Nostalgi[l]a Pesepeda Gila [Part 4 of 4]

Jum’at sore, di atas jembatan layang Kiaracondong pandangan saya menelusuri aktivitas manusia di Stasiun Kiaracondong. Angin cukup kuat untuk menerbangkan layang-layang yang banyak memenuhi langit Kota Bandung. Sambil memakan cakue, saya duduk di atas sadel Spidi yang bersandar di pagar pembatas. Spidi adalah sebutan sepeda saya yang bermerek Master dengan no. seri DSA 0026030 keluaran tahun 80-an, lebih awal daripada Federal yang sempat melegenda. Warna biru aslinya kini sudah ditimpa oleh cat semprot hitam dan poletan merah di beberapa bagian. Begitu pula beberapa tambahan dan penggantian aksesoris seperti suspension forks, stem, rem, spokes (jari-jari), ukuran ban dari 1,5 inci menjadi 2 inci, dan sebagainya. Jangan heran kalau saya mengetahui detail sepeda tersebut karena memang aktivitas bersepeda saya sudah sejak lama, bahkan boleh dibilang sedari kecil (saya masih ingat kecelakaan sepeda pertama adalah ketika masih SMP di Jl. RE. Martadinata, Tanjung Priok).

Mobil dan motor yang melintas di sebelah dengan kecepatan tinggi tidak saya hiraukan, hanya anginnya saja yang terus menerpa mencipta kesejukan dan kesegaran. Suasana yang saya anggap nyaman dan romantis itu kemudian membawa memori saya untuk berlari ke belakang. Memori pertama yang mengimbas pada kegiatan bersepeda saya yang saat ini sudah tiap hari untuk sarana transportasi bekerja, dan juga tentu saja untuk sarana berolahraga. Memori pertama yang membuat saya mampu bersepeda ke luar kota menempuh puluhan kilometer seperti Sumedang, Purwakarta (Waduk Cirata), dan juga tempat-tempat dengan ketinggian yang dapat dikatakan curam di sekitar Kota Bandung.

Semuanya berawal ketika saya diterima bekerja di perusahaan penerbitan. Ada dua orang kawan yang juga bersepeda ke kantor, sehingga Spidi tidak sendirian. Beberapa bulan kemudian, yang kebetulan bersamaan dengan naiknya harga BBM, bertambah lagi tiga orang yang jenjang karirnya berada di atas saya. Sampai suatu hari Pak Bayu dan Pak Rikvi mencetuskan ide untuk membentuk kelompok sepeda (Syaamil Bikers) yang tujuannya bukan hanya menjadikan sepeda sebagai alat transportasi tetapi juga sebagai sarana olahraga yang rencananya diadakan tiap hari Sabtu atau Ahad. Jadilah mulai saat itu, kami selalu menjelajahi jalur Dago Utara yang lumayan menanjak. Hubungan persaudaraan di antara kami pun semakin akrab dengan hobi yang sama ini, dan jalur sepeda yang kami terobos pun semakin meluas. Pada akhirnya, jumlah pemakai sepeda di kantor kami juga semakin bertambah hingga lebih dari sepuluh orang.

Masih segar dalam ingatan ketika pulang bersepeda dari kantor setelah diumumkan kalau saya diterima bekerja pada pertengahan 2005, hujan turun dengan sangat deras. Dengan kecepatan gowesan yang semakin ditingkatkan, saya pun menembus terpaan hujan melewati jalan raya yang padat merayap. Hujan yang makin menderas tidak membuat muka saya yang tertampar merasa sakit, tetapi menjadi lebih segar dan membuat semangat saya dalam menggowes makin menjadi-jadi. Kendati sampai rumah basah kuyup, karena saya sama sekali tidak memakai rain coat, momen itu menjadi kenangan yang luar biasa bagi saya. Bahkan menjadi kebanggaan sendiri kendati umur saya waktu itu tidaklah muda.

Saat pertama kali mencoba jalur Dago yang tanjakannya sangat ‘lumayan’, saya merasakan sangat berat dan beberapa kali berhenti di beberapa titik dengan tingkat kehausan tinggi dan juga napas yang ngos-ngosan. Tidak dipungkiri juga melalui kegiatan sepeda ini pun, saya mengeluarkan banyak keringat. Begitu pula dengan kawan-kawan di Kelompok B71 (perubahan nama dari Syaamil Bikers). Hampir semuanya tumbang di pengalaman pertama bersepeda dengan rute mendaki yang tiada henti. Kami semua merasa kalau perjalanan ini seperti tiada akhir. Ceileee….

