Nikmat Luka

Sosok itu menyeringai. Ini adalah biang keteledorannya. Setelah menepi karena ada mobil yang lewat dan badan jalan yang begitu sempit, tanpa sadar roda depan Spidi masuk ke jalan tanah. Jalan tanah yang legok. Dan sosok itu pun tak dapat mengendalikan sepedanya. Ia terjatuh. Lututnya berdarah. Beberapa bagian kakinya linu. Namun perjalanan masih jauh.

Luka memang menyakitkan. Akan tetapi kalau diselami lebih dalam, luka itu ternyata kenikmatan. Anugerah yang hanya bisa didapatkan karena kasih sayang Sang Maha. Luka adalah ujian bagi seorang hamba untuk mencapai derajat yang lebih tinggi lagi. Naik kelas. Itu pun jika dihadapi dengan sabar dan tawakal.

Di perkebunan teh Gambung, sosok itu menyendiri. Ia tertinggal. Namun kesendiriannya memberikan makna bahwa di sinilah saatnya ia berhadapan dengan Sang Maha. Di tengah-tengah hutan gelap dan keindahan kebun teh, ia menjelma manusia kerdil. Suara hewan-hewan liar, gemerisik dedaunan, angin yang membelai, batu-batu kerikil, juga pelukan kabut dingin yang tampak seperti hujan gerimis. Subhanallah. Sementara rasa sakit karena otot yang tertarik semakin membetot.

Malam sesampai di rumah, tak ada kawan seperjalanan yang tahu kalau otot kakinya tertarik. Sosok itu tak perlu mengeluh soal kelemahan. Toh, ia bisa melewati “long trip” itu dengan baik. Tak perlu menjadi beban untuk perjalanan lebih dari 136 km itu. Sosok itu begitu menikmati setiap tanjakan dan turunan, bahkan “downhill” sesaat yang mampu menumpaskan rasa takut atau ragu yang menderanya. Semuanya itu tak lebih karena kekuatan kebersamaan yang ia rasakan.

Luka adalah nikmat. Dan itu adalah benar adanya. Tak mungkin mengetahui seseorang terluka kalau ia tak pernah luka. Luka membuat seseorang menjadi memahami orang lain. Dan … sosok itu begitu menikmati lukanya, meski kini jalannya sedikit tertatih. Tidak apa.[]

Advertisements

9 thoughts on “Nikmat Luka

  1. Hmm kalau memang capek dan letih sebenarnya tidak ada salahnya sharing dengan keluarga atau teman, kan capek itu manusiawi, bukan berarti pertanda lemah…. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s