Ruang Kebersamaan yang Hilang

Saya merasakan makan siang yang kurang nikmat belakangan ini. Bukan karena menunya yang tidak menggiurkan atau kondisi badan yang tidak memungkinkan untuk mengonsumsi semua jenis makanan lezat. Alhamdulillah saya masih diberi tubuh yang dapat menikmati semua rezeki Allah itu. Satu hal yang mungkin membuat saya kurang nikmat menyantap makan siang, bisa jadi adalah kebersamaan.

Di kantor saya memang tidak ada kantin, sehingga saat jam makan siang otomatis semua karyawan akan beli makanan di luar. Jika tidak, tentu akan memakan perbekalan yang sudah disiapkan dari rumah atau membeli makanan di luar lalu makannya tetap di kantor. Semua berjalan biasa-biasa saja karena memang sudah dari sananya seperti itu. Yang biasa makan di luar tidak bermasalah, begitu pun dengan yang makan di kantor. Akan tetapi, saya seperti kehilangan makna saat jam-jam seperti itu, apalagi dengan maraknya penggunaan internet (khususnya facebook).

Dahulu, tepatnya empat tahun yang lalu, kita selalu makan bersama saat jam makan siang tiba. Yang tidak membawa bekal, membeli makanan dahulu di luar. Yang membawa perbekalan, menunggu sampai semua rekan tiba. Ada meja besar tempat kita berdiskusi atau tempat rekan-rekan ilustrator plus editor yang berkumpul di sana saat jam kerja. Meja besar itulah tempat kita makan siang bersama. Ada canda tawa di sana, plus saling berbagi menu-menu yang ingin dicoba. Saya bisa makan dengan menu sayur asem plus kerupuk, padahal saya hanya membeli atau bekal mi goreng dan tempe saja. Ada sharing yang tidak biasa terjadi di sana. Ada momen-momen yang bisa muncul di sana tapi tidak muncul saat jam kerja. Itulah kebersamaan yang saya maksudkan.

makan1

Kini, dengan kantin yang belum ada, semua itu berangsur-angsur hilang. Hanya (beberapa) kaum wanita saja yang masih bisa berkumpul ‘ngariung’ makan siang bersama di salah satu sudut kantor. Yang laki-laki, lebih banyak makan sendiri-sendiri di meja kerjanya, memandangi layar komputer sambil ber-facebook ria. Semuanya tampak mengejar waktu karena saat jam istirahat selesai, facebook kembali dinonaktifkan. Sudah seminggu ini, saya memaksakan diri makan di ruangan yang menurut saya nyaman untuk makan bersama. Saya sering menyindir betapa tidak nyamannya makan siang sambil memandangi layar komputer, apalagi makan sendiri. Satu dua orang pernah bergabung, tetapi selebihnya tetap makan di meja kerjanya. Padahal, ruangan itu tetap sama. Saya duduk di atas karpet di tengah ruangan, tepat di belakang meja-meja mereka.

Disadari atau tidak, kebersamaan bisa muncul di mana saja. Syaratnya tidak berat, hanya menciptakan suasana yang nyaman dan santai. Saya kira, jam makan siang itulah momennya. Saya sudah merasakan hal itu empat tahun yang lalu. Jika rekan-rekan saya mau menyempatkan diri makan bersama dan rela berkorban meninggalkan facebook, saya kira keakraban antarrekan kerja bisa terwujud lagi. Jika kantor saya mau menyediakan ruang untuk makan bersama, momen-momen itu saya kira bisa tercipta. Tidak ada lagi sekat-sekat antarbagian, atasan dengan bawahan, sesama rekan kerja, dan lain sebagainya. Jika ada tensi yang tinggi saat jam kerja, jam makan siang bisa merendahkan atau meniadakannya sama sekali. Itu baru di kantor.

Di rumah, ruang kebersamaan itu juga sudah hilang sama sekali. Jika ada meja makan, biasanya hanya simbolis saja. Meja makan ukuran kecil dengan dua atau tiga kursi, sedangkan anggota keluarga bisa jadi sudah berjumlah enam orang. Sekarang, dapur saja sudah dirasa cukup untuk ruang memasak, ruang mencuci piring, dan kulkas, tanpa harus ada meja makan. Padahal, kebersamaan bisa diciptakan tiap hari, tidak harus menunggu Ramadhan tiba. Ruangan tengah bisa diciptakan sebagai ruang kebersamaan dengan menggelar lesehan. Semua diletakkan di sana, lalu semua anggota bisa makan bersama. Semua bisa bercerita, berceloteh, tertawa, dan ‘curcol’ bersama.

