JAGOAN [Part 2 of 3]

cerita sebelumnya….

—-KRIIINNGGG…!
—-Aku terlonjak bangun dari mimpiku dan segera menengok ke kiri-kanan. Teman-temanku sudah mulai bergerak meninggalkan bangku. Mereka tampak riang dan berceloteh bersama sejawatnya. Jam istirahat sekolah. Aku mulai menggeliat dan menguap lebar-lebar dan… ups! Rupanya Pak Rudi sempat memelototiku dari balik jendela kelas. Aku pun mencoba mengangguk dan tersenyum manis kepada guru sejarahku itu, “Oahhemm….”
—-“Fajaaar, Fajar…! Dari dulu nggak pernah berubah lu?” sebuah suara keras terdengar dari sebelah kiriku. Aku menoleh dan membentuk mulutku menjadi garis melengkung ke atas. “Nggak di mana, nggak kapan, kerjaan lu molooor aja,” sahutnya lagi.
—-Aku menggaruk kepala, “Abis mau diapain lagi, Dan!”
—-Dani menepuk pundakku, “Ya udah, kita ke kantin aja yuk!”
—-“Ayo!” Aku bangkit dan berjalan mengikuti Dani keluar kelas. Baru saja aku akan membelok, tiba-tiba….
—-PRAANNGGG…!!!

—-Aku berhenti dan menatap Dani. Segera saja aku berbalik kembali ke kelas dan kulihat kaca-kaca jendela kelas yang bersebelahan dengan tembok pembatas sekolah telah pecah! Suara teriakan dan pecahan kaca jendela kembali terdengar, tetapi kali ini dari kelas sebelah. Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari ke arah gerbang sekolah mengikuti anak-anak lain yang telah mendahului. Semua aktivitas jam istirahat terhenti seketika dan pusat perhatian hanya tertuju pada ruangan kelas dan gerbang sekolah. Suasana sekolah benar-benar ramai dan kacau! Langkahku terhenti ketika sampai di gerbang sekolah. Satpam dan para guru telah menghadang kami agar tidak keluar.
—-“Pak! Minggir, Pak!”
—-“Sekolah kita diserang, Pak!”
—-“Iya, Pak! Masa kita diam saja…!”
—-“Sabar! Sabar…!”
—-“Gimana mau sabar, Pak!”
—-“Sabar! Jangan menambah masalah ini menjadi lebih rumit lagi!”
—-“Mereka yang mulai duluan, Pak!”
—-“Iya…, tapi bisa sabar nggak!”
—-Dorong-dorongan pun terjadi. Tanpa menyadari tenaga yang kukerahkan, aku berhasil menerobos ke luar gerbang. Tepat pada saat gerbang yang terbuat dari besi itu berhasil ditutup oleh Pak Kadir—satpam SMA Garuda—dan beberapa orang guru. Aku berlari kencang ke arah jalan besar, bersama-sama dengan kawan-kawan satu sekolah yang juga berhasil ke luar.
—-“Anak mana sih?” tanyaku pada Jodi yang berlari di sebelahku.
—-“Anak STM Relief.”
—-“Relief?!” seruku tak percaya.
—-PRAKK!
—-Sebongkah batu bata hampir saja mengenai kepalaku. Aku merunduk dan berlindung di balik pembatas Jembatan Item setinggi setengah meter. Kawan-kawan membalas serangan sambil berteriak-teriak.
—-“Woi! Sini lu!”
—-“Bangsat! Kalo berani satu lawan satu!”
—-Aku telah berhasil mengambil serpihan batu bata, dan langsung melemparkan ke arah gerombolan anak-anak STM Relief yang berlari-lari di tengah jalan utama. Lalu berlari ke arah kawanku yang tengah memegangi kepalanya yang berdarah. Aku tidak tahu siapa namanya, tetapi aku tahu kalau dia anak kelas 2.
—-“Lu nggak pa-pa?” tanyaku sambil mencoba melihat lukanya.
—-“Aduh, sakit!” serunya menepis tanganku.
—-“Sori!” Aku menoleh ke belakang. “Lu ke warung itu aja,” tunjukku pada warung langgananku. “Bersihin luka lu dulu di sana, biar nggak infeksi.” Aku pun segera berlari lagi sambil mengambil batu-batu yang berserakan dan melemparkannya lagi ke arah anak-anak STM Relief. Kulihat beberapa anak-anak kampung ikut membantu sekolahku sambil membawa beberapa senjata tajam dan balok-balok kayu. Kawan-kawanku, termasuk aku sendiri, merasa bersemangat kembali melihat mereka yang juga ikut melempari anak-anak STM Relief.
—-Tetapi anak-anak STM Relief itu beruntung!
—-Mereka berhasil mencegat salah satu truk dan segera menaikinya. Beberapa di antara mereka sudah terlihat berdarah, dan dibantu oleh teman-temannya untuk naik truk itu. Beberapa orang kawanku berhasil berada di dekat truk itu, tetapi tetap harus menghindari serangan sabuk mereka—yang berkepala besi tajam—dan mengayun-ayun dengan ganasnya. Truk itu melaju kembali dengan kencang, hingga kami tidak dapat lagi mengejar mereka.
—-“Bangsat!” rutuk kawanku sambil memandang ke arah truk berisi anak-anak STM Relief yang menghilang.
—-Kami semua berdiri dan saling memandang. Beberapa di antara kami segera membantu kawan-kawan yang terluka. Tidak lebih dari 20 orang yang berhasil ke luar sekolah dan membalas serangan anak-anak STM Relief itu—yang juga tidak lebih dari 20 orang.
—-“Alasannya apa sih?” tanya seorang anak kampung padaku.
—-Aku menggeleng.
—-“Kayaknya gara-gara pertandingan volley kemarin,” jawab salah seorang kawanku yang tengah berdiri di belakangku.
—-“Volley?” tanyaku mengernyitkan dahi.
—-“Yup. Kemarin di GOR Permai ada pertandingan volley persahabatan antara sekolah kita melawan STM Relief. Ini atas prakarsa guru.” Ia menyeka keringatnya yang membanjir. “Sekolah kita unggul, tetapi pendukung tim mereka tidak terima dan mulai melakukan aksi-aksi yang kurang ajar seperti mengeluarkan kata-kata yang nggak enak didenger kuping. Awalnya kita berusaha tenang dan sabar, tapi akhirnya kita nggak bisa lagi saat mereka melakukan anarkis.”
—-Aku memiringkan kepalaku.
—-“Keributan berhasil diredam dan akhirnya pertandingan volley itu dimenangin oleh sekolah kita, tetapi di luar GOR, beberapa kawan kita berkelahi lagi dengan mereka dan … lu liat sendiri terusannya sekarang….”
—-Aku mengangguk. Namun dalam hati aku bersyukur bahwa penyebabnya bukan karena aku.

