Mencari Ide dengan Lemparan Ajaib

Menulis adalah profesi, dan hal itu sudah pernah saya bahas di sini. Apapun aktivitas kita, adalah profesi. Apabila aktivitas sobat baraya sehari-hari adalah mengajar, berarti profesi sobat baraya adalah menjadi seorang guru atau dosen. Begitu pula jika aktivitas sobat baraya sehari-hari adalah menulis. Dan profesi, pada titik tertentu akan mengalami kemandulan. Suatu saat, manusia akan mengalami kehidupan di bawah. Bagi seorang penulis, masa ini bisa jadi adalah kejumudan yang membuatnya tak dapat menemukan ide. Namun seperti sebuah roda, kehidupan akan terus bergulir. Dunia kepenulisan akan terus bergulir. Pada titik inilah seorang penulis harus beristirahat. Bertamasya. Mungkin menulis diari bisa menjadi pilihan tamasya yang menyegarkan. “Orang yang kembali ke buku harian adalah orang yang mencari dirinya, penyusuran jalan menuju pengembangan dan kesadaran, jalan menuju kreativitas,” kata Anais Nin.

Akan tetapi, bagaimana dengan orang yang aktivitas sehari-harinya adalah menulis diari? Carilah bentuk tamasya lainnya. Intinya adalah menyegarkan. Setelah bertamasya, otak dan fisik sobat baraya kembali menjadi segar dan siap untuk beraktivitas kembali.

Cobalah berjalan-jalan dan temukan ide itu. Bacalah! Kunjungi orangtua atau sahabat atau siapa pun yang tanpa disadari mungkin sudah terlupakan. Kembangkan sayap rajawali kita selebar-lebarnya. Buka koneksi yang lebih luas lagi. Lalu terbanglah tinggi-tinggi. Lihatlah ke bawah … betapa luas gagasan dan ide yang ada di sekitar kita. Masih belum bisa menulis? Cobalah untuk tidur. Lupakan pikiran bahwa kita ingin menulis. Tidur saja, dan bermimpilah. Dan ketika bangun, segera menulis!

Mbak Arleen, salah seorang penulis anak bergelar BSc dan MBA dari Santa Clara University, memberikan sebuah tips yang luar biasa tentang bagaimana mencari ide, kendati beliau sendiri tidak merencanakannya. Sebut saja proses mencari idenya itu dengan lemparan ajaib karena memang apa yang dilakukannya memang melempar sesuatu. Dari sanalah beliau mendapatkan ide yang ajaib sehingga dapat terus berkarya hingga menghasilkan lebih dari 90 buku anak dan salah satu bukunya (Kodi the Singing Frog) masuk MURI sebagai buku terbesar (3 x 3 meter persegi).

Kendati tidak persis sama dengan apa yang dilakukan oleh Mbak Arleen, sobat baraya bisa menyusun lima kata kerja, misalnya menangis, terbang, berlari, bernyanyi, dan tertawa. Nomorilah kata-kata tersebut dari satu sampai lima, lalu tulislah pada kertas putih yang ditempelkan ke koin limaratusan. Pada kertas berwarna kuning tulis pula angka satu sampai lima yang juga ditempelkan ke koin duaratusan, sebagai perwakilan dari kata-kata benda seperti kursi, pensil, meja, mobil, dan sepatu.

Buatlah sebuah lingkaran kecil atau tempatkan gelas pada jarak lima meter dari kita. Lima koin limaratusan dan lima koin duaratusan yang sudah dikumpulkan, bisa sobat baraya lempar secara bersamaan sehingga ada dua atau koin yang masuk ke dalam lingkaran atau gelas tersebut (usahakan agar dua koin yang masuk berwarna berbeda). Dua koin itulah yang bisa dijadikan ide tulisan sobat baraya. Apabila sobat baraya mendapatkan angka dua pada koin limaratusan (kertas putih) dan angka lima pada koin duaratusan (kertas kuning), berarti sobat baraya telah mendapatkan kata terbang dan sepatu. Nah, sobat baraya telah mendapatkan sebuah judul atau tema cerita dari dua kata itu, yaitu sepatu terbang.

Sobat baraya bisa mengganti kata-kata tersebut sesuai dengan apa yang ingin ditulis. Begitu pula dengan cara yang paling disukai, misalnya mengambil lidi yang sama panjang tetapi sudah ditandai. Tentu hal ini akan menjadi aktivitas yang menyenangkan, dan bisa dilakukan bersama anak-anak atau keponakan sobat baraya. Bukan tidak mungkin sobat baraya akan mendapatkan cerita tentang pensil bernyanyi, kursi tertawa, atau mobil menangis. Just have fun and find your own story!

“Karya sastra tidak hanya berupa buah naskah atau buku yang berwujud terbitan, akan tetapi terutama suatu ‘proses interaksi’ yang memiliki prolog dan epilognya juga. Sastra pada hakikatnya sudah mulai dari saat penulis terkena benih hasrat ingin menyampaikan sesuatu, sampai pada fase kritik dan kontra-kritik hasil jadi. Sastra bergerak juga dalam percakapan-percakapan pribadi maupun secara resmi tertulis atau terkata dalam diskusi-diskusi kemudian. Seluruh jangka dan acara bersastra atau menyastra sangatlah luas, penuh variasi. Dan sekian suka-duka aksi serta reaksi antara penulis, diri-sendiri, para sumber dan bahan-bahan informasi lain, kritikus, penerbit, ilustrator, resensor, dan terutama para pembaca, itu semua pada hemat saya suatu peristiwa (‘happening’) yang terdiri dari fase-fase dan bagian-bagian penghayatan yang semuanya penting, pantas diperhatikan dan dinikmati juga,” kata Y.B. Mangunwijaya sebagai penutup dari tulisan ini.[]

Advertisements

14 thoughts on “Mencari Ide dengan Lemparan Ajaib

  1. >> inf.bid : insya Allah bermanfaat, Mbak Siti. Semoga penyuluhannya selalu berhasil.
    >> fawwaz : insya Allah suplemen yang baik. Iya, kapan kita bisa ketemuan lagi ya….

  2. hehe 🙂 bang aswi bisa aja 🙂 yaa.. aslinya cuma kayak pake kertas undian siih he 🙂 thanks, Bang, buat tulisannya!

  3. Melempar sesuatu dan jadi ide.. Sebenernya bisa menulis tu karena memang punya “bakat alam” atau bisa kita usahakan (paksakan) sih mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s