Terpeleset Lidah

Entahlah. Tak pernah ada niatan. Benar-benar tak pernah ada niatan pada diri Zulfi untuk menyakiti hati istrinya, Fika. Dua alasan itu sebenarnya hanyalah guyonan saja. Awalnya. Hanya ingin mengetes apakah Fika bisa diajak bercanda. Akan tetapi sungguh. Sungguh semuanya menjadi tak terkontrol. Semuanya jadi di luar dugaan.

Zulfi tak keberatan jika dimintai tolong untuk membungkuskan kado. Zulfi pun bahkan senang mengantarkan anaknya sekolah. Ayah siapa yang tidak senang mengantarkan putra tercintanya ke pintu gerbang sekolah terakhirnya. Bahkan, ia pun rela terlambat ke kantor demi anaknya itu. Sungguh semua itu akan ia lakukan dengan ikhlas, tanpa paksaan atau permintaan siapa pun. Termasuk permintaan Fika.

Akan tetapi pagi itu tampak pecah. Sampai berdarah-darah. Hanya karena niat Zulfi untuk berkelakar tidak sampai pada tempatnya. Kata-kata Zulfi tampaknya telah menyakiti hati Fika. Dan Zulfi … hampir saja merajuk tidak mau masuk kerja hanya melihat merah kecut wajah Fika. Sungguh tak enak hati jika harus bekerja sementara masalah itu belum selesai. Benar-benar belum klop!

Terlambat sudah. Terlambat sudah keinginan Zulfi ingin membungkuskan kado Fika. Terlambat sudah keinginan Zulfi untuk mengantarkan anaknya bersekolah. Semua sudah berdarah-darah. Semua sudah bercampur dengan emosi yang tak terbendung lagi. Hingga putra keduanya pun menjadi yang bersalah saat melakukan hal yang sepele saja. Sungguh. Sungguh luar biasa. Sungguh luar biasa kekuatan lidah yang hanya tersembunyi di dalam rongga mulut. Astaghfirullah….

“Maafkan Zulfi, Fika….”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s