nonton

Bukan hanya di ruang makan, ruang kebersamaan pun bisa diciptakan di ruang tengah tempat TV berada. Semua anggota keluarga bisa menonton bersama dan orangtua pun bisa memantau tontonan yang aman bagi anak-anaknya. Tidak ada lagi kecurigaan orang tua terhadap anaknya sedang menonton yang bukan-bukan atau yang biasa-biasa, apalagi setelah adanya teknologi DVD player. Saya memang tidak setuju dengan konsep satu kamar satu TV karena konsep tersebut malah membuat jurang yang semakin lebar antaranggota keluarga. Semuanya seolah-olah telah menjadi individu yang asing. Terus terang, saya rindu dengan kebersamaan itu. Ruang kebersamaan yang kini (tampaknya telah) hilang.[]

Advertisements

26 thoughts on “Ruang Kebersamaan yang Hilang

  1. Makanya, ajak makan dong di luar… traktir gitu… jadi jauh dari komputer. Kita bisa makan sambil ngumpul.
    Gimana teman-teman???

  2. agree with mr. puwi, makan-makan diluar, kumpul-kumpul…
    tapi ini cuma ikut usul ya, urusan bayarnya, bayar masing-masing…………

  3. Alhamdulillah, blom kehilangan ruang kebersamaan, setiap hari masih bisa makan siang bareng sahabat2, cekakak-cekikik bareng, ngomongin hal yg ga penting, pokoknya heboh

  4. >> ade : hayuuu….
    >> puwi : masa ditunggu traktiran sih, biasanya juga bayar masing2 atau bekel masing2 … ^_^
    >> mira : nah, ini baru setuju!
    >> rani : iya, suka iri kalau kaum ibu pada makan bareng….

  5. hahahaha…itu juga jadi kebiasaan saya di rumah…tapi saya selalu berharap bisa makan berdua sama suami krn terasa lebih nikmat sembari ada obrolan² ringan

  6. Sama pak dulu dikantor juga ada tempat makan bareng-bareng sekarang ruangan sudah diubah, justru si bos yang nggak suka kita dicurigai ngerumpi di tempat itu, yah nasib…
    Ttg televisi saya juga menerapkan diletakkan di ruang tengah dimana semua org bisa ngeliat duduk bersama disitu, bahkan makan juga ditempat itu, dan memang asyik…
    Kemajuan teknologi mmg berbanding lurus dengan dampaknya pak, tinggal pinter-pinternya kita mengambil sikap, mau tergerus atau punya prinsip yang jelas…
    maaf…, nuhun sudah menyentil…

  7. Perkenalkan, nama saya Rudy Yanuar, saya freelance photographer. Saya punya 21 Facebook account, punya beberapa FB fans pages dan grups. Blackberry pin saya, saya publish di semua FB saya. Setiap hari 5org add BB saya. Baik dari Dubai, Holland, Jakarta, US, etc. Karena saya tidak sempat berkenalan satu2 saya bikin grup di BB saya. Saya punya 8 group, semuanya isinya wanita. Mereka saya invite karena sudah jadi friendlists dalam BB saya, yang menarik adalah masing2 dari umur dan latar belakang yang berbeda. Saling berbagi info dan sharing bersama. Untuk dapat saling kompak selalu, dari grup satu dibikin arisan tiap bulan. Grup dua kebanyakan jualan dari baju, sepatu, behel, anti aging sampe kue juga ada.
    Be Creative bukan hanya dalam bentuk visual dan di komputer. Be creative in social life, alangkah indah nya apabila bisa bersama dalam berbeda2 latar belakang. Perbedaan itu indah dan menarik untuk saling sharing dan tukar pikiran.

    Salam

  8. >> Siwi : Wah, si bos ‘negative thinking’ tuh. Asyiiik … bisa nontong dan makan bareng di rumah. Ya, prinsip yang jelas itu penting, jangan sekadar ikut2an.

  9. >> Rudy : Memang indah luar biasa apabila kita bisa berkumpul bersama dari latar belakang yang berbeda-beda, padahal sebelumnya tidak saling kenal. Kebersamaan yang saya maksudkan di sini adalah kebersamaan yang sudah tercipta, yaitu lingkungan kantor dan lingkungan keluarga. Alangkah indahnya jika kebersamaan itu bisa muncul kembali dan makin mempererat hubungan yang telah ada. Jika kebersamaan itu bisa muncul atau tercipta dari media yang lain seperti social media, tentu akan jauh lebih indah lagi tanpa harus mengorbankan kebersamaan yang lain. Luar biasa!

