Now, It’s A Happy Day!

Suara motor bernada berat meraung-raung memasuki Jl. Cikapundung, dari arah Jl. ABC yang tidak lengang karena waktu memang bisa dibilang masih sore. Rombongan Biker Brotherhood saat itu cukup untuk meramaikan acara penutupan Helarfest 2009 di sisi sungai Cikapundung yang rusak. Sementara Pak Dede Yusuf beserta tamu undangan dari pihak pemerintah telah duduk menikmati berbagai pertunjukan kreativitas anak muda Bandung yang luar biasa. Dari pemutaran film “Age of Stupid” tadi sore di Gedung PLN plus konvoi yang dilakukan oleh B2W Bandung dan beberapa komunitas lainnya, pagelaran Helarfest 2009 mencapai puncaknya malam ini (13/12) dengan menghadirkan kelompok ‘tatabuhan’ dan campuran tari jaipong-topeng dengan atraksi yang tidak biasanya.

Bintan awalnya agak takut karena di tempat tersebut banyak berseliweran beberapa orang dengan pakaian dan dandanan yang ‘aneh-aneh’, yang menurutnya jelas menakutkan. Apalagi dengan sosok bertopeng yang tidak sengaja dilihatnya saat saya berbincang dengan salah seorang rekan di tenda belakang panggung. Acara semakin meriah dengan pelepasan perahu-perahu kertas berlilin ke sungai Cikapundung yang dimulai oleh Wagub Jabar, lalu dilanjutkan dengan pesta kembang api yang menggelegar tepat di atas kepala! Belum lagi acara pembagian bunga gratis dalam rangka promosi ‘Bandung Gila Bunga’ setiap hari Rabu: katanya.

Asli, saya sendiri belum memahami makna pelepasan perahu-perahu kertas berlilin itu. “Setelah dibersihkan kalinya, kok, malah dikotori lagi?” tanya Mbah Samin menggeleng-gelengkan kepala. Bisa jadi saya akan menemukan jawabannya kalau ditanyakan pada pihak panitia, tetapi hal itu tidak terjadi. Saya malah asyik mengobrol dengan Bang Wawan, dedengkot RE yang merupakan EO dari acara tersebut. Menurut pemikiran saya yang ‘nyeleneh’, dengan adanya lilin bisa jadi pertanda bahwa ada sebuncah harapan bagi masyarakat kota Bandung yang diwakilkan oleh beberapa yang hadir tentang pentingnya mengembalikan fungsi sungai Cikapundung yang sebenarnya, bukan sebagai tempat pembuangan sampah. Namun sebuncah harapan itu begitu rentan, begitu kecil (apalagi lilinnya memang kerdil-kerdil), begitu rapuh, yang disimbolkan oleh perahu kertas. Beberapa dari perahu yang diluncurkan tampak labil hingga miring dan menenggelamkan lilin yang dibawanya. Usaha ini perlu tenaga raksasa agar dapat terwujud, sama halnya dengan rencana pembuatan jalur sepeda, yaitu peran pemerintah sebagai pengambil keputusan. “Tinggal ketok palu saja, kok, repot!” Mungkin begitu yang dipikirkan Mbah Samin (bukan nama sebenarnya), tokoh rekaan saya, yang sering nongkrong di pinggir kali hanya untuk merenung.

c-01_pencemaran

Sumber foto: Lu Guang, fotografer Cina yang memperoleh penghargaan W. Eugene Smith untuk tema kemanusiaan. Bukti nyata telah terjadi: pencemaran sungai menyebabkan meningkatnya jumlah bayi cacat yang lahir, munculnya desa kanker, dan penyakit trombosis serebral (pembekuan darah di otak).

Sudahlah! Semua itu memang tanggung jawab bersama, tetapi sebagai masyarakat yang hanya bisa mengerahkan massa untuk berkreativitas namun tetap harus melalui jalur-jalur protokoler yang rumit dan melelahkan, semuanya menjadi tidak bermakna jika pihak pemerintah sebagai ujung tombak segalanya TIDAK memberikan aba-aba untuk melepaskan anak panah yang sudah dipersiapkan masyarakat kebanyakan. Jika bukan anak panah, bisa saja Mbah Samin segera menggantinya dengan koin-koin hasil pengumpulan semua elemen masyarakat yang diketapelkan ke wajah-wajah pengadilan negeri ini agar bisa memutuskan dengan ADIL bahwa yang benar itu BENAR dan yang salah itu SALAH!

