Menulis Lebih Baik [Menulis]

Menurut sobat baraya, mana yang lebih penting: menulis lebih baik atau lebih baik menulis? ^_^

Di sini, saya tidak akan membahas mana yang lebih penting karena masing-masing akan memiliki pendapat yang berbeda-beda. Jujur, saya awalnya bingung mau menulis apa, tetapi kemudian setelah menimbang beberapa hal, akhirnya tema inilah yang dipilih kali ini. Ya, menulis lebih baik. Apabila sobat baraya telah menulis baik, cobalah menulis lebih baik lagi, sehingga akan menghasilkan tulisan yang baik.

Tulisan yang baik memiliki banyak ciri, apalagi jika mengambil beberapa pendapat para pakar penulis di dalam maupun luar negeri. Akan tetapi, dari semua ciri itu, saya lebih suka menyoroti dua ciri saja, yaitu: bahwa tulisan yang baik harus memiliki tujuan dan tulisan yang baik harus mampu berkomunikasi atau menyampaikan pesan dengan jelas!

Hendra Sugiantoro menuliskan bahwa dengan memiliki tujuan, aktivitas menulis kita akan memiliki arah dan target yang jelas. Tujuan itulah yang membingkai jiwa kepenulisan kita untuk terus menulis, menulis, dan menulis. Tanpa adanya arah dan target (atau disebut juga sebagai tujuan) maka tulisan kita pun akan seperti layang-layang putus, tak jelas mau kemana. Seperti halnya sebuah perjalanan, tentu akan lebih tenang dan nikmat jika kita mengetahui tujuan perjalanan itu. Minimal ada patokan-patokan yang jelas bahwa ketika kita akan ke sana, saya akan ke sini, lalu kita bertanya. Kurang lebih seperti itu.

Dari semua tujuan yang dimiliki oleh setiap penulis, jelas lebih mulia kalau tujuan kita menulis adalah sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran (A. Teeuw) atau menulislah sesuatu yang akan membahagiakan diri kita di akhirat nanti (Ali bin Abi Thalib). Bahasa sebagai bagian dari keindahan (sehingga saya sering mengatakan kepada siapapun bahwa menulis ada seni dan menjadi bagian dari dunia desain) tentu tidak akan terpisahkan dari kebenaran (Baharudin Ahmad). Hal ini sesuai dengan tujuan kesusastraan, yaitu untuk mendidik dan membantu manusia ke arah pencapaian ilmu yang menyelamatkan (Harun Daud).

Inilah tujuan menulis yang paling mulia, yaitu mengandung misi profetik. Hendra menuliskan kembali bahwa ada lima tujuan menulis dalam misi profetik: mengikat ilmu, menyampaikan ilmu, menyeru kepada kebaikan (amar ma’ruf) atau humanisasi dalam istilah Kuntowijoyo, mencegah kemungkaran (nahi munkar) atau liberasi (Kuntowijoyo), dan meneguhkan keimanan manusia.

Sebuah karya desain sebagus apapun, tanpa terselip pesan yang jelas, pada akhirnya akan berakhir sebagai tumpukan portofolio yang hanya berdampak pada si desainer itu sendiri tanpa memberi kontribusi apa-apa bagi lingkungannya (Ardyansah). Menulis sebagai bagian dari desain pun juga harus seperti itu. Sebuah tulisan jelas harus memiliki pesan sehingga mampu berkomunikasi dengan pembacanya. Di sinilah pentingnya bagi penulis untuk menganggap bahwa pembaca itu cerdas sehingga kita pun harus menulis dengan kata-kata yang cerdas, bukan menggurui. Perlu dicatat, keindahan kata-kata tidak menjamin bahwa tulisan itu menjadi baik, tetapi tulisan yang baik harus bisa menyampaikan pesan yang jelas, sesederhana apapun tulisan itu.

Dini Auliya mengatakan bahwa tulisan itu harus memiliki ruh sehingga dapat memberikan efek hidup, suara, dan kekuatan pesan. Ruh ini pun juga harus disokong oleh filosofi yang kuat. Filosofi ini tidak selalu ditunjukkan dengan padatnya nukilan atau berhamburannya kutipan dari tokoh atau buku, tetapi lebih didasarkan kepada prinsip-prinsip argumentasi yang mendasari segala sikap, sudut pandang, penilaian, keterlibatan emosi, dari setiap sekuen cerita, pokok pikiran, atau adegan-adegan dalam tulisan.

Jadi, sudahkah tulisan kita memiliki tujuan? Sudahkah tulisan kita mengandung pesan yang jelas dan dapat berkomunikasi dengan pembaca? Yuk, lebih baik menulis lebih baik.[]

Advertisements

38 thoughts on “Menulis Lebih Baik [Menulis]

  1. menulis lebih baik..>itu idmanku ban9..

    masih belajar dan berproses..

    dan berusaha menulis dari hati biar ada ruh dan kekuatan yan9 tersampaikan.. ^^”

    ajarin yah ban9 hehhe

  2. >> PenLab : Daripada ngaku2 lebih baik menyebutkan sumbernya dan ini ada aturannya ^_^ Insya Allah kalau diniatkan kita bisa seperti itu. Bismillah….
    >> wi3nd : Insya Allah bisa. Yang penting terus belajar dan berproses. Yuk, sama2 belajar.