  10. Saya pernah mengikuti suatu seminar di Bali tentang tata ruang, dan mengangkat realita kaca bening ini. Mengapa realita kaca bening, krn sering tak terlihat sangking transparannya, padahal membuat gap antar ruang tersebut.

    Suatu saat setiap Bapak akan berangkat sesubuh mungkin sehingga melewatkan sarapan bersama istri dan anak2nya, supaya menghindari kemacetan dan dapat masuk kantor tepat waktu, lebih cepat bahkan lebih baik pemikiran mereka, daripada membuang2 waktu di jalan krn macet. Beruntung kalo inget bawa bekal dr rumah, ato sang istri sempat bangun untuk membuat sarapan tersebut.

    Sebagai pelampiasannya, ada yg rela bela2in pas istirahat siang untuk mkn siang di rumah. Atau janjian di suatu restoran bersama kawan2 sejawat baik yg 1 kantor maupun beda kantor. Efeknya: seperti kota Jakarta di lunch time alhasil BIKIN MACET. Kerja pun jd gak efektif, ya cape dijalan laper lagi, telat sampe kantor, dll. Dosen saya yg S2 di Jepang jg menyadari realita tersebut dan membandingkan dgn org2 kantoran dsana, bahwasanya org2 jepang membuat 1-2 jam istirahat mereka sangat efektif:
    – 10 menit pertama ke toilet lalu cuci muka.
    – 30 menit selanjutnya membuka bekal yg telah dibawa dr rumah atau telah memesan makanan sebelumnya, atau makan di kantin.
    – 10-60 menit tidur di kursi kerjanya, atau berinteraksi dengan teman sekantor lainnya.
    – 10-20 menit terakhir pergi ke toilet untuk cuci muka kembali dan siap bekerja.
    Ada jg yg pergi keluar untuk makan siang, itu dinamakan POWER LUNCH. Dan itu hanya dilakukan oleh elite-elite Kantor (Presdir, Direktur, GM, ato Manajer), karena sekalian meeting atau transaksi kerja.

    Realita ini juga diperparah dengan lokasi RUMAH dengan KANTOR yang kebanyakan terlalu jauh. Memang sekarang jaman yg sulit, masih mending dapet kerja, sehingga dengan sebaik2nya mempertahankan pekerjaan tersebut. Walaupun bela2in lintas kota, rumah di bogor, kerja di Jakarta, atau rumah di Jakarta, kerja di Bandung (salut!hehe) .

    Semoga kita dapat melihat kaca bening itu, dan mulai menyadari serta melakukan solusi terbaik. Untuk generasi Indonesia yang dapat makan pagi, serta makan malam bersama ..

  11. >> X-Tian : Wah, keren banget tuh. Tidak ada salahnya untuk dicoba, secara kebanyakan masyarakat kita memang kurang disiplin soal waktu. Istirahat paling duluan, tapi balik ke kantor paling belangkangan. Semoga kita bisa menerapkan hal-hal yang penuh kebaikan….
    >> isil : Waalaikumsalam. Nggak apa2, yang penting sudah dikunjungi dan saya harus berterimakasih.

  12. Membaca tulisan ini membuat saya rindu dengan suasana makan siang di (mantan) kantor saya di Bandung. Menu makan siang yang selalu menjadi ajang tebak-tebakan sebelumnya, disantap dengan lantunan suara air terjun buatan di ruang belakang…Wiw! dan saat siang inilah semua personil bisa sedikit menguapkan kelelahan kerja. Satu momen yang selalu menjadi kenangan kebersamaan yang berharga.

    TFS Bang Aswi

  13. terasa banget pas di sini, kalau kebersamaan itu memang milik negeri Indonesia yah. kadang kangen juga dengan makan bareng. Tapi, apa daya di lab jadi makhluk asing sendirian. jadilah, teman makan siangpun adalah perangkat komputer 😀
    Tapi, benar kata bang aswi, mungkin beberapa tahun lagi, di Indonesia juga akan seperti keadaan yang saya alami sekarang:)
    Waalallhu’alam

  14. >> Sinta : Alhamdulillah, Sinta, setelah saya memposting tulisan ini ke rekan-rekan di kantor, kita pun sepakat untuk berkumpul kembali. Sudah dua hari kami (kendati belum semuanya) bisa makan bersama meski baru 3-5 orang. Akhirnya kebersamaan itu telah muncul kembali. Ada cerita baru lagi di sana, bahkan, langsung ada rencana untuk jalan bareng ke Jayagiri, Tangkuban Perahu, awal Maret nanti. Subhanallah….
    >> febty : Mudah-mudahan nggak seperti itu, Feb. Ngeri membayangkan hal-hal yang membuat dunia sosial sebenarnya tergerus oleh dunia sosial maya.