Lah, saya kok malah ngelantur, sih?! Bukannya menulis tentang hal-hal bahagia seperti yang dijelaskan pada judul tulisan ini, malah berbelok ke arah diskusi yang membuat Bintan asyik bermain dengan boneka pandanya atau Anindya yang begitu asyik bermain dengan air karena ‘ra mudheng’. Justru malah Mbah Samin yang terkekeh-kekeh di pinggir kali sambil memperlihatkan gigi-giginya yang sudah menghitam semua karena terlalu sering meminum air Cikapundung yang mengandung limbah buangan industri maupun rumahan. Ya sudah, yang penting Mbah Samin bahagia dengan tulisan saya ini. Inilah makna kebahagiaan pertama yang bisa saya sampaikan ke sobat baraya semua.

Sedangkan kebahagian yang paripurna pada malam itu, alhamdulillah … saya berhasil membuat bibir Umi tersenyum laksana cahaya yang tidak membuat mata perih, malah membuat hati ini merasa tenteram dan damai. Tak peduli banyak tatapan mata yang bingung dan mungkin ‘lucu’, saya pun memberanikan diri menghadiahi Umi setangkai mawar merah (yang dibeli di Pasar Bunga Palasari) di atas motor saat saya menjemputnya pulang bekerja. “Maafin Abi, ya…,” ucap saya mengingat telah membuatnya ‘gondok’ seharian ini. Gondok bermakna kecewa karena saya tidak meluluskan niatnya jalan-jalan bersama keluarga, malah saya asyik ‘jalan-jalan’ dengan salah seorang keponakan yang berstatus mahasiswi. Bahagia yang paripurna karena malam itu kami langsung memborong empat loyang pizza hasil usaha rumahan di pinggir jalan yang UENAK TENAN dan dimakan bersama-sama di rumah bersama keluarga besar tercinta. Dan keesokan harinya, saya pun berucap sambil mengecup pipinya di atas tempat tidur karena matanya belum melek, “Selamat ulang tahun ya, Honey.”[]

Advertisements

7 thoughts on “Now, It’s A Happy Day!

  1. dari Helarfest, pembahasan tentang kali tercemar….dan berakhir dengan sesuatu yang sweet….

    happy birthday untuk istrinya tersayang…..

  2. Kalo perahu yang dihanyutkan itu kan kertas, jadi ‘dianggap’ akan ter-biodegradable… jadi, senggaknya nggak akan nyumbat sungai banget sebagaimana sampah plastik yang susah hancur. Tapi kalo konsep sendiri, saya juga agak nggak ngerti, soalnya itu dari panitia HELARFEST… Dari SOI, kita hanya memberikan apa yang diminta aja…

  3. >> lina : Thanks ya….
    >> Hanny : Hehehehe, yang bikin perahu kertas sampai ketusuk jarum mencoba membela diri … xixixix….
    >> Ihwan : Thanks juga….

  4. Ini bukti betapa seseorang bisa terhanyut….dengan… cinta itu berawal dari kesederhanaan berbuah manis. selamat Ulang Tahun buat Umi-nya Bang Aswi. saya belum bisa menulis sebaik Bang Aswi, namun kiranya sudi untuk sesekali melihat kliping elektronik saya di blog. terimakasih

  5. Hahaha… XD
    Oh, ya, denger-denger juga, sih di suatu spot di sungai itu ada jaringnya, jadi buat nangkepin sampah-sampahnya gitu.
    Allahu’alam… 😛

  6. >> Upi : Tulisan bisa diasah dengan terus menulis. Sudah, kok!
    >> Hanny : Wah, dapet ikannya nggak ya? Tapi, kalau ada peran pemerintah (misalnya dengan memakai alat berat) pasti akan langsung bagus tuh sungai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s