Nafas Air Mata

===Rumah sederhana. Dan matahari pun begitu bangga bisa menyinarinya, bahkan pada seluruh permukaan bumi yang penghuninya banyak yang tidak menyadari kehangatannya. Kehadirannya. Kelopak-kelopak bergerak dalam hitungan menit untuk membuka, memperlihatkan sari dan esensialnya sebagai bunga. Merekah dan mengundang kumbang-kumbang yang berjuang demi keluarganya. Bergerak dan mendengung, di antara tangkai-tangkai kecil yang begitu kokoh menyangga daun, duri, buah, bunga. Juga serangga-serangga kecil yang menumpang hidup darinya. Kompleksitas kehidupan, yang saling berhubungan. Begitu juga dengan makhluk termulia karena akal yang disandangnya. Penghuni rumah sederhana itu.
===Seorang laki-laki berumur—dengan jenggot putih menjuntai sepanjang kurang lebih 5 cm, kacamata baca yang lumayan tebal, dan kopiah putih yang bertengger di kepalanya—sedang asyik membaca sebuah kitab di ruang tengah. Ruang tengah yang juga sederhana, dengan empat buah kursi kayu berhiaskan sulaman kulit bambu yang kokoh. Secangkir kopi tersaji dengan uap yang masih mengepul di atas meja, bersanding dengan kitab tebal beralaskan kain coklat bercorak batik. Selaras dengan warna alami kayunya. Satu kali lelaki tua yang biasa dipanggil kiai oleh tetangga-tetangganya itu membenarkan letak kacamatanya, sambil tangan lainnya menggaruk-garuk punggungnya yang tertutupi kaos berwarna putih. Sarung putih bercorak garis vertikal-horizontal di bagian bawahnya menjuntai hingga ke lantai yang sudah tertutupi ubin berwarna kuning. Kuning pupus karena bercampur debu yang melekat erat. Sangat sulit untuk dihilangkan. Lelaki tua itu mendesah. Dan setelah menyeruput kopinya, ia menoleh ke arah kanan.