Namun setelah beberapa kali, semuanya itu tinggal cerita kenangan yang membanggakan. Kendati sendirian, saya pun mampu menanjak hingga sampai Warung Bandrek yang merupakan tempat fenomenal bagi para pesepeda (ada jalur dengan panjang sekira 1 km dan kemiringan lebih dari 35 derajat), atau menembus terus ke Lembang melalui jalan single track dan off road. Dan itu pun hanya satu-dua kali berhenti (karena saya termasuk yang sebulan sekali menanjak), dengan botol air yang baru habis setengah dan juga napas yang tidak terlalu ngos-ngosan. Ada seorang bapak dengan rambut yang hampir memutih seluruhnya mampu menanjak non-stop. Luar biasa! Rekan sekantor pun bahkan bisa menurunkan berat badan lebih dari sepuluh kilogram hanya dalam waktu dua bulan!

Saya sendiri, yang mempunyai penyakit asma sedari kecil, boleh dibilang sudah jarang kambuh. Begitu pula dengan kawan-kawan yang jarang sakit jika dibandingkan dengan yang jarang berolahraga. Manfaat bersepeda bukan hanya dari segi fisik, namun juga mental. Para peneliti menyatakan bahwa aktivitas olah raga yang terbaik adalah gabungan dari olah raga beban seperti fitnes dan olah raga gerak seperti bersepeda. Keseimbangan kuantitas dan kualitas dalam melakukan orah raga beban dan olah raga gerak akan menghasilkan pembakaran lemak dan di sisi lain massa otot tubuh bertambah. Tentu saja hal tersebut sangat membantu kita dalam mendapatkan bentuk badan yang ideal.

Bogota telah membangun 374 km jalan sepeda yang terintegrasi dalam jaringan yang dikenal dengan nama Cyclorrutas, kendati baru terealisasi 270 km. Paris juga telah mempunyai jalur sepeda sepanjang 195 km. Begitu pula dengan Lima (Peru) yang panjang jalur sepedanya mencapai 43 km. Jan Ghell, seorang arsitek terkemuka dari Denmark, mengatakan kalau pembangunan jalur khusus sepeda akan mengundang banyak orang untuk bersepeda. Hati kecil pun sempat terbesit satu pertanyaan, Kapankah Jakarta atau Bandung menjadi kota sepeda?

Satu layang-layang putus dan mengayun-ayun tak jauh dari tempat saya duduk mencangkung di atas Spidi. Tak lama, layang-layang itu mendarat tepat di pagar pembatas di depan. Cakue yang saya makan telah habis. Saya pun segera mengambil botol air dari cengkraman frame Spidi, lalu meminum isinya sebagian. Setelah mengembalikan botol air ke tempatnya, saya pun segera menggowes pedal Spidi. Meninggalkan tempat itu sembari tangan kiri mengambil layang-layang yang tadi tersangkut di pagar pembatas jalan layang Kiaracondong. Matahari kian memerah dan membesar, memburatkan warna orange bercampur jingga yang menakjubkan. Tak lama, suara adzan Maghrib pun berkumandang memecah angkasa.[]

Advertisements

21 thoughts on “Nostalgi[l]a Pesepeda Gila [Part 4 of 4]

  1. Assalamu’alaikum,
    Sudah bagian ke empat, berarti saya tertinggal dan harus membaca bagian lainnya dulu. Maaf, baru sempat kunjungan balasan, lagi banyak kerjaan. (Dewi Yana)

  2. >> sinta : tapi kan harus ada yang memulai, jika tidak, kapan dooong…?
    >> dewi yana : wa’alaikumsalam … silakan baca aja, santai aja kok. mangga diteruskan pekerjaannya ^_^
    >> technomizer : pasti seru, apalagi kalau dialami sendiri. salam kenal juga!

  3. bang aswi, bersepeda di Bandung? ‘bersaing’ dengan angkot-angkot yang semakin menggila yah, bang. Iya di sini bersepeda adalah hal yang biasa, karena murah, bisa menempuh jalan tikus, dan tidak ada pajak, yang terpenting menjadi ‘raja’ di jalan raya, karena mobil pasti akan ‘mengalah’ dengan sepeda. 🙂

  4. hmmm, moment hujan2an nya membuat saya tersenyum… Jujur! sampai sekarang pun saya merasa enjoy kalo huhujanan, andai tidak dipandang aneh dan lucu rasanya saya ingin sekali tiap hujan sasapedahan…, karena buat saya pribadi ada kenikmatan sendiri yang mungkin orang lain tidak merasakannya dan kenangan masa kecil ttg huhujanan memang begitu lekat… See More dan terpatri di hati…, INDAH!!!!! , trimakasih sudah menyertakan nama saya, pengalaman yang indah yang memang patut dishare, siapa tahu bisa jadi inspirasi dan motivasi untuk yang lain…!

