The Age of Stupid: Kegilaan Industrialisasi

Pada tahun 2055, seorang pengarsip hidup menyendiri di ruangannya. Keadaan planet Bumi saat itu sangat mengerikan akibat bencana alam, peperangan, hingga sebagian besar permukaannya hanya terisi oleh air. Pete Postlethwaite, aktor yang memerankan orang tanpa nama tersebut, kemudian mengambil beberapa arsip beberapa tahun ke belakang untuk merunut apa yang terjadi sebenarnya sehingga bumi bisa seperti itu. Dan kita bisa melihat dalam film itu, betapa hal-hal yang remeh seperti membeli permen—lalu membuang pembungkusnya begitu saja—bisa berakibat fatal bagi planet Bumi ini di masa yang akan datang.

Itulah gambaran film “The Age of Stupid”, sebuah film drama-dokumenter-animasi Inggris yang dibuat oleh Franny Armstrong pada 2009. Inti dari film itu pada akhirnya memunculkan sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh diri kita masing-masing, “Mengapa kita tidak menghentikan perubahan iklim yang ekstrem saat kita memiliki kesempatan, yaitu saat ini?” The New York Times bahkan berani mengatakan bahwa film ini jauh lebih menggigit dari “An Inconvenient Truth”—sebuah film dokumenter 2006 tentang lingkungan hidup yang diwacanakan oleh Al Gore, wakil presiden Amerika.

Kendati saya menyaksikan film ini tidak sampai selesai di Kantor WALHI, Minggu (24/01/10), bersama istri, anak-anak, dan kawan-kawan dari Yayasan Pengembangan Biosains dan Biotekneologi (YPBB), tetapi pesannya sudah sampai ke dalam otak. Bahkan, saya pun langsung teringat pada sebuah desa terpencil di Cina yang lebih dikenal dengan sebutan Desa Kanker karena setiap tahunnya ada lebih dari 20 penderita yang meninggal dunia. Desa tersebut adalah Desa Xuanwei yang berada di propinsi Yunnan. Berdiri bulu kuduk saya membayangkan hal tersebut, apalagi begitu mengetahui bahwa keadaan tersebut disebabkan oleh pencemaran-pencemaran—baik dari bawah (tanah, air) maupun dari atas (udara)—yang sudah melebihi ambang batas.

Saya tak mau bercerita lagi, tapi sobat baraya bisa menyerap semua aroma hitam dari akibat polusi itu pada gambar-gambar di bawah ini. Foto-foto ini adalah hasil penggarapan seorang Lu Guang, fotografer Cina yang pada 14 Oktober 2009 memenangkan penghargaan W. Eugene Smith di bidang Fotografi Kemanusiaan atas proyek dokumenternya yang berjudul “Polusi di Cina”. Lu Guang memulai karirnya sebagai fotografer amatir pada tahun 1980. Ia dahulu adalah seorang buruh pabrik, kemudian membuka studio fotonya dan biro iklannya sendiri. Pada bulan Agustus 1993 ia kembali kuliah untuk pendidikan pasca-sarjana di Pusat Akademi Seni dan Desain di Beijing (sekarang Akademi Seni dan Desain, Universitas Tsinghua). Selama kuliah, ia belajar, berkelana ke seluruh negeri, dan mengukir kariernya hingga menjadi “kuda hitam” di lingkaran fotografer di Beijing.

asap

(1) Asap keemasan itu berada di persimpangan provinsi Ningxia dan Mongolia Dalam dan berbau busuk (2) hingga membuat para penduduknya harus mengenakan kain pelindung. (3) Pabrik besi dan baja Tianjin Shexian, di provinsi Hebei adalah sebuah perusahaan yang mencemari daerah sekitarnya secara besar-besaran. (4) Dan di Mongolia Dalam ada 2 “naga hitam” dari pembangkit listrik Lasengmiao yang mengotori desa-desa di sekitarnya.

air

(1) Sungai-sungai dan waduk di Guiyu, provinsi Guangdong telah terkontaminasi. Terlihat seorang wanita sedang mencuci di sebuah kolam yang tercemar parah. (2) Lepas pantai Laut Kuning, pipa-pipa pembuangan kotoran yang tak terhitung jumlahnya terkubur di pantai dan bahkan ada yang sampai ke laut dalam. (3) Di Ma’anshan, provinsi Anhui, di sepanjang Sungai Yangtze terdapat banyak pabrik pengolahan besi dan plastik berskala kecil. Limbah dengan jumlah yang besar dibuang ke Sungai Yangtze. (4) Distrik industri kimia Cihu di provinsi Anhui Chemical Industry membangun sebuah pipa bawah tanah untuk membuang air limbah ke Sungai Yangtze. Kadang-kadang air limbah ini berwarna hitam, abu-abu, merah tua, atau kuning. Air limbah dari pabrik-pabrik kimia yang berbeda memiliki warna yang berbeda.

