Bersepeda Menuju Kesalehan Diri

Bersepeda itu tidak hanya sebagai sarana olahraga atau sebagai alat transportasi saja. Akan tetapi, sepeda pun bisa dijadikan ajang menuju kesalehan diri. Lihat saja bagaimana salah seorang pesepeda ontel pernah berujar, “Saya suka naik sepeda karena dengan sepeda saya bisa lebih sehat dan membumi bergaul dengan orang-orang bersahaja. Saya pun bisa tersenyum kepada mereka. Bukankah senyum itu sedekah, pahala sekaligus ibadah?”

Dari sisi kesehatan, sudah tidak diragukan lagi bahwa bersepeda itu menyegarkan dan menyenangkan. Sejumlah peneliti di Amerika Serikat dari Universitas Tennessee menganalisis data dari seluruh 50 negara bagian Amerika Serikat dan 47 dari 50 kota terbesar di sana sekaligus membandingkan dengan data internasional dari 14 negara. Mereka menemukan bahwa penduduk yang tinggal di kota dengan trotoar dan jalur sepeda cenderung bertubuh lebih ramping. Terutama, bila dibandingkan dengan penduduk kota yang harus bergantung kepada sarana transportasi. Negara bagian dengan penduduk yang suka berjalan kaki dan bersepeda memiliki persentase lebih tinggi dalam memenuhi tingkat aktivitas fisik yang disarankan. Sedangkan persentase orang dewasa yang terkena obesitas dan diabetes pada kota semacam ini lebih kecil.

Selain kesehatan, sepeda juga mengajarkan kita tentang makna kehidupan. Dengarkan saja apa kata seorang pesepeda gunung yang rajin ke masjid, “Hidup itu bagaikan naik sepeda, kita harus pandai-pandai menjaga keseimbangan untuk maju terus. Kadang ada di atas, kadang di bawah persis putaran pedal sepeda, serupa dengan siklus kehidupan.” Lanjutnya lagi, “keseimbangannya adalah antara rohani dan duniawi. Untuk mendapatkan sedikit bagian dunia, kita rela menghabiskan seluruh waktu kita. Mengapa kita keberatan menggunakan beberapa jam sehari buat hidup kekal abadi di surga?”

Dan pembelajaran sepeda semakin paripurna kalau mendengar penuturan seorang pesepeda lainnya yang sangat dihormati karena sifat rendah hatinya meski memiliki kekayaan tak ternilai. Beliau meminta anak-anaknya untuk bersepeda menuju sekolahnya. Alasannya, “Biar menggelinding belajar lebih merakyat, sabar, dan rendah hati.” Katanya lagi, “Punya sepeda itu, kan, fungsinya sebagai alat transportasi dan juga sebagai penunjang kesehatan. Ya, buat apa, sih, sepeda pake gaya model-model segala, yang menarik perhatian orang, tapi nggak pernah dipake?”

Sebagai penutup, tak ada salahnya kita merenung dan beristighfar. Sudah sewajarnya jika manusia itu berpakaian malu. Di mana pun kita berada. Bahkan, malulah pada Allah Swt. yang telah begitu Maha Baikhati memberikan kita segalanya tanpa pernah kita memintanya. “Minta atau tidak, kondisi kita sudah dengan sendirinya memalukan. Kita ini cuma sekeping jiwa telanjang, dari hari ke hari meminta berkah-Nya, tanpa pernah memberi. Allah memang Maha Pemberi, termasuk memberi kita rasa malu. Kalau rezeki-Nya kita makan, mengapa rasa malu-Nya tak kita gunakan? Perhatikan, banyak yang minta kepada Allah kekayaan, tambahan rezeki, naik gaji, naik pangkat, atau buang jauh-jauh kemiskinan. Mereka pikir Allah itu kepala bagian kepegawaian di kantor kita. Allah kita puji-puji karena akan kita mintai sesuatu. Ini bukan ibadah, tapi dagang. Mungkin bahkan pemerasan yang tak tahu malu. Allah kita sembah, lalu kita perah rezeki dan berkah-Nya, bukannya kita sembah karena memang kecintaan kita kepada Allah, seperti tekad Al Adawiah itu.”[]

Sumber: Kang Sejo Melihat Tuhan, Mohammad Sobary dan beberapa data aktual lainnya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s