===“Bu!” ujarnya sedikit berteriak.
===“Ya, Pak!” sahut seseorang dari arah dapur. Seorang perempuan tua yang sebaya dengan lelaki tua itu—dengan balutan kerudung putih sambil memperlihatkan senyum khasnya—muncul menyibakkan kain yang menjuntai dari atas bingkai pintu yang tak berpintu. Penghubung antara ruang tengah dengan dapur. “Ada apa, Pak?”
===Lelaki tua itu tersenyum, “Tolong disiapkan baju dan celana untukku.”
===Perempuan tua itu mengangguk, lalu berjalan memasuki sebuah kamar yang terletak di sebelah ruang tengah. “Baju batik coklat dan celana hitam, kan, Pak?” tanyanya lagi memastikan sebelum ia masuk ke dalam kamar.
===“Iya, Bu,” jawab lelaki tua itu tetap tersenyum, dan langsung melanjutkan bacaan kitabnya. Tangan kirinya kembali membenarkan letak kacamatanya.
===Sebuah bingkai besar berisikan foto keluarganya tergantung di salah satu dindingnya yang dicat biru muda—tepat di depan lelaki tua itu. Di sana terlihat dengan sangat cerianya, ia dan istrinya dengan keempat anaknya yang saling berpasangan, dan juga sepuluh orang cucunya. Sementara pada dinding lain yang saling berhadapan—yang dipunggungi oleh lelaki tua itu—, tergantung sebuah permadani besar bergambarkan Masjidil Haram dengan ka’bahnya yang begitu megah.
===Tak lama perempuan tua yang tadi masuk ke dalam kamar telah muncul kembali di ruang tengah. “Mau berangkat jam berapa, Pak?” tanyanya sambil menutup pintu kamar.
===Lelaki tua itu menoleh ke kanan, melihat jam dinding yang tergantung di dinding sana—pembatas antara ruang tengah dan dapur. “Insya Allah jam delapan, Bu. Acaranya baru dimulai jam sembilan.”
===Perempuan tua yang telah menjadi istri dari lelaki tua selama puluhan tahun itu kemudian duduk di salah satu kursi yang bersebelahan dengannya. “Pak, boleh aku bertanya?”
===Lelaki tua itu menatap wajah istrinya dengan lembut. Menunggu.
===“Maaf, mungkin pertanyaan ini terlalu telat. Tapi aku penasaran jika tidak menanyakannya.”
===“Soal apa, Bu?”
===“Soal baju itu. Baju batik yang sering kaukenakan untuk mengisi ceramah di berbagai tempat itu.”
===“Ada apa dengan baju itu, Bu?”
===“Tidak ada apa-apa dengan baju itu, Pak. Hanya saja aku heran kenapa selalu baju itu yang sering kaukenakan. Bukankah masih banyak baju lain yang lebih bagus dan lebih layak?”
===“Apakah baju itu tidak layak kukenakan, Bu?”
===“Bukan. Bukan itu maksudku, Pak. Hanya saja, baju itu kan kainnya tidak bagus dan coraknya pun biasa-biasa saja. Maaf, tapi apakah Bapak tidak malu memakai baju itu? Maksudku…, seperti sekarang ini. Bapak kan mau mengisi ceramah di kantor pemerintah. Banyak orang-orang penting di sana, Pak.”
===Lelaki tua itu tersenyum. “Insya Allah akan kuberitahukan alasannya kenapa aku sangat suka dengan baju itu, Bu. Tapi tidak sekarang. Insya Allah sepulang dari ceramah nanti akan aku beritahukan. Sabar, ya, Bu. Aku mau bersiap-siap dulu.” Dan lelaki tua itu segera beranjak ke dalam kamar, meninggalkan istrinya yang kepalanya masih dipenuhi tanda tanya.
===Tak lama lelaki tua itu telah berpamitan pada istrinya. Perempuan tua itu melepas suaminya dengan hati lapang, namun tetap saja pikirannya masih menyimpan sebuah pertanyaan tentang baju batik coklat itu. Ia pun mengingat-ingat kapan pertama kali suaminya membeli baju batik itu. Kira-kira sudah sepuluh tahun yang lalu. Dan tak pernah satu kali pun, suaminya memakai baju yang lain ketika berceramah.
===Ia memang sangat bangga pada suaminya. Keimanan dan kejujurannya telah mengantarkannya menjadi orang yang sangat disegani oleh tetangga maupun masyarakat luas, hingga orang-orang menyebutnya kiai. Seorang da’i yang tetap tawadhu. Yang masih ingat pada kemiskinan tetangganya meski undangan ceramahnya telah sampai pada orang-orang penting. Dan perempuan tua itu benar-benar bangga akan suaminya. Yang berkahnya pun mengalir terus-menerus pada keluarganya. Turun-temurun.
===Ia masih ingat benar akan suatu peristiwa beberapa tahun lalu, ketika suaminya diundang ceramah sedang mereka tidak mempunyai uang sepeser pun. “Tolong carikan pinjaman untuk ongkosku, Bu. Sepuluh ribu saja rasanya cukup. Insya Allah akan kuganti sepulang ceramah nanti,” begitu kata suaminya sebelum berangkat. Setelah mendapatkan pinjaman dari tetangganya, suaminya langsung berangkat. Dan ketika pulang, ia benar-benar gembira karena suaminya memberikan uang seratus ribu.
===“Kok tumben, nggak diamplop, Pak?” tanyanya basa-basi.
===“Kaupikir, memangnya uang itu dari mana?”
===“Dari hasil berceramah, kan?”
===“Bukan, Bu. Aku tidak mendapatkan apa-apa dari sana kecuali kebahagiaan karena ilmuku tidak sia-sia kuberikan.”
===“Lalu, uang ini dari mana?”
===“Dari hasil menggadaikan cincin, Bu.”
===“Cincin milikmu yang selalu disimpan di dalam lemari itu?”
===“Ya.”
===“Ya Allah. Kenapa Bapak tidak bermusyawarah dulu denganku? Aku, kan, istrimu, dan aku juga berhak atas cincin itu, Pak.”
===“Maafkan aku, Bu. Aku terpaksa menggadaikannya karena ingin segera membayar utang tadi pagi. Tolong bersabarlah, dan kuakui ini memang kesalahanku. Insya Allah kalau ada rezeki, kita bisa menebusnya kembali. Bahkan, kalau kau mau bersabar, akan kaudapatkan ribuan cincin yang ribuan kali lebih bagus dari cincin itu.”
===“Di mana?”
===“Di surga kelak.”
===Ya. Itulah ingatan yang sangat membekas dalam hatinya akan keimanan suaminya yang begitu mendalam. Keimanan yang membekas pada ucapan-ucapan yang keluar dari mulut suaminya. Hal itulah yang sangat membanggakan dan membahagiakannya karena bisa bersanding dengan lelaki mulia itu. Dan kini, jawaban apa lagi yang akan dikemukakan suaminya tentang baju batiknya itu.
===“Kau masih ingat ketika aku diundang berceramah di sebuah desa di daerah utara itu?” tanya lelaki tua itu ketika dirinya tengah bersantai sepulang ceramah, sementara istrinya bersanding di sebelahnya sambil sesekali memijiti tangannya. “Kira-kira limabelas tahun yang lalu.”
===“Ya, aku masih ingat.”
===“Kau tahu, setelah berceramah aku langsung dihampiri oleh panitia acara dan menyelipkan sebuah amplop pada tanganku.” Mata tua itu menerawang, “Pada awalnya aku menolak karena aku ikhlas, apalagi melihat para jamaah yang rata-rata orang kecil itu. Tetapi kemudian …,” Matanya mulai berembun, “panitia acara itu mengucapkan sesuatu yang sangat menggugah hatiku. Sesuatu yang telah mengubah diriku.”
===“Apa itu?”
===“Katanya: Janganlah kautolak rezeki ini, nanti para jamaah akan tersinggung mengingat jumlahnya yang sangat sedikit. Ini uang halal, sebab para jamaah ini tidak ada kesempatan untuk korupsi. Mereka adalah penyabit rumput, penyadap nira, buruh harian, tukang batu, petani kecil, dan lain-lain. Uang ini adalah hasil kucuran keringat mereka yang telah berjuang keras. Tolong hargailah rezeki ini sebagai ikatan persaudaraan sesama muslim.”
===Perempuan tua itu menghentikan pijitannya. Matanya tak berkedip dan ikut berembun memandang suaminya, sementara pikirannya menerawang akan sesuatu yang amat indah. Sesuatu yang membuat hatinya terharu.
===“Aku tidak bisa berkata apa-apa saat itu, selain menerima amplop itu dengan hati yang tak terkatakan. Ada perasaan lain ketika aku pulang dari sana. Sesuatu yang membuatku melihat keadaan desa itu dengan mata hati yang lain. Dan semalaman, aku benar-benar tidak bisa tidur. Akhirnya, kau pun mungkin masih ingat, keesokan harinya aku langsung pergi ke pasar dan membeli baju batik dari uang itu. Itulah kenapa aku selalu memakai baju batik itu, Bu.”
===Perempuan tua itu langsung memeluk suaminya. Penuh kehangatan. Penuh kebahagiaan. Yang tak terkatakan.
===“Baju itu sangat istimewa bagiku. Bila aku memakainya, tubuhku bagai berselimutkan kasih sayang mereka. Dan, aku ingin senyumku menjadi bagian dari senyum mereka, aku ingin air mataku senafas dengan air mata mereka.”[]

