaraanku dengan kecepatan penuh menembus arus lalu lintas yang kian melemah karena malam yang semakin larut. Masa bodoh dengan kendaraan-kendaraan lain yang kusalip. Kututup telingaku rapat-rapat, sehingga tidak mengetahui lagi kasarnya sumpah serapah mereka. Benakku sudah penuh dengan kertas kuning itu, yang awalnya hanya bayangan-bayangan tak jelas dari kertas tersebut. Setiap aku menoleh ke kanan, kiri, depan, maupun ke belakang, hanya kertas kuning yang terlihat olehku. Dan tiba-tiba terdengar suara dengungan dari atas!
Aku langsung menatap langit yang pekat. Suara itu tidak terlalu kecil untuk bisa didengar, namun lama-lama semakin keras dan bertambah dekat. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, pikirku. Dan aku pun langsung memacu kendaraanku lebih cepat lagi. Suara dengungan itu bertambah keras dan aku merasa curiga kalau itu bukan suara air yang jatuh dari langit. Aku kembali melihat ke langit yang gelap. Dan betapa terkejutnya aku melihat banyaknya kertas kuning yang tercurahkan dari langit. Ratusan atau mungkin ribuan kertas jatuh dari langit. Bukan! Terlalu banyak untuk dihitung. Hampir semua langit tertutupi kertas kuning dan sebentar lagi akan jatuh mengenaiku. Aku panik! Dan saat ingin mempercepat kendaraanku, tiba-tiba ada sebuah sorot lampu yang sangat menyilaukan di hadapanku. Setelah itu tubuhku terasa sakit dan kemudian tidak ingat apa-apa lagi.
Dengan agak berat kubuka mataku perlahan-lahan. Kepalaku masih agak pening dan sakit. Hanya pemandangan putih dan agak buram. Sedikit demi sedikit akhirnya makin fokus juga, namun tetap pemandangan putih yang kulihat. “Aaaahhh..!” Aku sedikit mengerang kesakitan. Tubuhku penuh dengan balutan dan aku sadar bahwa saat ini aku berada di rumah sakit. Aku menyandar pada bantal, lalu menatap langit kamar. Ya, pasti aku telah mengalami kecelakaan. Namun aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbaring di sini. Kulayangkan pandanganku ke sebelah kanan. Di sana terlihat sebuah meja dengan bunga kuning di atasnya. Sungguh indah sekali seperti bunga anggrek. Terbesit keinginanku untuk memegang bunga itu. Dengan susah payah aku bangkit dari tidurku dan kuambil setangkai bunga kuning tersebut. Saat hendak kuhirup wanginya, mataku terbelalak! Hampir saja mataku meloncat keluar saat mengetahui bahwa yang kupegang adalah kertas kuning! Kutolehkan kepalaku ke arah meja dan di sana ternyata juga terdapat kertas kuning yang berbentuk bunga. Setelah itu aku kembali tidak ingat apa-apa lagi.

Berbuat maksiatlah sesukamu
Asal jangan makan rezeki Tuhanmu
Asal jangan tinggal di bumi Tuhanmu
Dan kalau kau mampu
Bersembunyilah dari Tuhanmu

NB: Kalau dari catatan yang ada, cerpen ini adalah yang pertama kali saya tulis. Di sana tercatat bahwa saya menulisnya waktu masih kost di daerah Cisitu Lama, 28 Oktober 2000, tak lama setelah saya keluar dari dunia kampus. Cerpen ini masuk pada buku kedua saya yang sampulnya terpajang di atas, bersama para penulis yang sudah beken: Pipiet Senja, Nurul F. Huda, Rahmadiyanti, Vani Diana, Rintoprie, Bahtiar HS, Herry Nurdi, Eno, dan El-Syifa. Buku ini diterbitkan pada 2001 oleh FBA Press dan disusun oleh Asma Nadia. Waktu itu, saya memakai nama Aswi Harits Dzulfiqar.

Advertisements

18 thoughts on “Misteri Surat Kuning

  1. tati tetep aj hebat kan bos……. aku masih cupu….. dulu pernah c bikin tulisan tentang meditasi yah seperti buku gitu deh tapi g tau ad dimana tu tulisan ku mungkin ud kehapus…. 😀

  2. wow..ternyata bang aswi ini cerpenis! yang ini keren banget. henny juga suka karangan mbak Asma nadia dan Pipiet senja bang. udah pernah bikin novel?

  3. waw, bang… saya kepengen bisa nulis buku, fiksi tepatnya. karena saya suka cerita. tapi kenapa belum2 suka mentok ya bang… jadi sekarang bisanya cuma nulis blog doang… hiks…

  4. >> Henny : Terima kasih kalau suka. Baru satu novel ^_^
    >> AeArc : Terima kasih, makanya bikin sendiri….
    >> arifudin : Mangga, pintunya selalu terbuka kok!
    >> yoan : Kalau sudah bisa nulis blog, seharusnya sudah bisa bikin cerpen tuh. Sok atuh, kita diskusi….

  5. hehehe…pantesan panjang bgt artikelnya,,,taunya seorang penulis..
    trimakasih sudah berkenan singgah di blog sederhana saya [dCamz], salam kenal dan salam silaturrahmi…

    salam, ^_^

  6. wahhhh…kayaknya bisa jaaaadi referensi buku yang bakalan aku beli deh besok…huhehehehe

    bagus banget ceritanya…salam kenal ya bang…ternyata aku main ke blognya penulis ^^

  7. gus..hebat loe ya skrg..bravo deh..moga-moga bisa jadi penulis hebat, dan tulisan2 elo bisa dibuat film…salut..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s