tanah

(1) Limbah kimia dari Kabupaten Industri Kimia Jiangsu Taixing yang dibuang di tepian Sungai Yangtze. (2) Tanah di sekitar Sungai Yangtze yang tercemar oleh industri kimia di kabupaten Ma’anshan, propinsi Anhui. (3) Daerah Longmen di kota Hanchen, Provinsi Shaanxi memiliki pembangunan industri berskala besar. Lingkungan tercemar sangat serius di sana. (4) Distrik industri Hu Ko di provinsi Jiangxi ada di pinggiran Sungai Yangtze. Pabrik-pabrik kimia ini menimbun Sungai Yangtze untuk memperluas pabrik tanpa izin.

anak

(1) Propinsi Shanxi adalah daerah yang paling tercemar di Cina. Daerah ini juga merupakan provinsi dengan tingkat cacat lahir tertinggi. Ini adalah rumah pasangan petani yang mengadopsi 17 anak-anak cacat. “Di beberapa daerah, kehidupan orang-orang Cina terancam oleh pencemaran lingkungan. Penduduk menderita dari segala macam penyakit yang tidak jelas, desa kanker, peningkatan jumlah bayi cacat, ini adalah hasil dari mengorbankan lingkungan dan membabi-buta mencari keuntungan ekonomis,” kata Lu Guang. (2) Seorang gembala lanjut usia ini tidak tahan dengan bau Sungai Kuning yang kotor. (3) Anak laki-laki 15 tahun dari Tianshui, Provinsi Gansu ini putus sekolah di kelas 2, mengikuti orangtuanya untuk bekerja di distrik industri Heilonggui. Dia mendapatkan 16 yuan per hari (Rp21.784,-). (4) Seorang istri yang baru pulang dari pekerjaan di tempat pengeringan plaster di Mongolia Dalam, provinsi Heilonggui.

cacat

(1) Lima puluh penduduk desa Kang di Kota Linfen, Propinsi Shanxi menderita kanker dan trombosis serebral akibat air yang mereka konsumsi tercemar oleh limbah industri. Wang Baosheng, 64 tahun, jatuh sakit sejak tahun 2003, ia mempunyai borok di seluruh tubuhnya sehingga dia tidak bisa pergi ke tempat tidur dan hanya bisa berbaring tertelungkup di tepi tempat tidur setiap harinya. (2) Desa Zhaozhuang di pinggiran sungai Hong di kota Wugang, provinsi Henan. Zhao Bingkun, 66 tahun, menderita serangan kanker sejak 2004. Setelah operasi kedua, biaya perawatan sudah mencapai lebih dari 200.000 yuan. Kondisinya sudah di tahap lanjut, dia mengalami demam setiap hari, menunggu kematian. (3) Desa Zhaozhuang di pinggiran sungai Hong di kota Wugang, provinsi Henan. Istri dari Gao Wanshun sudah meninggal karena kanker. Sekarang ia hidup dalam kemiskinan. (4) Xuanwei di propinsi Yunnan adalah sebuah desa kanker. Setiap tahun ada lebih dari 20 orang meninggal karena kanker. Xu Li, seorang siswa berumur 11 tahun ini menderita kanker tulang.

Semoga, hal ini menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua. Mari BERTINDAK![]

Advertisements

27 thoughts on “The Age of Stupid: Kegilaan Industrialisasi

  1. kadang pesimis, untuk bisa menjadikan bumi ini hijau lagi…
    but sekecil apapun, kita tetep harus berusaha, supaya segala penyakit gak menjadi endemi mematikan di bumi ini…

    nice photos…

  2. >> mayasari : Sepesimis apapun, kita harus bertindak. Minimal dari diri sendiri. Jika sudah begitu, tidak ada kata pesimis, tetapi optimis!
    >> didta : Mari kita menjalin kebersamaan untuk menjadikan Bumi lebih sehat.
    >> quinie : Let’s act before that village more growing … heuh!
    >> BO : menjelang kiamat ….

  3. >> boyin : Ya, inilah kenyataan yang ada. Kita terlalu asyik disuguhi oleh pemandangan yang membuat kita lupa. Mal-mal yang indah, ternyata memiliki gudang sampah yang mengerikan di belakangnnya….

