Menjadi Penulis Cap Opor

Siapa sih yang tidak mau menjadi penulis seperti Habiburrahman El-Shirazy atau Andrea Hirata? Dengan menulis buku Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi saja, mereka berdua sudah menghasilkan royalti hingga miliaran rupiah. Tak heran kalau saat ini keduanya pun sudah memiliki ladang bisnis baru. Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman) telah memiliki pesantren, penerbitan, dan sekolah/kursus menulis. Moamar Emka (penulis buku bestseller Jakarta Undercover yang juga menikmati royalti raksasa) pun telah mendirikan Agro Media dan akan menyusul sekolah menulisnya. Dan kalau mau ditambahkan, ada seorang penulis cilik yang tergabung dalam Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) Mizan telah mendapatkan royalti 19 juta tiap bulannya. LUAR BIASA!

Itu baru saja diukur dari kesuksesan penulis Indonesia yang menurut penelitian beberapa badan tertentu, masyarakat Indonesia termasuk yang tingkat bacanya sangat rendah. Jika rendah, tentu daya belinya terhadap buku juga sangat rendah. Idealnya, satu surat kabar dibaca oleh 10 orang, namun di Indonesia sungguh luar biasa karena satu koran dibaca oleh 45 orang. Sedangkan menurut data International Publisher Association Kanada, Indonesia hanya menerbitkan 5.000 judul buku per tahun. Bandingkan dengan Inggris yang telah menerbitkan 100.000 judul buku per tahun. Lihat pula data 2008 dimana Indonesia telah ‘berhasil’ menerbitkan 8.000 judul buku untuk 230 juta penduduknya, bandingkan dengan Vietnam yang–membuat saya menggeleng-gelengkan kepala–jauh lebih berhasil menerbitkan 15.000 judul buku untuk 80 juta penduduknya. Satu buku di Indonesia dibaca oleh 28.750 orang! Lalu bagaimana dengan J.K. Rowling yang telah menjadi miliarder baru di dunia setelah mengeluarkan sihir Harry Potter-nya? Hmmm, siapa pun pasti akan menjulurkan lidahnya karena tergiur.

Saya di sini tidak akan membahas dilematis masyarakat kita yang belum ‘melek’ terhadap dunia tulisan. Mungkin memang masyarakat kita masih terus belajar merangkak sebelum berjalan setelah 64 tahun merdeka. Akan tetapi, demi menambah jumlah penulis di Indonesia seperti yang telah dijelaskan di sini, agar jumlah buku yang diterbitkan terus mengalami peningkatan, lebih baik saya menjelaskan tentang konsep bagaimana menjadi ‘Penulis Cap Opor’. Apa pula ini?

Saya tidak mengada-ada. Jika bisa menjadi penulis ‘Cap Opor’, saya jamin sobat baraya bisa menjadi penulis yang mumpuni dan mampu menghasilkan banyak buku yang tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Saya pun tidak akan menjelaskan tentang sejenis sayuran/sop yang biasa menemani ketupat yang sebentar lagi akan dihidangkan saat lebaran, tetapi saya akan memberikan konsep penulis yang lebih mengandalkan ‘cap’ dan ‘opor’. Cukuplah dua kekuatan itu saja yang harus sobat baraya miliki hingga nantinya akan menjadi keberuntungan atau hoki dalam hidup sobat baraya, baik sebagai penulis atau dalam karir apa pun.

Kekuatan ‘CAP’ yang saya maksudkan di sini adalah CAPABILITY atau KEMAMPUAN. Siapa pun pasti setuju kalau ingin penjadi penulis yang sukses tentu harus mumpuni di bidangnya alias memiliki keterampilan. Dan untuk mendaki ke arah itu, pembelajaran yang terus-menerus adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sobat baraya harus terus menulis, menulis, menulis, tak peduli berapa puluh atau ratus kali ditolak. Dengan sering berlatih, sobat baraya pada akhirnya nanti akan menjadi penulis yang mumpuni atau berkompetensi, entah kapan. Percayalah!

