Asli atau Bajakan?

Salah satu faktor kunci yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan ekonomi kreatif—ekonomi yang berbasiskan sumber daya intelektual manusia—adalah membangun budaya penghargaan terhadap hasil karya intelektual orang atau pihak lain.

—-“Gila banget, La!” seru Rani dengan wajah berseri-seri. Dia baru saja pulang setelah tadi pagi pamit untuk membeli buku. “Gue nggak nyangka harganya semurah ini,” ujarnya sambil mengeluarkan buku supertebal dari dalam tasnya.
—-Karla hanya menaikkan kedua alisnya saat Rani meletakkan buku berwarna merah itu di depannya. Suara keras pun bergema, bersamaan dengan debu tipis yang beterbangan di sekitar buku tersebut.
—-
“Kamus Besar Bahasa Indonesia,” ucap Karla membaca tulisan yang terpampang besar-besar di halaman muka buku yang sudah dipegangnya itu. Dia memperkirakan kalau ketebalan buku tersebut mencapai 6 cm. Bisa dipakai buat bantal tuh, ujar suara hati Karla iseng.

“Pasti elo nggak percaya, La,” lanjut Rani dengan napas yang masih memburu. Kedua matanya tampak berbinar.
—-“Emang elo harus ngeluarin duit berapa?” tanya Karla penasaran.
—-“Delapan puluh ribu!”
—-Mata Karla membelalak. Lalu dengan serta merta dia langsung memeriksa isi dari buku KBBI itu. Tak berapa lama dia pun tersenyum sinis. “Jelas aja murah, ini kan fotokopian.”
—-“Biarin,” jawab Rani langsung mengambil buku wajib para penulis Indonesia itu dari tangan Karla. “Daripada gue harus ngeluarin duit lebih dari setengah juta untuk membeli buku yang asli,” ujarnya langsung meninggalkan Karla.
—-Tanpa sadar, kedua bola mata Karla terlihat memerah. “Ran, elo tahu kan kalau pekerjaan utama gue penulis dan editor!”
—-Rani menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh, “Trus … emang kenapa?” Terus terang dia agak terkejut melihat perubahan emosi pada diri teman kosnya itu.
—-“Berarti elo nggak menghargai gue!”
—-“Maksud elo?!” tanya Rani tak mengerti.
—-“Kalo elo beli buku bajakan, berarti elo nggak menghargai penulis buku itu dan sederet para pekerja yang ada di belakangnya,” sahut Karla dengan nada suara yang berapi-api. “Dengan begitu, secara tidak langsung berarti elo juga nggak menghargai gue!”
—-Rani pun seperti tertampar. Akan tetapi, jujur saja kalau dia tidak tahu soal itu.
—-“Proses pembuatan buku itu nggak gampang, Ran. Ada banyak proses yang terlibat di sana,” ujar Karla mencoba menjelaskan, dengan emosi yang sedikit mulai berkurang. “Orang-orang yang terlibat di sana pun sangat banyak: ada penulis, editor, pembaca pruf, layouter, desainer, tukang cetak, bahkan sampai ke seluruh pekerja yang ada di penerbitan, percetakan, dan toko buku. Kalau perlu, tukang parkir pun turut serta di sana karena harus mengatur lalu lintas perparkiran mobil pengangkut kertas, tinta, dan buku yang keluar masuk.”
—-“Berarti petugas pengisi bensin juga termasuk, dong,” sahut Rani mencoba mencairkan suasana. Senyumnya agak dipaksakan kendati hambar.
—-Karla mengangguk. “Keterlibatan mereka itulah yang pada akhirnya menghasilkan harga buku. Bagaimanapun, mereka semua harus dibayar sehingga semuanya harus ada perhitungannya yang jelas. Rumit memang, tetapi dari sini elo sudah tahu bahwa dengan membeli buku asli berarti elo juga ikut serta membayar keringat mereka semua.”
—-Rani mencoba merenung. Tak lama dia menunjukkan buku yang baru dibelinya. “Kalau buku ini bagaimana?”
—-Karla mendengus, “Berarti elo hanya menguntungkan satu dua orang yang terlibat dalam pembajakan buku itu. Berapa orang sih yang dibutuhkan untuk membuat produk jiplakan itu? Coba bandingkan dengan puluhan bahkan ratusan orang yang terlibat di dalam pembuatan buku aslinya. Ingat, Ran, satu orang yang terlibat pasti mempunyai keluarga. Jelas, elo sudah merugikan banyak orang demi menguntungkan satu dua orang yang nggak memahami mahalnya kreativitas.”
—-“Berarti gue salah, ya, La,” ujar Rani pelan. Tubuhnya merasa lemas dan langsung terduduk begitu saja.
—-Karla tersenyum dan langsung memeluk sahabatya itu. “Nggak juga. Elo emang nggak tahu aja. Belum ngerti. Mudah-mudahan, ke depannya elo nggak ngulangin hal ini. Syukur-syukur elo bisa tularkan hal baik ini pada orang lain.”
—-“Sori ya, La.”
—-“Nggak apa-apa,” jawab Karla dengan bijak. “Yang perlu diingat, semua proses kehidupan ini saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Kita mungkin nggak tahu atau nggak sadar kalau ada saudara atau teman kita yang terlibat pada proses itu. Bukan hanya industri buku, tetapi juga industri-industri kreatif lainnya seperti pembuatan film, kaset, barang elektronik, software, dan lain-lain. Setiap orang pasti nggak mau kalau ada teman atau saudaranya yang dirugikan, apalagi jika hal itu terjadi pada diri kita sendiri. Elo pasti sedih, kan, kalau negeri tercinta kita ini terus dicap sebagai negeri pembajak. Bisa jadi tidak adanya keberkahan negeri ini karena masyarakatnya belum mau menghargai karya intelektual yang banyak tersebar di mana-mana. Nggak usah muluk-muluk deh menciptakan program ini-itu yang memakan biaya mahal, kita bisa, kok, memulainya dari hal yang amat remeh agar negara Indonesia ini bisa berkah.”
—-“Apaan tuh, La?”
—-“Mulai saja dari diri sendiri untuk selalu membeli produk-produk yang asli. Bukan produk-produk bajakan yang sudah jelas kualitasnya nggak seberapa itu.”[]

[Ditulis untuk Lomba Blog HKI]

Advertisements

30 thoughts on “Asli atau Bajakan?