bersambung….

Advertisements

7 thoughts on “JAGOAN [Part 2 of 3]

  1. Hmmm….
    Dulu waktu saya baru masuk kuliah, jg ada tawuran antar fakultas. Gara-2 nya main bola. Seorang pemain dilempar aqua dari arah penonton. Mulailah tawuran ga jelas. Dan saya yg salah duduk (saya dan teman-2 duduk di bagian lawan, krn ada kawan kami dari fak tsb) langsung kalang kabut. Berlarian turun, dan cari selamat lari sampai ke lap tenis hahaha… Untung ibu2 yg main tenis itu baik hati, kita dibolehkan lewat (sebelumnya caddyntya gak ngasih lewat, bodat emg tu orang!). Alhasil ada beberapa teman yg bocor kepala, dan tentara serta brimob datang ke sana. Selama dua pekan, anak2 kampus kami menghindari lewat jalan belakang, soalnya jalan belakang itu pas di depan kampus lawan. Hahahaa…
    Kapok dah nonton bola!!

  2. >> zee : untung Zee selamat. banyak hal yang sebenarnya remeh, tapi jadi kejadian sebuah tawuran. bahkan, dari hanya sekadar lihat2an saja sudah bisa terjadi tawuran. jadi keingetan pas diopname di RS yang berada di pinggir jalan, nonton tawuran yang terjadi di depannya, yang jadi korban langsung RS, padahal langsung ditolak mentah2 sama petugasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s