K A L I P T R A

—-Perempuan muda itu menatap ke arah lain.
—-Danau yang terbentuk di sudut matanya sudah tak terbendung lagi, menciptakan aliran sungai yang melukis wajah pasinya, lalu jatuh menetes setelah sebelumnya menggantung pada pahatan dagunya.
—-Nafasnya seperti menahan beban yang amat berat. Urat-urat di kedua bola putihnya pun sudah mulai berisi sel-sel darah sehingga menciptakan rona merah pada kedua matanya. Sakit!
—-Aku memahami apa yang sedang dialami olehnya. Rasa sakit yang sama.
Tak ada angin di ruangan itu. Tak ada suara hingga ukuran mikrodesibel sekali pun. Dua manusia, namun seolah-olah mati. Mati oleh perasaannya sendiri. Terkalahkan oleh kematian yang membuat segalanya berubah. Kematian yang membuat ruangan itu laksana kubur. Gelap dan terasing. Benar-benar senyap. Sampai-sampai aku bisa mendengar tidak hanya kembang-kempisnya jantungku sendiri, tetapi juga derasnya aliran darah di dalam pembuluh darahku dan kejutan-kejutan listrik di seluruh saraf otakku.
—-Ada seonggok daging di keranjang itu … dengan darah yang menggenang!
—-Sementara di luar sana, aku tahu hampir semua orang tengah bergembira. Berkumpul bersama keluarga dan kerabat dengan hidangan khas ketupat yang memiliki nilai magis tidak dua.

