Perjalanan Sang Nasi

Semburat merah belum muncul, tapi sosok itu sudah berjalan. Menembus gelap bertaburkan gemintang. Mengedip satu-satu. Azan telah berlalu dan sang petani pun tidak hanya mendirikan hukum wajibnya, tapi sunah rawatibnya yang terbilang utama. Singkong yang mengepul telah cukup mengisi perutnya. Begitu pula dengan kopi hitam kesukaannya. Sosok itu telah pergi di saat anak-anaknya masih bergelung sarung. Saat orang-orang kota masih bergumul dengan selimut. Saat orang-orang pasar telah siap menanti para pembeli. Pergi membajak tanah yang hanya satu petak, milik juragan haji.

Entah semburat merah yang ke berapa. Sosok itu telah berdiri membasahi kaki. Dengan lumpur segar, yang telah dibajaknya beberapa hari yang lalu. Tunas-tunas muda ditancapkannya dengan perhitungan. Simetris dan dalam. Mundur teratur dengan irama yang syahdu. Lagu alam yang (hanya) dinikmati di daerah pedesaan. Hingga cericit burung membahana. Angin pagi membelai. Sang kekasih pun menuangkan air putih, tak jauh dari tempatnya menunduk-nunduk. Satu petak sawah, tapi butuh ketekunan agar satu tunas muda tidak sia-sia.

Debit air perlu diukur. Alirannya perlu dijaga. Musim pun harus diperhitungkan. Semuanya sudah digariskan oleh Sang Maha. Prosesnya ada, kerja kerasnya harus, kesabarannya pun ditempa, waktunya sudah pasti. Tidak instan dan tak sekonyong-konyong. Perhitungan jelas, tak boleh mengandalkan coba-coba atau berjudi yang sangat tidak dianjurkan.

Ratusan semburat merah. Dan jutaan bulir-bulir padi pun mengemas. Bercengkerama dengan emas alami dari sang surya. Burung-burung berdansa. Musik angin pun mengalun sepoi. Kabar pun bersosialisasi. “Besok panen raya!” Sosok-sosok manusia berkumpul. Penjagaan diperketat. Ini hari besar. Tidak boleh ada yang sia-sia. Hama-hama harus dibasmi. Jika siang begitu terik, tak apa panen dilakukan malam hari.

Berduyun-duyun. Sosok itu begitu sumringah. Sawah hanya sepetak bukan miliknya. Tapi panen raya milik seluruh warga. Semua bergotong-royong. Masing-masing menikmati. Rezeki pun menyebar. Merata. Tidak hanya di satu tempat. Kulit-kulit tidak dibuang. Tambahan rezeki bagi yang memiliki alatnya. Bebek-bebek pun menari girang. Ratusan ekor berdansa di sana. Di sawah yang hanya sepetak. Baru saja dipanen.

Putihnya beras membawa keberkahan. Para pedagang meraup untung. Jutaan mulut dijejali penuh lahap. Perut-perut pun kenyang tak lagi melilit. Sebuah pembelajaran yang tak boleh disiakan. Berkahnya terpampang jelas pada ayat-ayat Sang Maha. Zakatnya pun telah tertulis nyata. Tidak main-main dan langsung pada poinnya. Tak etis kalau sucinya nasi dibuang begitu saja dengan alasan kenyang. Jika takada petani, orang kota mau makan apa. Tapi mengapa semunya perkotaan menjadi daya tarik? Dan sawah-sawah pun menyepi. Mengering lalu mati. Tergantikan oleh perumahan orang-orang kota yang (seolah) terus berkembang biak.

Sosok itu telah belajar. Berguru pada sesuatu yang mendasar. Pada filosofi yang bertahan telah begitu lama. Filosofi “Makin berisi makin merunduk”. Kebutuhan pokok yang menghidupi jutaan sosok manusia. Yang telah menarik otot-otot sudut bibir hingga tersenyum. Membuat mata memandang optimis akan hidup yang (jauh) lebih baik lagi. Agar banyak sosok yang makin merunduk. Menundukkan hati. Bermuhasabah. Membaca kekhilafan diri. Menghitung kesalahan sendiri. Melupakan kebaikan diri. Belajar berproses. Dari keras menjadi lunak. Layaknya beras menjadi nasi. Subhanallah….[]

NB: Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp

Advertisements

Perhatikan Sekitarmu

Sang gadis cilik mengiba. Embun telah terbit di mata beningnya. Ia tak menjerit, tapi tangisannya begitu nyaring. Sang ibu dengan wajah batu masih asyik dengan bermacam emas di depannya. Sosok itu lalu mengalihkan pandangannya dari toko emas, berlanjut pada baso cuanki. Sang pedagang yang selalu on time pukul 07.30. Belum pedagang kupat tahu yang di depan Toko ABC yang menjadi langganannya.

