Membaca Qurban

Sosok itu sedikit jengah. Awalnya. Darah kental. Bau khas yang menyeruak. Lenguhan tertahan. Hingga gerakan-gerakan kejut, yang makin lama menghilang. Prosesi yang luar biasa. Satu ekor terlewati. Masih ada empat ekor sejenis menanti. Belum dua ekor besar di ujung sana. Allahu Akbar wa lillaahilhamdu.

Semua berawal dari mimpi Ibrahim. Dan ini sudah digariskan oleh Sang Maha. Atas nama keimanan, Ibrahim pun melaksanakan ibadah qurban. Ini bukan yang pertama. Masih ada Habil dan Qabil yang kemudian berakhir pembunuhan. Pembunuhan pertama. Ismail pun dengan penuh keimanan mempersiapkan diri. Ujian telah usai. Ibrahim dan Ismail telah lulus ujian, dan kibas adalah nikmat terindahnya.

Apabila dinalarkan, sejarah ibadah qurban memang tak terjangkau. Semua ini adalah masalah keimanan. Itu kuncinya. Mengapa harus kambing, domba, sapi, atau unta? Sekali lagi adalah masalah keimanan. Begitu pula jika ada yang menanyakan, mengapa tidak diganti dengan uang yang bernilai sama untuk mengentaskan kemiskinan atau memajukan pendidikan? Tak ada jawaban lain. Ini adalah masalah keimanan. Semua itu sudah ada kantong-kantongnya.

Sosok itu begitu merasakan kebersamaan. Menjadi bagian dari kepanitiaan Idul Adha adalah kebahagiaan tersendiri. Inilah konsep QSR atau Qurban Social Responsibility. Sudah ada bagian tersendiri. Tukang jagalnya ada. Yang memegangi sang domba atau sang sapi pun ada. Yang mengulitinya juga ada. Apalagi yang menyacah, termasuk yang membagikan. Butuh keteraturan dan manajemen yang baik. Sosok itu hanya punya satu prinsip: Meski tak bisa berqurban, ia masih bisa beramal dengan tenaganya.

Sosok itu menjadi teringat. Sebuah petuah tertinggi yang dibuat manusia berujar. Manfaat haruslah berjangka panjang. Jika daging qurban bisa awet lebih lama tentu subhanallah. Daerah terpencil bisa terjangkau. Berkahnya berlangsung sepanjang tahun. Tidak hanya sekadar tiga hari. Untunglah otak manusia masih begitu cerdas. Qurban kalengan pun tercipta. Yang tertimpa musibah nun di sana bisa tercapai. Semua bisa menikmati ibadah yang hanya setahun sekali. Subhanallah.[]

Advertisements

One thought on “Membaca Qurban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s