Menjadi Penulis Idealisme

Sudah saatnya saya kembali menuliskan tentang dunia kepenulisan. Mohon maaf kepada sobat baraya yang telah menunggu lama hal ini. Jujur, kesibukan saya di kantor baru sedikit membuat mata saya terbuka lebar, khususnya dunia manajemen. Jika sebelumnya saya terlalu asyik dengan dunia bebas bernama freelance dan karyawan suruhan, sekarang saya lebih mencoba belajar bagaimana mengurus banyak orang, baik yang berada di lingkungan kantor maupun yang berada di luar.

Ini dunia baru, resminya. Artinya, saya pernah mengalami hal ini saat menjadi burung yang terbang bebas, tapi itu pun sedikit terkendala saat berhubungan dengan vendor di luar. Dari situ, saya belajar bahwa saat berhubungan dengan siapa pun, ada etika dan timbal-baliknya. Bukan hanya itu, juga sistem perjanjian hitam di atas putih yang HARUS ada. Meskipun yang berhubungan dengan kita adalah teman dekat, hitam di atas putih ini menjadi mutlak agar posisi kita tidak lemah saat meminta hak kita, selama kewajiban telah dilaksanakan. Ini pun sudah digariskan jauh-jauh hari oleh Allah Swt. betapa pentingnya sebuah akad dan dua orang saksi.

Selama masa itu pula, saya mengalami dunia idealisme yang saling berbenturan. Idealisme yang muncul dari diri pribadi berhadapan dengan idealisme yang muncul dari pihak perusahaan. Bahasa halusnya sih, berdampingan. Bagaimana kita bisa selaras dan seimbang agar dua idealisme itu bisa saling menguatkan, bukan melemahkan. Inilah yang sedang saya perjuangkan. Di satu sisi saya harus bekerja mengikuti aturan-aturan yang sudah tertuang di atas kertas, di sisi lain saya pun juga harus memaksimalkan potensi yang sudah diberikan Sang Pemberi Potensi.

Berbicara masalah idealisme sebenarnya gampang saja. Bagi beberapa orang mungkin akan mengatakan idealisme itu apa yang muncul dari pikiran, tanpa adanya tekanan atau paksaan dari luar. Saya juga setuju-setuju saja, tetapi ketika dipikirkan lebih dalam lagi ternyata saya menjadi sedikit kurang setuju. Apalagi ditambah dengan tanggapan seorang kawan baik di kantor, saat berdiskusi tentang masalah idealisme. Tanggapannya adalah, bahwa idealisme itu strategi berhadapan dengan massa. Cara ini juga dipakai oleh Rasulullah saw., katanya. Artinya, bahwa idealisme itu tidak bisa diukur oleh keegoisme kita semata, tetapi harus diselaraskan juga dengan orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Saya seorang penulis, otomatis idealisme saya pun harus diselaraskan dengan semua pembaca. Idealisme saya pun juga harus diselaraskan dengan penerbit yang akan menerbitkan naskah saya. Begitu pula dengan masalah deadline yang sering dialami oleh semua pekerja. Deadline atau batas waktu pada akhirnya menjadi acuan bahwa kita memang harus hidup dengan timeline yang ketat. Setuju atau tidak, hidup kita pun sebenarnya sudah di-deadline oleh Yang Mahakuasa, hanya saja kita tidak tahu. Ya, idealisme pun juga harus diselaraskan dengan deadline.

Pengalaman saya yang buruk dengan beberapa vendor menunjukkan bahwa deadline harus disiasati. Buruk di sini dibatasi hanya membahas bahwa saya telah banyak mengecewakan beberapa vendor yang notabene adalah kawan saya sendiri. Artinya, beberapa kasus menunjukkan bahwa saya tidak bisa memenuhi deadline, bahkan berhenti di tengah jalan alias menyerah. Inilah kekalahan yang paling memalukan. Apakah saya memutuskan hal yang idealis? Tidak. Idealisme yang tepat adalah … harusnya saya bisa memenej waktu dengan lebih baik lagi. Jika saya merasa tidak mampu, harusnya saya tidak menerima pekerjaan itu sehingga di kemudian hari saya tidak mendzalimi vendor yang bersangkutan. Ya, Islam pun sebenarnya sudah menegaskan bahwa janji itu harus ditepati. Inilah pukulan terbesar bahwa betapa menjaga idealisme itu begitu berat.

Mengutip kata-kata yang pernah ditulis oleh kawan saya lainnya di FB-nya (sebagai bahan pembelajaran menjadi seorang manajer yang baik), β€œKalau mau jadi pemimpin yang baik, di rumah kita bisa berlatih menjadi ayah yang baik, sekaligus latihan menjadi suami yang baik. Menjadi pemimpin atau manajer yang baik di kantor, tentu harus diimbangi atau dibuktikan dengan menjadi good leader dan good manager dulu bagi istri dan anak-anaknya.” Inilah pentingnya menjaga idealisme yang sebenarnya. Bagaimana dengan sobat baraya sendiri? Siap menjadi penulis idealisme?[]

Advertisements

21 thoughts on “Menjadi Penulis Idealisme

  1. sepertinya, memang masih menjadi ‘budaya’ bangsa kita kali yang bang, menerima sesuatu amanah yang kadang kita sendiri juga gak mampu untuk menjalankannya. Tapi, memang bukan berarti mematikan potensi diri kita sendiri. Tentu ada porsinya, dan kita sendirilah yang bisa menentukannya tentunya, sebuah amanah bisa dikerjakan atau tidak. Juga dengan menulis. Rasanya kalimat yang terakhir kutipan dari teman bang aswi di FB itu, saya sepakat. Semuanya memang mesti diawali dari diri sendiri, termasuk dengan menjadi pemimpin bagi diri sendiri.

