Melatih Kepenulisan: Apabila John Bertemu John

Seorang penulis tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Waktu baginya, adalah menulis. Tanpa ide pun ia akan menulis. Yang ada di pikirannya adalah menulis, bukan ingin menulis apa. Dan ketika menulis, ia akan menemukan gagasan akan menulis apa. Sungguh tepat jika William Forrester mengatakan, “Menulislah (pada saat awal) dengan hati. Setelah itu, perbaiki tulisan Anda dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan.” William Forrester adalah tokoh fiksi dalam film Finding Forrester yang diperankan dengan sangat apik oleh Sean Connery.

Nah, yang jadi permasalahan adalah bagaimana kita mau menulis kalau apa yang mau ditulis saja tidak tahu? Ternyata jawabannya mudah, itu pun kalau sobat baraya mau meneruskan membacanya.

Once upon a time … hehehehe kayak dongeng-dongeng zaman dahulu ya … John Aktor melewati kamar kawannya, John Penulis yang sudah siap di meja kerjanya. Perlu diketahui bahwa John Penulis mempunyai kebiasaan bangun pagi pada jam tertentu dan langsung “ngejogrog” di depan mejanya. Iseng karena ingin tahu, John Aktor pun mengamati kerja John Penulis. Seperti tidak ada yang aneh, John Penulis ternyata menulis seperti apa adanya. Tidak ada komputer pada saat itu karena memang belum ada.

Setelah satu jam, John Aktor meninggalkan kamar John Penulis untuk melanjutkan aktivitasnya sendiri. Selang dua jam kemudian, John Aktor kembali mengamati, dimana John Penulis ternyata masih menulis dengan tekun. John Aktor sangat salut pada kawannya itu. Setelah satu jam kemudian, yaitu tepat pada tengah hari, ternyata John Penulis menghentikan aktivitasnya sehingga melegakan John Aktor yang sudah pegal-pegal mengamatinya. Nah, inilah yang membuat mata John Aktor membulat besar karena dia melihat bagaimana John Penulis malah meremas-remas kertas yang sudah ditulisnya selama 4 jam, lalu dibuang begitu saja ke tong sampah! John Aktor tidak habis pikir dengan kelakuan kawannya itu. Akan tetapi ia tidak mau menanyakan alasannya sekarang, lebih baik ia menunggu sampai waktu yang tepat.

Keesokan harinya, pada jam yang sama John Aktor kembali mengamati aktivitas John Penulis. Tidak ada yang aneh selama 4 jam kemudian, yaitu John Penulis sangat tekun menjalani aktivitas menulisnya. Pada saat tengah hari, kembali John Penulis membuat kening John Aktor kembali mengerut karena kertas yang ditulisnya diremas begitu saja dan dibuang lagi ke tong sampah. Dan kejadiannya ternyata bukan terjadi pada hari itu dan kemarin saja. Pada hari-hari berikutnya ternyata John Penulis melakukan hal yang sama: menulis selama 4 jam, lalu hasilnya malah diremas dan dibuang begitu saja ke dalam tong sampah. Akan tetapi ternyata tidak pada hari ketujuh, John Aktor yang sudah siap bahwa kertas yang sudah ditulis John Penulis akan dibuang lagi, malah disimpan dengan rapi ke dalam mapnya yang sudah dipersiapkan. Jelas hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sudah saatnya bagi John Aktor untuk menanyakan sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.

“Nggak usah bingung, John,” kata John Penulis pada kawannya yang menanyakan aktivitasnya selama ini. “Apa yang saya lakukan selama enam hari kemarin adalah proses latihan yang saya terapkan sebagai upaya menajamkan mata pena saya. Saya menulis hal-hal yang mudah saja, yaitu apa yang saya lihat di kamar ini. Saya menulis tentang warna gorden, gerakannya saat tertiup angin, maupun suara besi pengaitnya yang khas. Saya pun menulis tentang apa dan siapa saja yang lewat di depan jendela. Saya menulis semuanya dengan detail, tanpa ada sesuatu pun yang terlewat. Saya tak pernah luput menulis lalat yang kebetulan terbang memasuki kamar, dan hinggap ke manapun yang disuka sampai kemudian terbang kembali ke luar. Apa yang saya lakukan selama enam hari itu adalah bagaimana saya bisa menguasai kata-kata, sesederhana apa pun. Kata-kata hanya bisa dikuasai dengan menuliskannya.”