Kekuatan yang kedua dan tidak dapat dipisahkan dengan capability adalah ‘OPOR’ yang tidak lain merupakan OPORTUNITY atau kesempatan. Ya, kedua kekuatan ‘Cap Opor’ ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kemampuan tanpa kesempatan adalah layaknya seorang sarjana yang menganggur. Begitu pula dengan kesempatan tanpa kemampuan adalah seperti seorang pengemis. Keduanya memang berbeda, tetapi lebih banyak dihina daripada dimuliakan. Raihlah kesempatan itu untuk membuat sobat baraya menjadi penulis sukses. Bagaimana caranya? Sosialisasi. Buatlah jaring laba-laba agar sobat baraya dapat berkomunikasi dengan siapa pun juga. Tidak dengan cara menjerat tetapi merangkul banyak orang agar kesempatan itu semakin terbuka lebar.

Kang Abik, Andrea Hirata, dan termasuk J.K. Rowling adalah para penulis ‘Cap Opor’. Mereka sudah memiliki kemampuan dan keterampilan kendati belum diakui, namun mereka semua mengejar kesempatan yang ada dengan semaksimalnya sehingga pada akhirnya mereka dianggap sebagai pelopor dari genre yang mereka usung. Akibat dari kesuksesan itu, tak jarang para pengikut mereka mencoba mendompleng ketenaran dengan mengeluarkan karya sejenis. Mereka sudah merasakan pahitnya ditolak, tetapi pada akhirnya mereka pun merasakan manisnya buah kerja keras sebagai penulis yang mampu menggabungkan dua kekuatan ‘Cap Opor’.

Mari tingkatkan kemampuan dan keterampilan kita sebagai seorang penulis atau sebagai apa pun yang sobat baraya pilih. Terus belajar dan terus menulis tak peduli ada kerjaan atau tidak. Tak peduli ada gempa atau tidak. Tak peduli tulisan sobat baraya akan dibayar atau tidak. Bahkan, tak peduli tulisan itu akan diakui atau tidak. Hingga tak ada yang tahu kalau kesuksesan sobat baraya sebenarnya ada pada tulisan ke seribu sehingga tak perlu berhenti setelah ditolak sebanyak 900 kali. Dan sobat baraya tidak perlu menunggu lama kesempatan itu kalau jaringannya sudah sangat luas. Saya sendiri baru belajar menulis pada 2000 dan bisa menerbitkan buku pertama kali pada 2001. Jadi, siapa takut menjadi ‘Penulis Cap Opor’?[]

NB: Tulisan ini dibuat karena terinspirasi setelah menonton rahasia kesuksesan Tantowi Yahya menjadi presenter ‘Cap Opor’ di salah satu stasiun TV.

Advertisements

7 thoughts on “Menjadi Penulis Cap Opor

  1. ya mas..yg terpenting adalah silaturrahmi aja.. oya mas..bagi ilmunya dong..tulisannya mantap banget

    >> Ya, pererat silaturahmi insya Allah rezeki lancaaar ^_^ silakan diambil saja semoga bermanfaat….

  2. huhu… saya suka ‘iri’ sama orang2 yang tulisannya bagus2 n bisa nerbitin buku… saya teh suka bingung pengen nulis apa, bang… :hammer:

    >> Nulis di blog aja nggak bingung, mengapa harus bingung, apalagi iri.

  3. owh … penulis cap opor yeee … boleh juga, bikin ngiler slruupppp hehehe …
    makasih elmunye bang … TOP deh …

    >> Mudah2an nggak batal ya. Sama2 dan semoga bermanfaat….

  4. Thanks for sharing Bang Aswi.

    Inspired for me sekali…Secara saya yang sudah lama ingin menulis buku belum juga kesampaian.

    Mudah2an tahun ini bisa !

    >> hayu atuh menulis lagi dan terus ditingkatkan semangat menulisnya ^_^

  5. penulis cap opor ?? siapa takut?? xixixixi….

    sakedap…bang Aswi teh yang pernah ketemu di…?????

    >> hehehehehe, dimana hayooo … pasti di indscript ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s