—-“Mi, hati-hati. Pelan-pelan, dong, jalannya!” tegurku dengan nada keras sambil berusaha mengejar langkah lebarnya.
—-Akan tetapi teguranku itu hanya bagaikan angin lalu saja yang bahkan tidak bisa menerbangkan bulu-bulu halus sekalipun. Dengan langkah cepat, Umi terus berjalan menyusuri Jl. Dalem Kaum, menyeberangi Jl. Otista yang lumayan padat, hingga menyisir Jl. Cibadak yang sedikit lengang.
—-Pada salah satu toko mainan grosir, Umi langsung masuk dan melihat-lihat. Aku sendiri hanya menghela napas pendek dan ikut masuk.
—-Dua kantong plastik di tangan kanan dan tangan kiriku telah membuat kedua lenganku pegal. Setelah meletakkan sebentar di lantai, aku kembali mengangkutnya dan ikut mengamati mainan-mainan yang ada di sana. Kedua mataku sesaat menatap pada tubuh istriku yang baru dua bulan ini kunikahi. Gerakannya begitu gesit. Terus terang aku begitu mengkhawatirkan kondisinya. Hasil tes kehamilan beberapa hari lalu memang meragukan karena tidak membentuk tanda positif. Hanya ada garis tegas di tengahnya, sementara garis yang memalangnya begitu tidak jelas. Kendati Umi merasa yakin bahwa dirinya tidak hamil, aku beranggapan sebaliknya. Perasaanku mengatakan bahwa ada janin yang sedang tumbuh di rahimnya, tetapi aku tidak memiliki bukti yang kuat untuk membenarkan perasaanku itu.
—-Inilah lebaran pertama yang aku rayakan bersama Umi. Selang sebulan setelah hari pernikahan yang sakral itu, bulan suci Ramadhan langsung menyelimuti kebahagiaan kami. Oleh karena pernikahan kami masih seperti pucuk daun muda yang berwarna pucat dan lunglai, hubungan kami boleh dibilang masih sedang panas-panasnya. Benar-benar cobaan yang berat bagi pengantin baru saat memasuki bulan Ramadhan. Akan tetapi, inilah tantangannya, dan mudah-mudahan Allah memberkahi kami.
—-Cobaan itu kemudian ditambah lagi dengan lemahnya status penulis yang saya sandang. Baru dua buku yang saya keluarkan, itu pun masih keroyokan alias belum memiliki buku sendiri. Ketika istri harus berangkat kerja pada pagi hari, saya sendiri hanya melepas kepergiannya di pintu kamar. Suara ketikan mesin tik tua bergema di kamar atas rumah mertua indah setelah kepergiannya, dan hal itu berlangsung setiap hari: dari pagi sampai sore. Saat itu saya merasa yakin bahwa kepenulisan adalah jalan saya. Kendati belum sempurna, kini saya merasakan buahnya yang sudah mulai manis. Benar-benar perjuangan yang sangat berat pada awal-awal pernikahan saya itu. Bagaimana tidak, saya harus melawan anggapan masyarakat bahwa seorang suami haruslah keluar dari rumah untuk bekerja sementara istri menunggu di rumah. Sementara keluarga kecil saya sangat berkebalikan, istri pergi bekerja sedangkan saya tinggal di rumah. Benar-benar perang mental yang sangat dahsyat.
—-“Kalau yang ini bagaimana, Bang?” tanya istriku menunjukkan mainan pedang yang bisa mengeluarkan suara dan sinar.
—-Aku mengangguk. “Tapi yang itu juga bagus, Mi,” tunjukku pada mainan mobil yang masih tergencet pada tumpukan di sebelah kanan.
—-Proses pemilihan mainan berlangsung lebih dari setengah jam. Setelah itu, empat mainan laki-laki dan satu mainan perempuan sudah kami beli, sama dengan jumlah keponakan kecil kami yang telah menunggu pada lebaran ini di Jakarta nanti. Sama halnya dengan dua kantong plastik yang saya bawa, dua hadiah lainnya untuk keponakan yang sudah agak besar. Bagi Umi yang belum memiliki keponakan di keluarganya, kecuali sepupu yang memang masih kecil-kecil, jelas merupakan pengalaman baru karena keluarga saya di Jakarta memang keluarga besar. Saat itu, saya telah memiliki tujuh keponakan. Oleh karena ingin memberikan sesuatu yang berbeda, kami pun sepakat untuk membelikan barang-barang sebagai hadiah lebaran untuk mereka, bukan uang seperti lazimnya keluarga yang lain.
—-Pada proses pembelian barang-barang untuk keperluan lebaran di penghujung Ramadhan itu, tak jarang saya dan Umi cekcok tentang barang-barang apa saja yang harus dibeli. Termasuk juga berapa lama Umi menghabiskan waktu di tempat tertentu. Ya, inilah pengalaman pertama saya menemani seorang perempuan berbelanja. Luar biasa melelahkan dan membuat saya menggelengkan kepala. Benar-benar proses pembelajaran yang luar biasa. Obat mengalah adalah senjata pamungkas yang bisa saya berikan kepada Umi saat itu.
—-Kekhawatiran saya sebenarnya bukan pada barang apa yang harus dibeli, waktu yang dihabiskan, atau jumlah tempat yang harus kami kunjungi, tetapi lebih kepada kondisi fisiknya. Perasaan saya yang mengatakan kalau Umi sedang hamil itulah yang terus menghantui saya. Apalagi beberapa komentar yang pernah saya dengar dan saya baca bahwa kehamilan muda adalah masa rentan yang harus diperhatikan. Calon ibu tidak boleh capai. Proses pembentukan janin yang sempurna berada pada masa-masa itu.