Waktu adalah sekelebatan cahaya. Kecepatan tinggi yang lurus ke depan, bukan ke belakang. Manusia tak bisa memundurkannya kendati hanya sedetik. Begitu maju dan akan tertinggal bagi yang tidak siap. Kecuali penyesalan tak berujung. Hidup ini begitu rapuh. Sangat disayangkan jika hidup kita di jalan disia-siakan begitu saja. Banyak pelajaran hidup yang terpampang di sana. Apakah lukisan hidup itu hanya sekelebatan cahaya saja?

Sosok itu tak pernah tahu ada pedagang baso cuanki di sudut itu jika sedang mengendarai motor kuningnya. Apalagi tangisan sang gadis cilik di depan toko emas. Lukisan hidup di sekitarnya bak sekelebatan cahaya dari atas motor. Konsentrasi hanya terpusat pada jalan di depannya. Akan tetapi semua itu berubah. Lukisan hidup begitu kentara pada akhirnya. Dan itu hanya bisa disaksikan dari bangku VIP. Bangku bernama sadel sepeda yang tiap hari dinaiki.

Awalnya adalah kesehatan. Sosok itu mencoba beralasan mengapa dia bersepeda. Kalau mengurangi pemanasan global, terlalu jauh. Belum lagi desas-desus HOAX tentang global warming. Baginya cukuplah bahwa dengan bersepeda, kesehatannya jauh lebih baik. Jika orang lain tak peduli, cukuplah dia sendiri menikmati keringatnya dan menebarkan bau sehat. Syukur-syukur kalau satu-dua-tiga-empat orang mau bersepeda juga. Reaksi berantai yang bisa menyegarkan pandangan mata. Tentu saja telinga dengan suara kring-kring-kring.

Lukisan hidup itu begitu nyata. Itulah yang dirasakan sosok itu saat bersepeda. Semuanya begitu jelas. Sosok-sosok manusia dengan beragam kisah. Benda-benda yang terabaikan. Lekukan-lekukan jalan yang begitu menginspirasi. Senyuman sang burung. Bahkan tetesan hujan yang berbaris rapi. Semua itu begitu jelas di matanya. Begitu hidup dari atas sepedanya.

Sangat berbeda jika sosok itu berada di atas motor kuningnya. Lukisan hidupnya begitu blur. Tak jelas dan bahkan tak kelihatan. Menjadi gambar-gambar mati. Lalu tak peduli. Hingga menggeleng saat ada berita, “Gelandangan itu baru saja mati kemarin karena terserempet mobil.” Dan dia hanya berucap, “Emang ada gelandangan di situ?”[]

Makna Keutamaan

Sosok itu mengangguk. Pemahaman tentang keutamaan Muhammad dibanding nabi dan rasul lainnya begitu gamblang dijabarkan. Sang sahabat telah bercerita. Salah satunya adalah Al-Fatihah sebagai keutamaan yang diberikan Sang Maha kepadanya. Tak ada karya atau usaha yang bermanfaat selain menyebut nama Sang Maha. Bismillah….

Memahami makna keutamaan ternyata begitu penting. Berhubungan erat dengan masalah tanggung jawab. Keutamaan Muhammad tak lain adalah sosok sentralnya bagi umat manusia. Bukan hanya muslim. Syafaatnya paling dinanti di alam akhirat nanti. Baik ketika dalam kebingungan saat dibangkitkan, maupun saat menyeberang shiratalmustaqim.