  5. betul kang… saya juga jadi inget pertama menggunakan sepeda ke kampus.. hujan2an dan ga boleh masuk kelas karena basah kuyup.. hahhaha.. moment yang sangat indah… 🙂

  6. hahay beda ma diriku ceu idew,,, krn ririwit sedari kecil ga pernah hujan”an, kena hujan dikit demam, ato pilek, paling parah mimisan,,,, ga pernah deh kena air ujan
    komo stlh kena insefalitis kena hujan dikit aja wuih kepala kek bawa apa gitu udah mah berat, sakit pulak
    tp alhamdulillah stlh setiap hr bersepeda sekarang ini klo kena hujan sdh ga masalah, malah ke badan enak n hangat,,,,,,
    demam good bye, mimisan sdh hampir dikatakan tak pernah (lupa malah terakhir kapan), flu juga sama tak ingat kpn ya sy kena flu 😀
    asma? komo, krn nafas sdh dilatih buat teratur,,, jd oxycan pun goodbye… See More
    alhamdulillah pisan!!!!

  7. >> anis : hayu lah….
    >> fety : tapi, dicoba menikmati aja. wah, enak ya, jadi kepengen mencoba….
    >> dewi najmi : sharing pengalaman indah akan jauh lebih indah lagi hehehehe….
    >> abang eddy : dukung lah, bang!
    >> powhunk : asyik banget tuh, saya pur pernah jatuh dari sepeda pas di depan kelas hahaha….
    >> dewi gilang : syukur alhamdulillah ya, mak. hayu kita ramaikan kompas fun bike!!!

  8. abis itu maen layan9an yan9 putus tadi yah ban9 ,kereen 🙂

    aku nda pernah nyepeda neeh,pen9en ban9eed,bisanya klu pas pulan9 ajah.. 🙂

  9. adeuh bang Aswi..”iindiaan”..heuheue
    tapi bener bang…mantab tah jjs….kalau pas ada mataharinya…wahhhh…berasa gimana gitu..heuehuehe

    ngomong-ngomong….layangannya dimainin gak, heuehuehe??

  10. >> wi3nd : Iya, darah saya mah pengennya maen layangan, tapi gak enak … kahawatir anak saya malah ikut2an hehehe…. Hayu atuh sepedahan lagi!
    >> adhie : Nikmatnya memandang matahari yang luar biasa! Layangannya disimpan aja, biasanya anak tetangga juga langsung mau ^_^

  11. hhhmmm… asyik sekale bang…

    selain berolahraga juga itu bentuk nyata pengurangan polusi bang…
    mantapp..!!!
    btw, aku ketinggalan 3 episode neh, hihihihii….

    cu…

  12. bang saya baru mulai lagi bersepeda setelah 20 th berlalu terakhir kali saya bersepeda waktu kuliah, tahun kedua kuliah th 1989 sepeda balapku hadiah bapakku waktu masuk SMA merk Yokota produk Jepang asli diembat maling dirumah kost si maling hanya menyisakan kunci sepedanya saja, itu saat paling sedih buat saya, udah 2 bln ini saya ditemani Polygon Hibryd Waltz saya seperti menemukan kembali sepeda balapku yg telah lama hilang, jujur tiap aku membaca postingan tentang sepeda dengan cerita yg menggugah semangat, kadang membuat saya terharu dan meneteskan air mata apalagi petualangan sepeda keliling pulau atau bahkan keliling Indonesia dan dunia yg dilakukan oleh saudara2 kita, menjadikan saya semakin mencintai sepeda, sungguh aneh apa yg ada dlm benak saya, sy begitu ngeri dan takut mengendarai sepeda motor dari Kota Pasuruan tempat saya bekerja ke kampung halaman di Maospati Magetan (Jatim) tetapi saya malah bersemangat ingin sekali suatu saat menempuh jarak kedua tempat itu dengan bersepeda, saya yakin dengan tekad dan semangat tinggi obsesi itu akan terwujud. Lam kenal

  13. >> perigitua : itulah tujuan dari kampanye ini, lingkungan menjadi lebih bebas polusi lagi. silakan baca bagian yang lain….
    >> m4sherry : inysa Allah bisa, asal langsung dijalani, tidak dipikir berlama-lama…. hayu ah!

  14. tanks ya bang aswi saya akan wujudkan itu dengan tindakan nyata. amin…………………………………………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s