  4. masya Allah… syereemmm… dengan kondisi cina yang “parah” itu, akan jadi apa indonesia puluhan tahun ke depan, mengingat akan ada era perdagangan bebas. bisa saja tak hanya produk lokal yg membanjiri indonesia yg nantinya bisa jadi sampah setelah masa guna, juga pabrikan negara luar yg membangun usahanya di sini akan semakin menambah pencemaran udara. hyuk, mari jaga lingkungan dimulai dari diri sendiri….

  5. Sangat miris ketika membaca tulisan Bang Aswi ini, berbuatlah sesuatu yg berguna bagi lingkungan. Bumi ini diciptakan dan dititipkan untuk dijaga bukan dirusak hanya untuk kepentingan ekonomi semata. Benahi diri sendiri dg menyadari apa yg sudah kita lakukan untuk bumi yg skrg sedang sakit ini. Likedis info nya bang..!!

  6. Bang Aswi,
    Saya setuju bahwa kita harus memulainya dari diri sendiri lalu juga mencoba mengajak orang lain utk lebih mencintai bumi ini.

  7. fyuh, sudah sangat parah ya bumi ini. dapat foto2 bagus darimana bang? keren banget fotografinya ya. mari kurangi sampah plastik sebisa mungkin

  8. >> zee : Hayuuuuuuuu….
    >> antown : Ya, searching terus … dan kebetulan nemu. Sumber utamanya membingungkan karena itu minimal yang fotografinya ketemu sehingga tidak menyalahi copyright! Mari….

  9. setuju wi..kalo bukan dari diri kita siapa lagi ???
    tapi semakin meningkatnya jumlah penduduk, industrialisasi, penggerogotan bumi jg makin kencang, jadi memang kasian banget bumi kita ini.
    nah, siapa yg paling getol? ya negara adidaya, tp yg berkoar2 jg mereka 😛
    hutan kita dibabat, duuh gimana kaga gundul tu hutan? mudah2an kita, pemerintah dan segenap masyarakat segera sadar ..

    kalo di kampung ya, my mom udah pisahin sampah basah dan kering. di kebun dpn rumah si mom buat lubang buat tempat sampah basah hingga terurai dg sendirinya. untuk yg kering dibakar.. sampah habis makan dan minum aja kalo nyuci piring, ga boleh lewat pipa (ditampung di wadah baskom, termasuk serbuk kopi, nasi –>nasi sisa jg bisa dikasih buat ayam :D) spy ga mampet jg mksdnya.

    tp katanya kalo pembakaran plastik pvc itu berbahaya asapnya, jd mesti hati2 jg.

    gt sedikit masukan dari mami kimdaro hihihi….
    gw pengen nih masuk Lsm lingkungan, gimana caranya ????
    masuk jurusan lingkungan, terdamparnnya di farmasi 😀 😀

    salam green planet

  10. mmm…. kalau menurut saya sih kedepan nanti pencemaran oleh industri di Indonesia ga perlu terlalu dikhawatirkan, soalnya pemerintah kan bulan maret nanti akan memberlakukan CAFTA.
    Dengan diberlakukannya CAFTA, saya yakin bakalan banyak industri yang tidak mencemari bumi Indonesia lagi, soalnya mereka bakalan pada tutup, ga kuat bersaing euy.
    Daripada jadi buruh pabrik, enakan jadi pedagang aja kali ya ? banting setir

  11. akhirnya saya sempetin baca ini lagi. kalau kita beli produk cina yang murah secara tidak langsung kita pun mendukung aksi pengerusakan bumi ini. tul gak sih?

  12. >> Mami Kimdaro : Wah, hebat tuh apa yang sudah dilakukan oleh u’re Mom. Memang, orang di desa jauh lebih beradab daripada di kota. Masuk LSM? Wah, nggak tahu tuh, ikut2 kegiatan aja sama milis2 lingkungan hidup, In.
    >> Sri Widodo : Belum tentu, Do. Secara pengangguran makin merajalela, bekas pabrik itu bisa jadi malah digunakan hal2 yang lebih parah lagi.
    >> rolly : Mari selamatkan bumi!
    >> antown : Betul. Makanya cintai produk sendiri, sekaligus membantu warga lokal untuk berpenghasilan.

  13. planet kita ini ternyata sedang sekarat, mungkin kalau bumi ini benar-benar hancur, baru kita sadar dan menyesal kenapa tidak dari sekarang kita mencintai bumi.

  14. >> sauskecap : Ya, kita terlalu terlena dengan wajah bumi lain yang (sebenarnya) tinggal sedikit. Terima kasih….
    >> Gravisware : Sama-sama, semoga hal ini bisa menjadikan kita pembelajaran agar bisa menjaga bumi kita ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s