—-Kumandang takbir baru saja selesai tadi pagi. Inilah kali pertama saya berlebaran di rantau, tepatnya di Bandung. Setelah bersilaturahmi dengan seluruh sanak saudara dari pihak istri, saya pun kembali harus melepas kepergian Umi. Sebagai seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta, tak ada istilah libur meski hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri. Umi mendapatkan jadwal jaga hari ini dan itu harus dijalaninya dengan penuh kewajiban.
—-Saya pun sibuk di rumah untuk membereskan segala sesuatunya, apa saja yang harus dibawa untuk ke Jakarta nanti. Ya, sesuai dengan kesepakatan, sepulangnya Umi pada pukul 14.00 nanti, kami akan langsung berangkat ke Jakarta. Kunjungan perdana istri saya untuk berlebaran di kampung suaminya. “Mau mudak,” kata saya sambil tersenyum untuk menjelaskan bahwa lebaran keluarga saya memang selalu di Jakarta, bukan di kampung seperti kebanyakan orang.
—-Pada saat semuanya telah selesai, ada perasaan tak enak ketika dering telepon terdengar bergema di ruang tengah.
—-“Ya,” jawab saya saat mengetahui kalau telepon itu berasal dari Umi.
—-“Bang, cepat ke sini!”
—-Tak perlu menunggu waktu lama untuk memahami apa yang sedang terjadi. Saya pun langsung melesat meninggalkan tas-tas besar yang sudah dikemas rapi di dalam kamar. Ada perasaan tak menentu selama perjalanan di dalam angkot. Dan perasaan itu makin membenarkan saat menjumpai Umi yang sudah berlinangan air mata.
—-“Usia kandungan Umi sebenarnya sudah berjalan 6 minggu,” kata dokter di hadapan kami menjelaskan dengan sangat hati-hati. “Tapi, ada masalah dengan janin tersebut.”
—-Saya pegang tangan Umi yang terasa dingin. Kami sangat mengetahuinya apa yang harus kami lakukan setelah ini.
—-Dokter itu menangguk, “Ya, tidak ada jalan lain kecuali dikuret.”
—-Bagaimanapun, penjelasan itu laksana suara petir yang amat keras.
—-Setelah menikah, kesibukan Umi memang luar biasa. Sebagai seorang perawat pada instalasi radiologi, tugasnya adalah membuat foto rontgen. Sebulan yang lalu ia mendapatkan tugas foto check-up, yaitu memfoto ratusan orang pada sebuah pabrik, dan itu harus diselesaikan dalam waktu kurang dari seminggu. Tidak hanya itu, sebagai pengantin baru, kami mengalami ‘masa pacaran’ sehingga sering pergi berdua ke tempat-tempat tertentu yang romantis, termasuk buka bersama di berbagai tempat. Kami pun melakukan tes kehamilan saat Umi tidak kunjung mendapatkan menstruasi, tetapi hasilnya negatif alias meragukan karena garis satunya tidak jelas.
—-Pada hari kemenangan bagi seluruh umat Muslim itu, Umi harus mengalami pendarahan di tempat kerjanya. Pendarahan yang merupakan gagalnya janin pertama kami membentuk dengan sempurna. Termasuk gagalnya rencana kami untuk berlebaran di Jakarta.
—-Seonggok daging di keranjang dengan darah yang menggenang itu adalah janin kami berdua. Janin pertama kami yang seharusnya jadi berita gembira bagi keluarga besar kami di hari yang paling bahagia.
—-Tak ada angin di ruangan itu. Tak ada suara hingga ukuran mikrodesibel sekali pun. Dua manusia, namun seolah-olah mati. Mati oleh perasaannya sendiri. Terkalahkan oleh kematian yang membuat segalanya berubah. Kematian yang membuat ruangan itu laksana kubur. Gelap dan terasing. Benar-benar senyap.
—-Kaliptra itu telah pecah. Tidak, bukan pecah, tetapi menguap. Pelindung jasad suci itu telah kembali pada asalnya yang lebih berhak. Memang tidak seperti tumbuhan lumut yang kaliptranya mampu melindungi spora-sporanya hingga siap disebarkan, kaliptra milik kami bukannya tidak mampu. Justru kami berdualah yang tampaknya tidak mampu. Sang Penguasa Jagad lebih tahu apa yang terbaik bagi kami berdua. Belum saatnya bagi kami untuk memiliki anak. Belum sekarang.[]

= Ditulis untuk Proyek 2 FLP =
Papanggungan, 02-11 Syawal 1430H

Advertisements

7 thoughts on “K A L I P T R A

  1. Tulisan yang bagus..
    Tapi, timbul tanya dibenak saya..Apa benar hamil 6 minggu (usia janin 2 minggu) sudah berbentuk seonggok daging ?
    Tq

  2. Sabar ya bang,,,mungkin inilah yang terbaik untuk saat ini…Karea Allah Maha Mengetahui apa – apa yang tidak ketahui…tapi yakinlah Dia selalu punya rencana indah untuk HambaNya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s