Sang sahabat yang bercerita tadi memiliki keutamaan ilmu agama. Tanggung jawabnya adalah menyebarkannya. Seorang direktur memiliki keutamaan ilmu manajemen dan kekuasaan. Tanggung jawabnya adalah memenej semua anak buahnya. Mempertanggungjawabkan kekuasaan sesuai dengan garisnya. Dan sosok itu memiliki keutamaan berupa sepeda. Tanggung jawabnya adalah menggowesnya.

Manusia tempatnya lupa. Perlu pengulangan pengingatan. Kendaraan bermotor sudah diberikan keutamaan berupa jalan raya. Pejalan kaki atau pedestrian sudah diberikan keutamaan berupa trotoar. Pesepeda sudah diberikan keutamaan berupa blue bike lane. Masing-masing sudah ada koridornya. Tempat parkir atau tempat dagang pun sudah ada wahananya.

Sosok itu harus bertanggung jawab. Kendati warisan, sepeda miliknya harus dipertanggungjawabkan. Sosok itu telah diberikan keutamaan memiliki sepeda dibanding orang lain. Tanggung jawabnya adalah menggowesnya. Masyarakat kota Bandung telah diberikan keutamaan berupa jalur sepeda (blue bike lane) dibanding kota-kota lainnya. Tanggung jawabnya sudah pasti menggunakannya dengan bersepeda. Bukan memubazirkannya.[]

Membaca Qurban

Sosok itu sedikit jengah. Awalnya. Darah kental. Bau khas yang menyeruak. Lenguhan tertahan. Hingga gerakan-gerakan kejut, yang makin lama menghilang. Prosesi yang luar biasa. Satu ekor terlewati. Masih ada empat ekor sejenis menanti. Belum dua ekor besar di ujung sana. Allahu Akbar wa lillaahilhamdu.

Semua berawal dari mimpi Ibrahim. Dan ini sudah digariskan oleh Sang Maha. Atas nama keimanan, Ibrahim pun melaksanakan ibadah qurban. Ini bukan yang pertama. Masih ada Habil dan Qabil yang kemudian berakhir pembunuhan. Pembunuhan pertama. Ismail pun dengan penuh keimanan mempersiapkan diri. Ujian telah usai. Ibrahim dan Ismail telah lulus ujian, dan kibas adalah nikmat terindahnya.

Apabila dinalarkan, sejarah ibadah qurban memang tak terjangkau. Semua ini adalah masalah keimanan. Itu kuncinya. Mengapa harus kambing, domba, sapi, atau unta? Sekali lagi adalah masalah keimanan. Begitu pula jika ada yang menanyakan, mengapa tidak diganti dengan uang yang bernilai sama untuk mengentaskan kemiskinan atau memajukan pendidikan? Tak ada jawaban lain. Ini adalah masalah keimanan. Semua itu sudah ada kantong-kantongnya.

Sosok itu begitu merasakan kebersamaan. Menjadi bagian dari kepanitiaan Idul Adha adalah kebahagiaan tersendiri. Inilah konsep QSR atau Qurban Social Responsibility. Sudah ada bagian tersendiri. Tukang jagalnya ada. Yang memegangi sang domba atau sang sapi pun ada. Yang mengulitinya juga ada. Apalagi yang menyacah, termasuk yang membagikan. Butuh keteraturan dan manajemen yang baik. Sosok itu hanya punya satu prinsip: Meski tak bisa berqurban, ia masih bisa beramal dengan tenaganya.

Sosok itu menjadi teringat. Sebuah petuah tertinggi yang dibuat manusia berujar. Manfaat haruslah berjangka panjang. Jika daging qurban bisa awet lebih lama tentu subhanallah. Daerah terpencil bisa terjangkau. Berkahnya berlangsung sepanjang tahun. Tidak hanya sekadar tiga hari. Untunglah otak manusia masih begitu cerdas. Qurban kalengan pun tercipta. Yang tertimpa musibah nun di sana bisa tercapai. Semua bisa menikmati ibadah yang hanya setahun sekali. Subhanallah.[]

Ya, Saya Perokok

Bisa jadi semua orang yang mengenal sosok itu akan terkejut. Bagaimana mungkin sosok yang tidak pernah terlihat mengebulkan asap dari mulutnya itu bisa mengaku sebagai perokok? Kecuali mungkin, sosok itu sedang menyeduh teh atau jahe panas kesukaannya. Kepulan asap segar. Bukan kepulan asap rokok.