  2. sepertinya susah juga mejadi seorang penulis yang beridealisme tinggi.
    Tapi yuni slalu mencoba untuk menjadi seorang yang memiliki idealism yang tinggi.
    Ayo semangat dan keep bloging…..

  3. >> fety : Ya, budaya yang buruk. Ada semacam rasa rendah hati bagi kita untuk berkata TIDAK. Inilah salahnya. Mungkin kita harus berani untuk mengatakan tidak jika merasa ragu-ragu. Bukan YA tapi di kemudian hari malah bilang ‘nggak sanggup’ T_T
    >> yuni : Semuanya berproses, dan selama kita yakin, insya Allah kita semua pasti bisa. Keep fight! Itulah salah satu kuncinya.

  4. Menjadi penulis idealisme yang baik dan benar sama sulitnya menjadi pemimpin yang baik dan benar..tapi bukan tidak mungkin………….:-) thanks ya. Kapan kita ketemuan? he..he..selamat truz berkarya Bang

  5. >> E’el : Diprioritaskan saja, atau mana potensi yang membuat kita nyaman.
    >> Moko : Yang penting mencobanya, bukan hanya sekadar dipikirkan….
    >> Honeybunny : Lho?! Thanks ya, Hon….
    >> Tips : Terima kasih, semoga terus mampir dan memberikan warna pada blog ini.

  6. >> Miss Anna : Kadang, perasaan ndak bisa itu muncul karena kita sudah biasa ngasih pembelajaran, hanya kita saya yang belum tahu potensi tersebut….

  7. Quote di paling bawah tulisanmu benar….karena bekerja adalah ibadah dan menjadi pemimpin adalah amanah. Jika kita menyadari tanggung jawab yang harus dipikul, menjadi pimpinan tidak mudah, karena kita harus menjadi panutan, terkadang mengalami konflik batin, namun semua harus diatasi.

    Dan di perusahaan saya (sebelum pensiun), seseorang yang akan dipromosikan, juga harus diketahui riwayat keluarganya, apakah dia dan isteri/suami berhubungan baik, bagaimana pendidikan anak-anaknya…karena ya itu tadi, menjadi pemimpin itu tidak mudah.
    Dan betapapun beratnya kita harus tetap punya sisi idealisme, ini yang akan menjaga nurani kita. Semoga sukses berkarya

  8. >> edratna : Terima kasih. Ya, apalagi kalau mengingat bahwa pertanggungjawaban seorang pemimpin itu sangat berat di akhirat nanti. Semoga nurani kita selalu terjaga….

  9. haha.. nice post πŸ™‚ sayah sangad g pernah bisa menulis dng bagos, apalagi beridealisme.. sayah nulis yak suka2 sayah πŸ˜€

  10. >> Qie : Idealisme itu adalah kunci bahwa kita punya konsep yang jelas tentang hidup. Mengalir boleh, tapi harus ada tujuannya. Air pun begitu ….

  11. mnrt sy yg awam…idealisme penulis itu menulis sesuatu yang bermanfaat… pertama bagi org lain, diri kita kemudian… tentu saja prosesnya juga harus bermanfaat bagi diri kita dan orang lain… bukan hasil atau keluaran dari prosesnya saja yg punya manfaat…

  12. Saya sepakat soal “berdamai” dengan sekitar demi idealisme. Saya sangat sering berhubungan dengan teman-teman seniman ataupun pengarang yang ternyata sama sekali tidak menghargai waktu. Bekerja dengan mood adalah ciri khas kelompok ini. Kalau mereka sedang kehilangan mood, jangan harap bisa beroleh apa yang kita mau.

    Berdamai dengan dunia sekitar inilah yang seharusnya dipahami oleh mereka. Sebab, sebuah karya tak kan berdampak apapun, jika tak didukung oleh industri.. πŸ™‚

    .-= vizon´s last blog ..jamur & zupa =-.

  13. >> Abang Eddy : Nah, tambahan yang mantap, Bang. Terima kasih atas sharing yang bermanfaat.
    >> vizon : Ya, kita memang harus bisa berdamai dengan lingkungan. Dulu pun saya menerapkan hal tersebut, tetapi menjadi tidak nyaman ketika saya sedikit mulai membuka diri bahwa bukan ego kita saja yang bermain, tetapi banyak orang. Thanks….

  14. owwhh jadi sekaran9 da jadi penulis idealis ??

    emm..pantesan da sibuk pisan πŸ™‚

    selamat yah,& 9ood Luck,be down to earth for bein9 a leader yah ban9..

    akumah bukan penulis,jadi tidak idealis heheh

  15. >> wi3nd : Menjadi idealis tidak harus jadi penulis atau harus menjabat jabatan tertentu. Menjadi siapa saja haruslah idealis, tapi idealis yang seperti apa, itulah maksudnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s