Menyemai Rezeki

Telinganya masih berdenging. Terngiang akan sebuah petuah bijak seorang ulama: “Rezeki itu sudah tersebar di muka bumi, tinggal bagaimana kita menjemputnya.” Sosok itu pun mengiyakan. Apalagi jika ia mengingat omongan orang-orang terdahulu bahwa rezeki, jodoh, dan maut sudah ada catatannya.

Dalam satu Jum’at, sosok itu pernah mengencleng X rupiah. Jumlah yang cukup besar mengingat ia biasanya hanya mengencleng X/5 bahkan X/10 rupiah. Saat itu, ia benar-benar mencoba mengikhlaskannya. Hanya Sang Maha yang mengetahui isi hatinya.

Selang beberapa hari kemudian, di satu siang yang terik, sosok itu mendekati salah seorang rekan kerjanya. Rekan itu bertanya pada kawan yang lain tentang tempat makannya. Sosok itu pun mengajukan diri, “Mau nitip? Kebetulan saya mau beli di sana.” Tanpa butuh waktu lama, rekan kerjanya pun menitipkan sesuatu pada sosok itu.

Tak ada pengharapan apa-apa selain jurusannya sama. Setelah pesanan diantar, serah terima kembalian pun berlangsung. Tak dinyana, sosok itu mendapatkan jatah atas jasanya meski sebelumnya terjadi tarik-ulur diterima-tidaknya jasa itu. Dan jumlahnya pun persis sebesar X rupiah. Tidak kurang, tidak lebih.

Usaha adalah awal segalanya. Keikhlasan adalah pengikutnya. Selama keduanya berjalan beriringan, hikmah terbaik pun akan segera didapat. Tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Sang Maha selalu mengabulkan doa semua hamba-Nya. Akan tetapi, jawaban doa itu menjelma kenyataan pada saat yang memang diperlukan.

Sosok itu pernah memimpikan akan mengganti ponselnya yang telah jadul dan sering mati. Setahun setelah bekerja tak kenal lelah dan sering pulang larut, ia pun menyemai rezeki. Sang bos berinisiatif memberikan ‘bonus’ pada semua anak buahnya. Dan bonus itu tak lain adalah ponsel terbaru yang bentuk dan fungsinya pun tak pernah dimimpikannya.

Rezeki memang harus disemai. Untuk menyemainya, sosok itu sudah memulainya dengan menanami dan memeliharanya. Dengan usaha tentu saja. Sebuah kata lain dari ikhtiar yang jelas-jelas mengandung keringat. Ibarat kata: “Bagaimana ingin menang lomba jika menjadi peserta saja tidak?”[]

Advertisements

2 thoughts on “Menyemai Rezeki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s