  1. bang, setuju banget dengan artikel ini. Yuk mulai dari diri sendiri untuk menggunakan yang tidak bajakan, termasuk OS windows dan software-software lainnya di lingkungan Windows, kecuali kalaiu kita memang mengeluarkan uang untuk membelinya..

    salam…

  2. kadang saya masih suka kopi buku teks kuliah karena harganya yg selangit ituh… maklum mahasiswa
    tp klo saya jd penulis pasti jg sedih krn banyak yg tidak menghargai kerja keras saya spt itu 😦

  3. Saya juga sependapat dengan abang. kalo saya dari segi kualitas bukunya, karena buat saya buku bisa menjadi koleksi bahan bacaan untuk anak kita.

  4. >> fety : Salam juga … termasuk juga kalau kita belum mampu membeli yang asli T_T
    >> boyin : Betul itu, namanya juga barang yang akan diwariskan ^_^
    >> Q11901 : Iya, betapa susahnya mereka menciptakan ide yang bikin kepala gundul!

  5. stop pembajakan!!!!
    hargai segala hasil karya dan kreatifitas dengan menghilangkan image yang sudah tertanam sebagai negeri pembajaka!!!!

    walaupun harganya miring, bajakan tetap aja bajakan

  6. Hehehe…buat mahasiswa yang tak punya uang, membeli buku bajakan akan membuat dia bisa belajar. Jadi ingat zaman dulu, belum ada cerita bajakan, tapi yang namanya pinjam perpustakaan aja, kami bagi beberapa kelompok untuk meringkas dan di stensil, untuk dibagi ke teman sekelas. Fotokopi? Baru ada setelah tingkat Sarjana Muda.

  7. untuk film gue masih rela beli yang asli, apalagi kalo filmnya emang bagus banget, berbanding lurus dengan kualitas soalnya

    tapi kalo buku pelajaran yang harganya setinggi langit, jangankan yang asli, bajakan aja ga rido. udah harganya mahal, dibacanya cuma sekali, kualitas asli sama bajakan hampir ga ada bedanya pula

  8. Sebagai bukti peduli kita terhadap linkungan yang semakin menuju ke dalam fase degradasi, PetaMasaDepan Dev (PMD). mengajak para Blogger Indonesia sekalian untuk mengkampanyekan lingkungan hidup.

  9. Sebenarnya bergantung kepada kita sendiri. Kita mau menghargai proses kreatif dalam membuat buku itu atau tidak? Kalau kita menghargai kreativitas dalam membuat suatu buku, buku berharga setengah jutaan pun pasti kita beli.

  10. Saya tidak suka buku bajakan meskipun lebih murah harganya. Apalagi niat awal mengoleksi buku untuk warisan. Takut diikuti anak cucu dimasa akan datang.

  11. >> adi : insya Allah, Di.
    >> vicky : Betul sekali, Vick.
    >> puspita : Hehehe, apalagi itu. Masa dipakai oleh anak cucu kita serba fotokopi ^_^
    >> BO : Ya, sudah pasti itu.

  12. >> senny : Hehehehe semua punya pilihan masing-masing ya. apalagi sekarang sudah ada buku sekolah elektronik yang bisa diunduh gratis.

  13. Oh iya Bang, saya juga pernah beli buku murah di Kwitang. Kata temen itu buku sortiran & memang ada halaman yg hilang. Jadilah sy ke Kwitang buat membelinya. Tapi setelah sy terlibat di dunia penulisan cie..(padahal blm hehe…) sy beli buku asli. Buku murahnya dah sy kasihkan orang.

  14. >> Mimin : Kisah di atas pun sebenarnya juga terjadi pada saya. Saya belum punya uang dan terpaksa beli KBBI bajakan. Saya menyesal karena banyak pula halaman yang hilang ^_^

  15. beli lah yg asli…di toko buku tentunya!!! 😀
    dan jangan membajak bagaimanapun bentuknya *walaupun susah bgt pasti…hehehehe*

  16. Wah, jadi maluuu, kadang aku suka ubek2 lapak buku-buku bekas di deket stasiun UI, kadang ada juga judul baru, trus si penjual suka tanya, ‘Mo yang asli or biasa?’ Kadang aku suka tergoda beli yang ‘biasa’ karena harganya memang bisa setengah dari harga buku aslinya.

  17. Awalnya saya suka membeli buku, ketika pergi ke Jkt, saya kaget banget melihat banyak sekali penjual buku yang harganya jauh dari yang sy beli apalagi harganya masih bisa nego…. untung aja di Sby ga spt itu…

  18. biar bajakan yang penting bisa di baca dan bisa diambil ilmunya daripada kita yang miskin mau beli yang asli tapi uang G cukup yach mending yang mencukupi ajach……..makanya jangan jual buku yang susah di jangkau harganya ma konsumen ingat tiap orang berbeda-beda dari segi finansialnya jadi jangan salahkan yang beli bajakan. khan juga untuk kecerdasan masyarakat sebagai bangsa yang perlu dicerdaskan ada khan dalam undang-undang negara mencerdaskan bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s