  3. wah bang, knp ya kl tika mau nulis, kadang nih tujuan nya udah d tentuin, tp malh melenceng di tengah jln dr tujuan sblmnya, kurng konsisten ya saya. atau malah kdng kesulitan menutup sebuah tulisan, gmana sih bang cara menutup sbuah tulisan? skng tika msh dlm tahap lbh baik menulis, smkin sring moga2 jd menulis lbh baik 🙂 ..

  4. >> Tikaajah : Sering saja menulis karena itulah pembelajaran yang sebenarnya. Semakin sering menulis, keahlian kita pun akan semakin bertambah. Dan memang, kita harus belajar konsisten. Ini harus! Agar tujuan Tika menulis tidak lagi melenceng. Dicoba, deh….

  5. kalau saya, menulis itu harus paham. Dengan artian, menulis itu sang penulis paham apa yang akan ditulisnya, mampu menjelaskan setidaknya minimal dari apa yang di tulisnya. Terkadang seorang mengaku telah menulis tapi tak mampu menjelaskannya, bisa di taksir dirinya telah mengopy paste karya orang lain. walaupun itu tidak mutlak adanya.

  6. menulis itu lebih baik karena sambil kita belajar & belajar tuk mengasah kemampuan otak kita yang ada. berlatih & berlatih terus seperti apa yang ada dalam benak pikiran kita akan selalu tercurahkan pada tulisan tersebut.
    waah asyik nih datang bersilaturahim kemari dapat pembimbing yang pasti bakal membantu saya niih… (maklum masih baru)

    trims atas ilmunya, smg sukses selalu n tetap semangat

  7. >> antown : Yup!
    >> hanif : Setuju, karena memang menulis pada akhirnya adalah belajar mandiri tanpa bahwa dirinya sedang belajar tentang sesuatu.
    >> harto : Terima kasih banged atas masukannya. Terima kasih pula telah bersilaturahmi ke sini. Mari kita sama-sama membagi ilmu….

  8. Assalamu’alaikum, menulis sebagai sarana untuk berdakwah, berbagi ilmu pengetahuan, menyampaikan inspirasi, saya pun sangat senang menulis. (Dewi Yana)

  9. Assalamu’alaikum, menulis bisa sebagai sarana berdakwah, berbagi ilmu pengetahuan, menyampaikan inspirasi dan dapat juga dijadikan sebagai profesi. Sayapun sangat senang menulis. (Dewi Yana)

  10. saya juga kadang² bingung mo nulis apa? tp setelah bisa menulis sepertinya kuq ga berguna banget.. duhh jadi putus asa..
    kunjungan perdana sepertinya…salam kenal..

    salam ^_^

  11. >> Didien : Terima kasih atas kunjungan perdananya, salam kenal kembali. Setiap tulisan itu berguna, yakinlah dengan itu!
    >> Caride : Ya, saya setuju banged!
    >> d-Gadget : Lebih baik sekenanya, nanti juga akan kelihatan betapa besar manfaatnya kendati hanya sekenanya … ^_^

  12. >> Dewi Yana : Wa’alaikumsalam. Setuju banged dan suka dengan tanggapannya.
    >> wigati : Sama-sama, semoga bermanfaat.
    >> beranda jiwa : Teruslah mencoba, suatu saat pasti akan berhasil.

  13. Dan Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang cerpen-cerpennya saya kagumi pernah berkata dalam buku “Ketika Jurnalisme dibungkam Sastra Harus Bicara” bahwa “Menulis itu sesederhana memandang keluar jendela”. Entah apa maksudnya :-p

    Juga yang ini “Jika seseorang bercita-cita menjadi penulis, tapi lingkup sosialnya menghalangi, misalnya mengatakan bahwa tulisannya jelek atau dia tidak punya bakat menjadi seorang penulis, maka janganlah putus asa! Bakat, dalam hal ini, bukan yang paling penting, karena yang terpenting adalah,”Menulislah terus, kalau perlu, sampai mampus!”

    HIDUP SUKAB ^_^

  14. “menulislah. .. untuk membahagiakan diri sendiri dan membuat orang lain terhibur” (Markum)

    membahagiakan diri sendiri bisa bkn awet muda, membuat orang lain (pembaca) terhibur bisa dapat pahala — kalau pahala banyak, kata ustadz Sobrak, bisa masuk syurga (tujuan utama semua umat beragama)

    Yeaaah…. Hidup Sukab!! 🙂

  15. >> Eel : Dibiasakan dulu, kalau sudah biasa biasanya tidak masalah dengan waktu. Malah cenderung kebablasan ^_^
    >> Indah : Oke, sama2 mendoakan….

  16. saya senang menulis, tapi rasanya koq kemampuan saya gak berkembang ya..? hehehe
    sekarang masalahnya ada pada konsistensi. kadang gak konsisten, blog aja updatenya jarang2..padahal menurut saya menulis jauh lebih mengasyikkan daripada bergosip..:)

  17. >> Ipul : Iya, jadikan konsistensi sebagai no.1, setelah itu tanpa kita sadari, menulis telah menjadi suatu kebiasaan yang mengasyikkan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s