  15. wah, subhanallah. ..
    horeeeeeeeee. ..ikut seneng deh denger kabar baiknya bang 🙂 ternyata curhat membawa berkah ne, hehew…

    sharing dikit, dulu saat sy kerja di perush software kompt yg sedang berkembang, dan cuma ada 7 orang karyawan, kita selalu rutin makan bareng, entah ada yg membawa bekal maupun makan di luar. kadang2 sampe bela2in, yg bawa bekal ikutan makan di warung dan tetap memakan bekalnya 🙂 meski kita saat itu kerja dengan tekanan dari bos (saat kerja ga boleh saling ngobrol, meski semeja gede, terdiri dari 4 orang, dan ngobrolnya harus lewat YM, ketawa keras pun ditegur, bete banget)

    suatu saat, kita memutuskan utk refresh dan membangun kekompakan tim, dan saling share gimana caranya utk tetap survive di lingkungan kantor yg boring, pergilah kita ke sebuah villa di batu, dekat kota Malang. Disana kita pun menumpahkan semua curhatan, saling evaluasi, juga merancang beberapa permainan yg sangat melibatkan emosi.

    Pulang dari sana, ada peristiwa mengejutkan. Kami semua di-PHK massal dgn tuduhan mencuri HP dan uang si bos, padahal ga satupun dari kami merasa demikian, begitu pula antar kami bertujuh, tidak ada yg saling mencurigai.
    Hikmahnya : dari peristiwa itu, kami ditunjukkan bahwa itu bukan tempat terbaik kami, dan hal yg terindah adalah, sampai saat ini, kami bertujuh saling berhubungan baik dan membuat grup sendiri, seperti saling bertukar info pekerjaan, menggarap proyek bareng2 (seperti ikutan lomba bikin film indie dan sempat menang), karaoke an, maupun tahun baruan bareng. Ibaratnya orang memadu kasih, jadian kami ya saat pergi refresh di Batu itu 🙂

    Semoga setelah pulang dari Jayagiri nanti, bang asmi n friends bisa lbh bergairah dan kompak..tapi tentu bukan cerita PHK massal seperti pengalaman saya,,,sukses

    -Jabat eratku-

  16. >> Sinta : Iya, tulisan itu memang obat. Banyak kok yang sudah mengakuinya … ^_^
    >> Prita HW : Thanks ya sudah sharing pengalaman yang nggak enak tapi menciptakan persahabatan kalian bertujuh menjadi luar biasa. Insya Allah nggak lah ya, secara bos saya juga merupakan teman akrab. Mudah2an malah difasilitasi hehehehe, seperti pengajian mingguan dengan menu buah yang berganti-ganti (betulan ini loh). Tapi ini juga patungan …, yang penting maknanya.

  17. bang aswi, ini opini dan wacana yang perlu diberikan ke masyarakat, agar lebih terbuka cara pandangnya dalam kehidupan ini. menarik.

    salam

  18. kadang kebersamaan bisa menjadi penghalang juga untuk melangkah lebih jauh karena nantinya bisa menjadi beban pertimbangan untuk tidak memutuskan karir yang lebih baik.

  19. ckckckc..FB ternyata mampu membuat smuanya berubah yah,kebersamaan..

    tapi meman9 ter9antun9 individunya yah ban9..

    nanti aku temenin dech,aku makan sendiri diruan9 makan hanya ditemani tivi,karen aku makan palin9 akhir,sholat dzuhir dulu,trus ja9ain warun9 baru makan sian9 ^^”

    tapi tetap menikmati makanannya heheh..

    makan sambil n9enet mah nda konsen,nda bisa nikmatin amkannya,klu n9umpul sebenernya bisa berba9i makanan kan hehhe
    *ini kebiaasaan aku ban9 *

  20. >> sano : Iya, terima kasih kembali….
    >> boyin : Nah, kalau yang itu pemikirannya beda lagi, Mas. Ini kan lebih ke arah yang positif. Kalau hal itu, bisa dibicarakan dengan keluarga hehehehe…..
    >> wi3nd : Memang tergantung, tetapi mayoritas belum bisa karena sebagian masyarakat kita belum semuanya menaydari. Yang penting makannya tetap nikmat, Wi3nd, kendati hanya sendiri. Nanti deh, kalau ada masanya bisa makan bersama….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s