Sosok itu memang perokok, bahkan berat. Tetapi bukan rokok tembakau yang dijual apa adanya di jalan-jalan. Bukan rokok yang harus meminjam api pada seseorang (sungguh aneh melihat perilaku perokok jenis ini yang tak mampu membeli korek api tetapi mampu beli rokok). Sosok itu bahkan merokok setiap hari. Ya, sosok itu adalah perokok polusi.

Bumi ini telah membuatnya menjadi perokok aktif. Tapi jangan salahkan bumi. Tunjuk saja karena orang itu, perusahaan itu, kendaraan itu, pembakaran itu, dan itu-itu-itu. Polusi udara sudah tersebar dan sumbernya pun menjadi entah. Jadi sulit lagi harus menyalahkan siapa. Semuanya sudah menjadi sistem. Sulit. Sehingga sosok itu pun hanya berbuat sederhana saja. Apa adanya. Ya, sosok itu mulai bersepeda. Setiap hari.

Polusi pun (ternyata) makin menghebat. Bukan hanya pada dimensi air, udara, atau tanah: polusi pun sangat berperan pada dimensi sosial. Polusi Dromosfera. Dromos adalah berpacu atau berlari kencang. Ruang dan waktu telah dicemari oleh polusi kecepatan, yang menyebabkan rusaknya lingkungan dan ruang nyata, yang sebelumnya sangat penting sebagai tempat perenungan, refleksi, sosialisasi, komunikasi, dan interaksi sosial. Kerusakan inilah yang patut kita khawatirkan selain masalah lingkungan bumi. Korbannya bukan hanya kita, tapi (juga) generasi mendatang yang notabene adalah anak dan cucu kita.

Sekali lagi ini adalah masalah yang rumit. Bukan lagi pada sosok-sosok individual tetapi lebih kepada sistem. Sistem yang entah. Tak bisa menyalahkan teknologi yang begitu cepat, tapi kita yang harus merenung. Berkontemplasi. Duduk dengan tenang. Mendekatkan diri pada Zat Sang Maha. Tujuan awal dan akhir kehidupan kita. Dan rumusnya pun (kembali) menjadi sederhana: Mulailah dari diri sendiri. Lingkungan terdekat kita. Keluarga.[]

Peluh Kejenuhan

Wajah cantik gadis pelayan konsumen di depannya begitu sumringah. Begitu gamblangnya sang gadis menceritakan tentang produk perbankan tempatnya bekerja. Setelah ada jeda, sosok itu pun memulai pembicaraan yang lain dari biasanya. “Sudah berapa lama bekerja di sini, Mbak?”

Meski agak terkejut dengan pertanyaan yang mendadak dan di luar jalur, sang gadis tetap tersenyum. “Sudah 2,5 tahun. Di cabang ini baru 6 bulan, sebelumnya di cabang Soekarno-Hatta.” Sosok itu berlanjut, “Betah nggak kerja di sini?” Senyum sang gadis agak mendatar, “Semuanya harus dinikmati. Setiap pekerjaan pasti akan mengalami kejenuhan. Ya … dicoba untuk dinikmati saja.”

Jenuh. Kata yang selalu mengikuti peluh. Apalagi jika peluh telah berakhir. Dan tak sedikit sosok-sosok yang mengaduh. Beberapa kemudian mengeluh. Tak apa. Jika itu hanya bagian dari jeda, untuk meraih semangat yang jauh lebih baik lagi.

Bukan hanya dalam lingkungan kerja, kejenuhan juga bisa hinggap pada lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan komunitas, lingkungan diskusi, atau lingkungan hobi. Di sinilah pentingnya me-refresh sesuatu yang lama agar tampak baru. Di sinilah keindahan manajemen istirahat yang sebenarnya. Di lingkungan kerja ada hak cuti. Di lingkungan sekolah ada hak libur. Di lingkungan sepeda ada hak berhenti. Di setiap lingkungan pasti ada jalan keluarnya.

