Siang di Toko Bangunan

“Nasinya dibungkus atau makan di sini?” tanya ibu penjaga warung. “Dibungkus aja, Bu,” jawab saya. Setelah serah terima nasi bungkus dengan uang, saya pun melangkah keluar. Dua puluh langkah kemudian, saya memasuki sebuah toko bangunan. “Ada gembok?” tanya saya pada penjaga toko setelah sampai di dalamnya. Saya pun langsung disuguhi bermacam-macam gembok. Saya meneliti satu persatu gembok tersebut.

Seorang bapak terlihat capek sekali. Peluh di wajahnya tampak begitu membanjir, mungkin dia baru saja menempuh perjalanan yang cukup jauh atau baru saja berputar-putar mencari sesuatu yang tak kunjung didapatnya. Saat dia masuk, saya pun mencoba tersenyum padanya dengan harapan rasa lelahnya bisa menguap, meski hanya sejentik saja. Namun, dia hanya menarik ujung bibirnya.

“Cari apa, Pak?” tanya penjaga toko kemudian. Dia memandang penjaga toko, lalu bertanya, “Gagang pintu yang model mediterania ada?” Penjaga toko tampak kebingungan, “Model apa, Pak?” Dia terlihat kesal, “Yang model….” Dia tidak jadi meneruskannya. “Yang model klasik maksudnya,” ujar saya menimpali, mencoba membantu.

Bapak itu melirik saya, tapi langsung diarahkan ke gembok-gembok yang ada di hadapan saya. Tidak peduli. Penjaga toko tahu maksud saya. Dia pun bergerak ke satu tempat, lalu mencari-cari. Akhirnya dia kembali dengan beberapa gagang pintu. “Yang seperti ini, Pak?” tunjuknya. Si bapak melihat-lihat, lalu menggeleng. “Ya udah, saya minta paku kecil aja setengah kilo,” ujarnya cepat. Penjaga toko mengangguk, lalu bergerak ke arah tempat paku-paku. Setelah mengambil beberapa paku tanpa harus ditimbang (mungkin dia sudah hafal), penjaga toko bertanya, “Pakunya dibungkus, Pak?”

“Nggak, saya makan di sini saja,” jawab si bapak dengan raut wajah tak berdosa. Si penjaga toko asli bengong.[]

NB: Mencoba mengikuti lomba di Liga Tertawa BlogCampSiana … ^_^

Advertisements

27 thoughts on “Siang di Toko Bangunan

  1. awalnya saya menduga ini pasti kisah nyata yang mengharukan dan inspiratif, sesuai dengan karakter bang aswi yang “jarang” guyon dalam setiap tulisannya. Nyatanya…ketika ending, konta saya teriak” OOOOOO…DARI TELKOMSEL!”. Semoga menanglah!

  2. Hehehe..bagus nih ceritanya..awalnya kirain serius mau crita penjaga toko bangunan, ternyata pembelinya yang gokil..hehehe..nice story Wi hehe

  3. >> ade truna : Tinggal ditaburi gula pasir biar manis huehehehehe….
    >> abina hasya : Betulkah? Wow, ternyata saya seorang yang seperti air: tenang dan bikin haus ^_^
    >> Lany : Begitulah … qiqiqiqiqi

  4. pertama kali meninggalkan jejak, setelah bolak balik berkunjung tak berjejak…hehehe
    pembelinya ‘menggigit’.
    layak masuk nominasi! semoga menang bang ^_^

  5. >> BlogCamp : Sama2, Pakdhe. Terima kasih sudah dianggap layak jadi peserta.
    >> langit11 : Terima kasih atas jejak yang ditinggalkan ini. Akhirnya setelah keluar kisah ini langsung meninggalkan jejak … ^_^

  6. >> mala : Ya, gak apa2. Emang ini mah ditujukan pada yang belum baca ^_^
    >> Rita : wkwkwkwkwkwkw….
    >> Arleen : Begitu ya … ^_^

  7. he he he.. jadi dah kaya debus ajah klu makan paku 😀

    la9ian sipenjualnya ada ada ajah ..

    mo9a menan9 yah ban9 🙂

  8. >> wi3nd : Amiiiiiiin, mencoba meramaikan sekaligus dah lama nggak posting yang bikin segar, secara banyak sekali ide yang harus dituliskan.

  9. Hhahaaa…. tadinya saya kirain si bapak memang salah cakap karena tadi dr warung makan, ternyata ikutan kontes yaa.. 😀

  10. wah2 di bandung yang cukup sejuk aja udah kayak gitu..coba kalo ke kamboja sekarang udah 38 derajat, mungkin senyum sudah merupakan barang langka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s