John Aktor sedikit memahami, “Jadi, enam hari kamu menulis dan kemudian membuangnya begitu saja ke dalam tong sampah adalah hasil latihan saja?”

John Penulis mengangguk. “Ya, sedangkan pada hari ini saya telah menulis apa yang seharusnya saya tulis. Inilah karya saya yang sebenarnya,” ujar John Penulis menyerahkan hasil karyanya, yaitu cerpen yang berjudul ‘Sang Kura-kura’ pada kawan karibnya itu. “Kesusastraan adalah seperti tuanya kata-kata…. Tugas zaman purba dari penulis tidak berubah. Ia ditugaskan mengadakan pembeberan banyak kesalahan menyedihkan dan kegagalan manusia, dengan menghela ke arah sinar terang mimpi kita yang gelap berbahaya untuk tujuan perbaikan,” lanjut John Penulis dengan tersenyum.

NB: John Penulis adalah John Ernst Steinbeck yang dilahirkan di Lembah Salinas, California, 27 Februari 1902, dan meninggal pada 20 Desember 1968 di New York. Ia pernah bekerja sebagai tukang batu, tukang kayu, sopir, pembantu pelukis, dan wartawan. Novel The Grapes of Wrath (1939) memenangkan hadiah Pulitzer pada tahun 1940. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Amarah. Kata-kata terakhir di atas adalah pidatonya saat menerima hadiah Nobel Sastra pada tahun 1962 yang memberikannya karena alasan ‘untuk tulisan-tulisannya yang imajinatif dan realistik, dikombinasikan dengan humor yang simpatik dan persepsi sosialnya yang tajam.’ Novel masterpiece-nya adalah The Red Pony (1949) yang mengabadikan dunia kanak-kanak dengan mengungkapkan perihal kasih sayang lewat impian dan cita-cita yang tinggi.

Advertisements

12 thoughts on “Melatih Kepenulisan: Apabila John Bertemu John

  1. wah saya belajar banyak nih dari cerita ini bang…ternyata proses latihan pun harus dinikmati sehingga tercipta ketekunan dan ketekunan itu akan menciptakan pengetahuan/skill baru setelah itu baru hasilnya…two tumbs up!

  2. wah..ternyata menulis juga tidak sesulit kelihatannya ya. yang penting adalah bagaimana kita belajar dan melatih diri kita

    cerita yang bagus bang aswi!

  3. >> boyin : Ya, begitulah, Mas Boy. Mana puisinya? Saya lihat dulu ya….
    >> henny : Ya, kita harus terus melatihnya. Makasih, Hen.
    >> sobatsehat : Baru tahu ^_^

  4. Subhanallah, wah jadi harus menyempatkan menulis setiap hari dan mendeskripsikan apa2 yang kita rasa dan lihat secara detil. Hmmm … oke akan aku coba …
    Wah jadi semangat nih bang … ^_^

  5. menulis dari hati ya ban9??
    iyah bener..samapi saat ini aku ju9a nda tau apa aku suda menulis dari hati *meski in9in..

    menurut aban9 tulisan diblo9 aku 9imana?
    *hehe sekalian nanya 😳 makasi

  6. Sebuah tulisan yang bagus, Bang. Saya terkesan. Begitu banyak orang (termasuk saya tentunya) yang ingin disiplin menulis, tetapi bingung di step awal: mau nulis apa? Saya rasa kita yang Abang berikan bisa jadi salah satu resep mujarab bagi teman-teman. Terima kasih.

  7. Trims sharing nya bang aswi. Untuk membiasakan diri menulis sebenarnya tidak sulit ya, sediakan waktu 20 menit saja setiap hari untuk menulis. menulis apa saja yang ada di kepala, ungkapan perasaaan, dll. Untuk pembiasaan menulis saja.
    Yuuuuk, kita mulai menulis 🙂

  8. >> siska : harus semangat, dong. hayulah menulis….
    >> wi3nd : sudah lumayan, tinggal dilanjutkan dan terus menulis kendati nggak ada yang membaca.
    >> ridwan : selamat menikmati dan mencoba, wan.
    >> nana : ya, memang seperti itu. yuk, menulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s