Sosok itu merasa bersyukur. Ia dianugerahi banyak modal. Pada saat ia jenuh menulis, sosok itu bisa mendesain. Begitu pula sebaliknya. Jika dua-duanya jenuh, ia bisa bersepeda. Yang pasti, jangan sampai cara mengatasi kejenuhan itu membuat masalah baru. Itu saja.

Jika setelah berpeluh kita merasa jenuh, jangan mengaduh. Jika kita mengantuk, jangan merasa sungkan untuk tidur. Jika merasa tak kuat, jangan malu untuk berhenti sejenak. Masing-masing sosok sudah ada limitnya. Namun, limit itu pun masih bisa direkayasa sedari awal. Tergantung pribadi sosok masing-masing.

Duhai Sang Maha, ajarilah kami meraih hari ini agar lebih baik dari hari kemarin. Amin.[]

Obrolan Cinta

Tanpa disadari, sosok itu telah menjelma gentong. Tolong jangan ditertawakan. Ini hanya bahasanya saja agar kita semua bisa mempunyai visi dan misi yang sama.

Gentong adalah alat penampung tradisional yang ajaib. Kendati air yang dimasukkan tidak segar, entah mengapa setelah air tersebut tersimpan dengan baik maka hasilnya adalah air yang segar dan bening. Inilah yang membedakan antara gentong dan ember. Sama juga antara kendi dan ceret, meski fungsinya sama.

Bagi yang mencari tempat berkeluh-kesah atau sekadar ingin bercerita, sosok itulah gentongnya. Meski tidak sering mencarikan solusi, sosok itu telah siap menjadi pribadi telinga. Hanya mendengarkan. Ibarat gentong, setiap air curhat yang masuk diharapkan akan mengeluarkan air penyejuk jiwa.

Cinta adalah topik yang paling sering dimasukkan ke dalam gentong. Dari cinta ABG sampai cinta keluarga. Topik cinta memang universal. Tetapi cinta tidaklah harus sepasang manusia yang bermadu kasih. Makna cinta pun seharusnya universal. Dan obrolan cinta ini semakin memasyukkan, jika jalurnya sesuai.

Banyak pelajaran yang didapatkan oleh sosok itu. Yang paling dicatat oleh dirinya adalah: Betapa cinta itu butuh keikhlasan dan kesabaran. Cinta pun mengenal balas dendam meski kata ini begitu kejam. Jangan sia-siakan dan mempermainkan cinta. Hukumannya begitu berat di masa yang akan datang. Who knows?[]

Budaya Ya-Ya-Ya

Budaya di negeri liliput ini memang ajaib. Saking ajaibnya, semua yang berbau aneh akan dipandang normal. Namun sebaliknya, yang beraroma normal, akan dipandang gila. Ini serius!

Sosok itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Seorang anak TPA dengan seragam ngajinya-lah penyebabnya. Anak itu dengan suara kerasnya berkata, “Orang gila…! Orang gila…! Orang gila…!” Yang jelas ditujukan pada sosok itu, yang sedang mengayuh sepeda dengan atribut lengkapnya.

Sosok itu hanya tersenyum. Entah mau berkata apa pada sang ibu yang mendampingi dan tidak mendiamkan sang anak. Opsi ini pun hanya permainan kata, tak lebih. Bisa jadi sang anak memang sedang meneriakkan atributnya yang dianggap “ajaib” bagi matanya. Bagi mata normalnya yang terbiasa melihat para pesepeda tanpa atribut (baca: helm dan kacamata).

Inilah keajaiban negeri liliput. Memakai helm bagi pesepeda adalah wajib, jika mengingat akan keselamatan dirinya. Sama halnya dengan kendaraan roda dua yang bermotor sekalipun. Tanpa harus ada peraturan tertulis. Ini jika mengingat keselamatan jiwa pengendara dan orang yang dibonceng. Sama halnya dengan pengendara roda empat yang harus pakai sabuk pengaman.

Tapi sekali lagi, inilah keajaiban negeri liliput. Hampir dari kita, semuanya, menganggap sesuatu itu sudah di luar levelnya. Yang haram sudah dinilai halal. Yang halal malah dipertanyakan. Padahal Sang Maha sudah mewanti-wanti bahwa yang hak itu hak, yang batil itu batil. Budaya di negeri ini memang sudah ya-ya-ya.[]