Mas Paimo, Abah Iwan, dan Kampusku: ITB

Mentari menyala di sini
Di sini, di dalam hatiku
Gemuruhnya sampai di sini
Di sini, di urat darahku

Saya tersentak! Ya, lagu itu mengingatkan saya kembali ke masa 15 tahun yang lalu saat menjalani program pengenalan kampus yang lebih dikenal dengan istilah OSPEK. Kini, lagu itu diperdengarkan pada opening film dokumentasi perjalanan pesepeda berkeliling dunia yang dilakukan oleh Mas Paimo (50 tahun). Lagu Mentari pertama kali diperkenalkan oleh Iwan Abdurrahman atau Abah Iwan yang terkenal sebagai pecinta alam dan (juga) pesepeda dimana lagu yang paling dikenal dari sekian lagu-lagu ciptaannya adalah Melati dari Jayagiri.

Mas Paimo adalah nama beken dari Bambang Hertadi Mas, alumnus Seni Rupa ITB yang memilih hidup menjadi petualang dunia dengan bersepeda. Bisa jadi, karena pernah mencicipi kampus ITB, beliau memilih lagu itu sebagai opening acaranya di Wisma Dana Mulia (16 Januari 2010) tadi malam. Perjalanan terakhirnya adalah melintasi Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam yang dilaksanakan pada 10 September – 28 Oktober 2008 yang terkenal sebagai Conquering Roads: Under The Heat of The Same Sun.

s-04_paimo

Saya tidak tahu sejarahnya mengapa ia lebih memilih nama panggilan PAIMO, tetapi saya lebih bangga menyebutnya sebagai Petualang Alam (dari) Indonesia MOdern, seorang ayah dari Sekar Kinanti (7 tahun) yang diajarkan untuk mencintai alam termasuk berburu babi di hutan belantara. Paimo pernah bersepeda menjelajahi dataran tinggi Tibet, bagian tenggara Gurun Gobi dan sebagian jalur Silk Road, Gurun Victoria di Australia, Pegunungan Himalaya, Patagonia-Pegunungan Andes di Amerika Selatan, Southern Alpen di New Zealand, dataran tinggi Andean Altiplano, Tembok Besar Cina, beberapa Negara Eropa dan Asia Tenggara, danau garam Salar De Uyuni di Bolivia, daerah Tundra, Pampa, Stepa dan Sabana di Amerika Latin, Atacama Desert di Chili, puncak Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Gunung Kinabalu di Malaysia, Mount Kenya, Mera Peak, Island Peak, Go Kyo Peak, Kalapathar, dan masih banyak lagi tempat luar biasa yang dijalaninya dengan taruhan nyawa.

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satu pun yang mampu menghalangiku
Menyala di dalam hatiku

Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap menyala
Di sini, di urat darahku

Tabik untuk Mas Paimo yang telah berhasil mendaki 56 gunung dimana 11 diantaranya berhasil dilaluinya dengan bersepeda. Obsesinya adalah bisa bersepeda lebih jauh lagi dari 5.432,80 kilometer, mendaki gunung yang lebih tinggi dari 6.476 meter di atas permukaan air laut, bersepeda ke puncak yang lebih tinggi dari 5.896 meter di atas permukaan air laut, dan menuruni gua lebih dalam dari 284  meter.

Tabik pula untuk Abah Iwan yang terus konsisten mencintai alam, terbukti dengan kesehariannya yang terus bersepeda meski sudah berusia tak muda lagi, jadi tidak hanya menciptakan lagu-lagu alam. Saat acara bebersih Taman Cikapayang Dago (27 Desember 09), beliau bahkan memberikan sepedanya langsung kepada Kang Ayi (Wakil Walikota Bandung) sebagai dukungannya atas keinginan Kota Bandung memiliki jalur sepeda atau bike lane. “Tada teuing!” ujarnya tersenyum kalau Bandung tidak memiliki jalur sepeda. Baginya, jalur sepeda adalah bentuk penghargaan sebuah kota modern kepada masyarakatnya. Bahkan, jalur sepeda akan memberikan kelahiran aktivitas-aktivitas lainya yang tidak pernah kita lihat saat ini, seperti para pencinta sepatu roda, pecinta skateboard, ibu-ibu pendorong kereta bayi, dan lain-lain yang sudah dibuktikan oleh kota-kota modern di Eropa.

s-05_abah

Kembali pada lagu-lagu nostalgia selama ospek, selain Mentari (versi I) saya juga mengingat beberapa lagu seperti Mentari versi II, Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater (Untuk TBA), Mars ITB, Hymne ITB, Lagu Perpisahan (Sarjana ITB), We Shall Overcome, Kampusku, Rajawali, dan Gaudeamus. Merinding rasanya bisa kembali mendengar lagu-lagu itu. Dari pencarian melalui Mbah Google, ditemukanlah beberapa lagu nostalgia itu yang dinyanyikan oleh PSM ITB. Saya benar-benar merinding karena saat menulis ini, telinga saya kembali dibuai oleh lagu-lagu tersebut.

Untuk teman-teman alumni ITB (khususnya alumni Farmasi), silakan men-download lagu-lagu kenangan itu pada judul yang bersangkutan di atas. Mohon lagu-lagu ini hanya untuk disimpan sebagai koleksi pribadi.[]

Kampusku rumahku
Kampusku negeriku
Kampusku kebebasanku
Kampusku wahana kami

Berjuta rakyat menanti tanganmu
Mereka lapar dan bau keringat
Kusampaikan salam-salam perjuangan
Kami semua cinta, cinta Indonesia

Advertisements

9 thoughts on “Mas Paimo, Abah Iwan, dan Kampusku: ITB

  1. curiga nih.. jangan2 bang aswi Wanadri lagi. :mrgreen:

    btw akhir2 ini sepertinya makin banyak saja petualang dari Indonesia. keren! mudah2an bisa menggugah generasi muda agar berani keluar dari zona nyaman mereka, dan melihat dunia. 😀

  2. >> Qie : Jelas mengenakkan dan menyehatkan. Silakan dicoba. Tapi jangan hanya sekadar suka, harus dinaiki ^_^
    >> morishige : Wah, pitnah yang berbau positif. Bukan, tapi saya suka dengan petualangan dan berkumpul dengan orang2 seperti mereka. Insya Allah banyak, hanya saja tidak terlalu diekspos karena keburu banyak wacana tentang cicak, kadal, dan buaya. Huh!

  3. aku nda tau la9u la9u ituh ban9 😦

    hebaatt nyepeda sampe keluar ne9eri sanah.. **ka9umm..
    jempool untuk mreka be 2 ban9,salam yahhh.. ^^

    **aku belum pernah nyepeda kemana mana..**

  4. >> laston : setiap kenangan itu membanggakan, apalagi ditambah dengan yang (sekelas) ITB. Salam kenal juga. Hayu bersepeda….
    >> wi3nd : Coba aja didownload, kali aja bis asreg di hati. Hayu ke Bandung….

  5. Hebad juga beliau itu, udah berumut tp msih kuat naik sepeda. Sementara yg muda2 sekarang cepat banged ngos2an disuruh main bola 15 menit :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s