Memarahi untuk Mendidik

Suara tangis keras terdengar dari kamar atas. Itu suara Ade, putri kedua saya yang bernama lengkap Anindya Rahmakhansa (3 tahun 4 bulan). Saya tahu kalau Ade dimarahi umminya karena melakukan kesalahan yang berulang-ulang. Sebelumnya Ade menumpahkan satu botol pembersih mulut yang masih disegel: semuanya. Setelah diperingati bahwa perbuatan itu tidak baik, ia pun mengangguk dan mengerti. Akan tetapi, tak lama kemudian Ade kembali mengulangi hal yang sama pada botol lainnya. Ade memang terlalu kreatif.

Saya dan istri memang sedang membuat beberapa aturan yang tegas pada kedua putri kami. Ketika kami mengancam memperingatkan, itu tidak main-main. Jika misalnya tidak boleh begini atau nanti akan dihukum seperti begini maka kami akan melakukan hukuman itu saat mereka berdua melanggarnya. Jadi, bukan hanya sekadar gertak sambal atau terlalu banyak teori yang biasanya akan selalu dimain-mainkan oleh kedua anak kami yang memang cerdas. Hukuman itu pun diberikan dengan beberapa penjelasan yang mudah dimengerti sehingga mereka benar-benar mengerti betapa pentingnya diskusi. Inilah pentingnya komunikasi yang sehat. Hal ini pun juga menjadi pelajaran bahwa apa yang kami janjikan juga harus ditepati. Artinya, kami pun juga akan menjalani hukuman jika kami melanggar. Namun, biasanya hukuman untuk kami itu adalah memberikan hadiah yang tidak mereka duga-duga seperti membeli es krim dan lain sebagainya hehehehe….

Nah, atas kesalahan itulah Umi langsung menerapkan hukuman pada diri Ade. Hukuman yang diberikan adalah berdiri di pojok kamar sebagai bukti bahwa dia sedang dihukum. Ade menangis karena dirinya dihukum. Di pojok, Ade duduk sambil bertelekan bantal. Ia menangis sambil berharap saya menggendongnya. Saya bergeming sambil terus mengingatkan Ade bahwa perbuatan yang dilakukannya telah merugikan, bukan hanya tumpahannya mengotori lantai tetapi juga secara materil. Sambil menangis, ia berjanji tidak akan mengulangi dan akan menjadi anak yang nurut. Bukan itu saja, Ade pun dihukum tidak boleh minum susu putih kesukaannya (plus sedotan) dan tidak boleh menonton TV (dimana dia sangat suka menonton Warkop, terutama pada tokoh Dono ^_^).

Tak berapa lama setelah hukuman dirasa cukup, saya menggendongnya untuk pipis dulu di kamar mandi sambil mengelus punggungnya. Saya katakan berulangkali bahwa hukuman ini akibat ia tidak menurut. Jadi, setelah pipis Ade harus langsung tidur dan hanya boleh minum air putih saja. Menjelang tidur, Ade terus menangis ingin menonton TV sekaligus ingin ke bawah (ini sebagai alasan bahwa ia masih ingin bermain). Tapi kami berdua tegas melarang. Saya terus merangkulnya sambil berpura-pura tidur hingga akhirnya Ade pun tertidur. Sementara di sebelah saya, Umi menangis sambil memeluk saya karena dengan terpaksa menghukum Ade demi mengajarkan ketegasan. Kami harus memiliki sikap yang jelas.

Alhamdulillah, esok harinya semua berlangsung seperti biasa. Kami tersenyum bahagia saat Ade membuka matanya. Saat ia minta susu putih kesukaannya (plus sedotan), Umi pun langsung memberikannya. Tak ada lagi hukuman untuknya. Apa yang ia minta langsung dikabulkan. Tak lupa, kami pun memperingatkan bahwa apa yang terjadi kemarin tidak boleh terulang. Dan Ade pun mengangguk-angguk tanda mengerti. Saat saya berangkat kerja, ia pun mencium tangan saya dan saya pun mencium kepalanya. “Ade, percayalah bahwa marah kami itulah rasa sayang kami kepadamu. Semoga kamu mau mengerti bahwa kami ingin mendidikmu menjadi anak yang salehah,” ujar hati saya. Setelah Kakak mencium tangan saya, saya pun mencium kepalanya. “Begitu pula dengan kamu, Kakak. Semoga kalian berdua menjadi anak yang salehah dan mau berbakti kepada kami: kedua orang tua kalian.”

