Menentukan Sikap dalam Menulis

Naskah ini dimuat di Harian Pikiran Rakyat (Kamis, 5/11/09) pada suplemen Kampus (Literasi)

Adakah bagian dari tubuh manusia yang dapat membedakan dua orang yang kembar? Ya, tentu saja ada, yaitu sidik jari. Artinya, tidak ada dua manusia di dunia ini yang memiliki sidik jari yang sama, kendati keduanya termasuk yang kembar identik sekalipun. Tak heran jika kemudian sidik jari telah menjadi metode identifikasi yang masih digunakan hingga kini.

Sidik jari sebenarnya telah digunakan beberapa ribu tahun yang lalu, yaitu oleh orang-orang Suriah dan Cina sebagai penanda sahnya sebuah dokumen. Sedangkan penggunaan modernnya diperkenalkan oleh seorang ahli psikologi Ceko, Johannes Evangelista Purkinje, yang pada 1823 mengajukan cara mengidentifikasi seseorang berdasarkan alur yang terdapat pada ujung jari. Cara ini kemudian diperbarui oleh Sir Francis Galton, seorang ilmuwan Inggris, pada akhir abad ke-19. Hingga kemudian, Sir Edward Richard Henry yang membawahi kepolisian di Bengal, India, pada 1890 mulai menggunakan sidik jari untuk mengidentifikasi kasus kriminal.

Dalam bidang kepenulisan, sidik jari tadi bisa berarti ‘style’. Style adalah gaya, model, atau sikap. Salah seorang motivator Indonesia pernah menjelaskan tentang konsep Wild Management atau manajemen orang-orang liar. Konsep ini saya dapatkan saat diundang secara gratis oleh salah satu penerbit di Bandung. Lokasinya pun cukup strategis dan mewah, yaitu di hotel berbintang yang juga ada di Bandung. Tidak aneh jika Sang Motivator tersebut mengemukakan manajemen orang-orang liar karena orang-orang yang diundang adalah para kreator dunia buku yang cukup liar, termasuk kelompok musik yang menghibur adalah orang-orang liar dengan lagu yang lirik-liriknya juga sangat liar. Sobat baraya mungkin bisa menebak apa nama kelompok musik ini yang salah satu pentolannya adalah penulis empat buku seri ‘Drunken’ yang sedang ramai dibicarakan saat ini.

Sang Motivator menjelaskan bahwa ciri khas utama dalam Wild Management adalah working with your style. Bekerjalah dengan gaya atau ciri khas sobat baraya sendiri. Okelah dari kacamata sobat baraya, orang lain terlihat lebih ‘wah’ dan berhasil, apalagi jika melihat artis idolanya. Bisa jadi mereka semua hanya memiliki keunggulan dari segi tampang dan ketenaran atau apapun yang menjadi kelebihannya, tetapi di luar itu siapa yang tahu. Intinya adalah … jangan pernah mau menjadi orang lain. Sobat baraya adalah orang yang unik, the only one, spesial. Tidak ada orang yang sama di dunia ini, kendati kembar sekali pun. Adakah sidik jari yang sama? DNA yang sama? Inilah intisari dari manajemen orang-orang liar. Ingat akan kata kuncinya: working with your style.

Tulislah apa yang ingin sobat baraya tulis. Kendati pada saat awal sobat baraya banyak belajar dari para penulis yang lebih dahulu berhasil, misalnya dengan mencoba mengikuti cara menulis mereka (copy the master), pada akhirnya sobat baraya harus bisa memutuskan untuk menulis dengan cara tersendiri. Bukan meniru-niru apalagi sampai melakukan sesuatu yang amat tidak terpuji: plagiat. Amit-amit! Buatlah sesuatu dengan gaya dan cita rasa sobat baraya sendiri, lalu jadilah orang pertama yang menciptakan tren, bukan menjadi kelompok pengikut yang hanya bisa berteriak ‘A’ saat diberikan aba-aba ‘A’ dan kemudian berteriak ‘B’ saat diberikan aba-aba ‘B’.

Sebagai penutup, cobalah untuk berhenti sejenak. Islam menyebutnya dengan istilah muhasabah. Kejawen menyebutnya dengan semadi. Para penulis menyebutnya dengan rehat. Para aktivis rapat menyebutnya dengan jeda. Para olahragawan menyebutnya dengan menghirup napas secara perlahan-lahan. Para wasit menyebutnya dengan time-out. Pakde dan pakle saya bahkan menyebutnya dengan ngopi dulu. Apapun istilahnya, renungkan sejenak siapa diri sobat baraya. Apa keinginan sobat baraya. Apa sebenarnya yang ingin sobat baraya tulis.[]

NB: Naskah selengkapnya bisa dilihat di PR Kampus.

Advertisements

16 thoughts on “Menentukan Sikap dalam Menulis

  1. saya kira tadi judulnya ada hubungannya dengan kasus yang saat ini lagi merebak, yaitu ‘pertikaian’ antara cicak dan buaya di negeri kita he3

    Hmm…saya sendiri sampai saat ini masih mencari-cari style yang bener2 mencerminkan diri saya. thanx udah mengingatkan.

  2. >> mbah gendeng : biar gendeng yang penting produktif!
    >> ihwan : itu mah biar yang ngurus orang2 yang berkepentingan, kepentingan saya hanya masalah tulis-menulis saja. semangat mencari ya….

  3. tadina aku ju9a sempat berfikir,aku kok nda secerdas purr,putri,insan,ney,bund dlam penulisan
    pen ban9ed kaya mreka,hin99a akhirna sadar yah i’m the way i’m is,and i love it..
    jadi tulisanQ sekaran9 ya its my style,meski banyak blajar..
    termasuk huruh “9” ituh ban9 .. 🙂

  4. Saya ingin menulis tentang “Manusia Setengah Malaikat”
    Kisah-kisah orang biasanya yang menjadi “Pahlawan” bagi
    sesamanya. ^_^

    salam

  5. terus terang saya kuran baik dalam menulis, mengatur tata bahasa yang baik dan benar. tetapi saya terus menulis dengan apa adanya sesuai kemampuan saya. tapi ada yang bilang gaya penulisan saya unik ( baca : nggak terbaca ) hehehehhe
    terima kasih bang asnawi………telah membantu saya dalam mencari inspirasi dalam menulis

  6. Assalamu’alaikum,
    Dengan semakin banyak kita menulis, InsyaAllah dengan sendirinya kita akan menemukan suatu pola/gaya ciri khas dari tulisan kita. Yang paling penting, jangan pernah berhenti menulis, seperti yang dikatakan Stephen King : “‘Kegagalan pertama seorang penulis adalah ketika ia pertama kali berhenti menulis” (Dewi Yana)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s