Wanita Malam

Ijah mendekapkan kedua tangannya lebih erat lagi ke dadanya. Dingin makin menusuk, apalagi jaket yang dikenakannya bukanlah jaket pelindung cuaca. Ia hanyalah salah satu produk fashion pelengkap agar lebih menarik dipandang. Setiap ada lelaki yang lewat, jantungnya berdegup kencang. Mata lelaki yang memandang begitu menusuk pada dirinya, tapi cepat ditepiskan Ijah dengan pikiran-pikiran polosnya. “Saya di sini, kan, disuruh Nyonya.”

Satu jam berlalu sejak Ijah diturunkan sang nyonya di tempat itu. Tak ada angin dan tak ada hujan. Sekonyong-konyong perintah itu turun begitu lancar dari mulut sang nyonya. “Jah, pokoknya saya nggak mau tahu. Kamu harus sudah berada di sekolah dari jam satu malam ini juga. Ini demi masa depan Ariel. Ngerti kamu!” Dan di sinilah Ijah kemudian. Di sekolah dasar yang katanya favorit. Sepi macam kuburan hanya untuk menjaga antrian pendaftaran, istilah sang nyonya yang terus berkumandang di telinganya.

Setelah tiga jam berlalu, Ijah beruntung. Dia tidak sendiri lagi. Ada tujuh orang yang menemaninya, dan semuanya berprofesi sama dengan dirinya. Semuanya sama-sama terkena getahnya demi anak sang majikan yang harus masuk ke sekolah favorit. Azan Subuh pun berkumandang, dan Ijah pun gelisah. Ia biasa shalat tepat waktu. Tapi kini …, tak mungkin ia meninggalkan antrian. Terbayang wajah sang nyonya dengan mata membelalak marah.

Detik demi detik berlalu, lalu menjadi menit dan kemudian menjelma jam. Satu, dua, lima, tiga belas, danpuluhan orang pun semakin memanjangkan antriannya. Tubuh Ijah lelah, sementara hatinya terus berontak, “Saya belum shalat Subuh, ya, Allah.” Pukul lima pagi telinganya mencatat bahwa antrian telah mencapai 81 orang. Pukul tujuh telinganya kembali mencatat bahwa antrian semakin bertambah hingga ratusan orang. Ijah mengeluh karena sang nyonya belum juga datang. “Ya Allah, ampuni hamba kalau Subuh ini harus berbarengan dengan Dhuha,” bisik hatinya lirih.

Pukul setengah delapan, barulah Ijah merasa lega. Sang nyonya dengan santainya menggandeng Ariel. Anak itu begitu polos dan mungkin tak mengerti dengan adanya kerumunan orang-orang di situ. Ijah tersenyum senang menatap Ariel yang langsung berteriak, “Mbak! Mbak kok ada di sini?!” tapi segera ditarik oleh sang nyonya. Dengan pandangan isyarat, sang nyonya meminta Ijah berganti tempat. Sudah saatnya sang nyonya yang berusaha bagaimana caranya agar Ariel bisa masuk ke SD favorit pilihan. Pilihan sang nyonya tentunya.

Ijah pun meninggalkan tempat itu. Antrian sudah semakin panjang. Dari pembicaraan para ibu yang ada di dekatnya, antrian sudah mencapai tiga ratus lebih. Ia tak begitu peduli apakah mereka bisa mendaftarkan anak-anaknya pada hari itu atau kemudian mengantri lagi keesokan harinya. Ijah hanya membutuhkan waktu istirahat setelah badannya begitu penat. Tapi apakah bisa? Sedangkan di rumah, pekerjaan lainnya sudah pasti menunggu. Belum lagi shalat Subuh yang luar biasa telatnya.[]

Advertisements

10 thoughts on “Wanita Malam

  1. jiaaaaahhhh…

    bang untungnya cuma fiksi,ech ini fiksikan 🙄

    tak terbayang ajah jika beneran tejadi,ngantri dari jam 1 pagi

    emang sekoLah apaan seeh?

    sebegitu paporitnya… 😀

    *akubaikbanghanyasajasibukpisanjdlataksempatbw :(*

    >> dipentung! gaya bener siwiendnya 😀

  2. >> wi3nd : Yah, memang fiksi. Tapi jika memang hal ini benar terjadi, parah banget, kan? Terserah wi3nd, deh, mau wanita malam maupun wanita dini hari, kan yang ngalamin sendiri mungkin situ … wkwkwkwkwkwk ^_^

  3. >> antown : Terinspirasi dari cerita2 di sekitar, Ton. Untuk beberapa hal, ini memang kisah nyata. Unik, kan, negara kita? ^_^
    >> Dewi: Terima kasih, Teh Dewi. Buku terbarunya pun juga bagus….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s