Saya pun melangkah dengan perasaan lapang dan bahagia … dan bayangan kasus-kasus Dita semoga semakin enyah dari dunia ini.[]

Advertisements

17 thoughts on “Memarahi untuk Mendidik

  1. kbayang prasaan umi-nya ade, apalagi liat binar2 mata si kecil.. kalo ga utk ngedidik, mana tega.. hiks

  2. Tp…emang bgtlah qt hrs punya sikap dlm m’di2k anak krn “diluar” sana faktor lingk bgmn pun jg ikut m’dukung mknya qt sbg org tua kudu bs m’beri contoh hal2 pos (dg segala konsekwensina). Qt bkn galak tp ada anak yg dg kelembutan n 1x diksh tau ngerti tp ada jg yg hrs qt ksh tau dg secara realitas

  3. terharu saat ummi menangis, nggak tega menghukum ade. tapi setuju, sikap tegas dalam mendidik anak memang diperlukan dan hukuman harus ditegakkan. saya salut, bentuk hukumannya bukan berupa hukuman fisik.

  4. >> Bonita : Iya … T_T
    >> Umi Hanifa : Thanks atas sharingnya, Bu. Semoga menjadi pembelajaran bagi kita semua. Gimana kabar Echa?
    >> lina : Jangan deh! Yang fisik biarlah berlalu … jangan di sini, di keluarga kami.

  5. alhamdulilah…sy msh diksh kepercayaanNYA jd ortu asuh bagi keponakan, alhamdulilah mrk sehat (lbh susah m’di2k keponakan yg n.b. sdh ABG drpd anak sendiri…) . Skrg kuliah di Unikom

  6. yg bikin ngeri itubotol kan disimpan diatas lemari yg tingginya 3x bdnnya,ad mmng beda sm kk yg bs ddk manis di dpan TV/kom/buku ad meledak2 sering pusing liat tingkah polahnya tp ad jg yg suka ngasih hadiah ciuman di bibir bisa berbelas kali dlm sehari smbil bilang ” ummi cantik barbie” maafin umi ya de umi syng ade

  7. >> Umi Hanifa : Begitulah, Bu. Mengurusi anak orang ada batasannya, beda dengan anak sendiri. Syukurlah kalau dia dah kuliah … ^_^ Semoga makin dewasa aja.
    >> Umi : Tiga kali?! Dua kali lageee … tapi Abang salut kok sama Umiku ini. Mmmuahhh!
    >> Yuli : Iya, memperingatkan lebih halus. Dan sudah diganti!

  8. Berasa nonton “the nany 911” diaplikasikan…
    kalau aku menghukum gak sampai segitunya… paling gak dikasih jajan trus..keinginan2nya dipending, gak dikasih nonton film kesukaanya, main game..di internet, pokoknya setiap yg disukainya gak dikasih dulu..sambil diselipkan penjelasan…alasan kenapa kami melakukan hal itu… dan alhamdulillaah … See Moreselalu ada perubahan sikap ke arah yg lebih baik… Intinya kita sbg org tua jgn sampai membiarkan anak sesukanya…tanpa ada unsur pendidikan baik dari segi emosional, moral maupun spiritual… dan yg ketigalah..yg lebih utama. walau bagaimanapun anak adalah amanah yg harus dijaga dan dirawat..krn akan ada prtanggungjawabannya kelak… semoga anak2 kita mnjd anak yg sholeh sholeha…bisa mnjadi harapan org tua dan mndapat rodho-Nya…

    bang nuhun..notenya bagus..sbg reminder oge kangge abdi sbg orangtua…..

  9. pengalaman pribadi saya juga tuh bang…kadang gak tega gitu kalo nangisnya sampai mengiba ngiba gitu…tetapi merupakan kebahagiaan tersendiri bisa mendidik si kecil bersama…

  10. >> sinta : Iya, mari kita belajar….
    >> Elis : Iya? Wah, saya belum pernah nonton tuh meski tahu ada acara itu. Insya Allah selama kita berniat dan berusaha, kita bisa mendidik mereka menjadi anak yang saleh dan salehah. Amiiin….
    >> Indah Hairani : Sudah pasti berbeda, begitu pula jika berbeda budaya. Tetapi sebagai muslim, kita bisa mencontoh pribadi Rasulullah yang agung.
    >> boyin : Betul, Mas Boy. Jalani saja prosesnya dan bahagia semoga menjadi miliki kita bersama.

  11. subhanallah..

    belajar banyak dari keluar9a ban9 aswi neeh ^^

    **persiapan ban9 hehee

    ade sukanya nonton warkop?kan masih 3 taon??

    untuk yan9 ini,emm..tontonannya dialihkan ke yan9 lebih mendidik ajah ban9 yan9 sesuai den9an usianya,maaf yah 🙂
    trimakasi

  12. >> wi3nd : Terima kasih, Wi3nd. Ya, namanya proses, pasti akan dialihkan tetapi tidak serta-merta, misalnya mengatakan kalau si Dononya lagi nggak maen karena harus bobo. Begitu …. thanks again!

  13. hmm, cuma manggut-manggut aja baca postingan ini, bang. Secara juga tengah menyelesaikan membaca sebuah buku dengan tema yang sama dengan postingan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s