Bandung 02.03.10

NB: Mohon doa, cerpen ini diikutkan pada lomba “Anti Korupsi BlogPost Competition” yang diadakan oleh CeritaInspirasi.net. Biarpun nantinya tidak menang, semoga cerita ini bisa menginspirasi semua orang.

Advertisements

18 thoughts on “Nafas Air Mata

  1. Ceritanya sungguh menggugah bang
    kadang buat kita sangat sulit untuk bisa bertahan dengan hidup seadanya, apalagi sampe bisa membantu orang lain

  2. >> Itik Bali : Terima kasih. Inilah maknanya keyakinan … semiskin apapun kita, sangat disarankan untuk bersedekah. Biarlah Yang Di Atas yang menilai, bukan orang lain.

  3. Assalamu’alaikum, Subhanallah, cerita yg bisa menjadi contoh yang baik bagi kita semua, semoga bisa memenagkan lomba Pak. (Dewi Yana)

  4. bersedekah bukanlah hal yang mudah, kalau sering ditunda maka kita tak punya “tabungan” di hari tua.

    semoga saya bisa belajar dari tulisan ini

  5. >> Dewi Yana : Waalaikumsalam. Amiiin, yang penting, banyak orang yang terinspirasi….
    >> antown : Ya, karena itulah kita bisa memulainya dari hal yang paling kecil (semisal hanya kencleng Jumat). Saya pun juga ikut belajar.

  6. aaabaaan99…

    maaf,aku meman9 cen9en9!
    dan harus aku akui,aku menitikkan airmata membaca ini..
    betapa kesederhanaan dan keihkhlasan itu… subhanalloh..

    nice story ban9 🙂

    emm..9ood Luck yah wat kompetisinya:)

  7. Bang Aswi, bundo suka sekali kalimat terakhir itu. Ada kasih sayang, silaturrahim yang sangat kuat. memang begitulah seharusnya kita, menjaga persaudaraan dengan sesama, dengan seluruh alam.

  8. >> nakjaDimande : Terima kasih, Bundo. Semoga semua manusia bisa belajar tentang persaudaraan antar sesama dan seluruh alam….
    >> Indah : Wlkmslm, terima kasih atas komentarnya, Indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s