Anak: Mutiara Kehidupan

Malam sudah mendekati larut. Sosok itu pun memasuki lorong yang sempit dan gelap. Hanya keheningan yang tercipta. Benar-benar kosong. Tak lama, pintu pagar pun berdecit karena usia yang memang membuatnya berkarat. Suara anak-anak kecil pun bergema. “Itu abi. Abi pulang.” Sosok itu pun tahu bahwa anak-anak belum tidur. Mereka sudah pasti menunggunya pulang.

Menjelang larut malam, sosok itu tersenyum lega. Si bungsu mendekapnya erat. Tangannya seolah tak mau lepas dari pelukan sang sosok. Beberapa kali ia menciuminya sementara mata peradabannya terpejam. Sang sulung pun sudah bergelung dengan gulingnya. Tangannya bergerak saat sosok itu tidak menge-‘mpok-mpok’ pantatnya. Ritual tiap menjelang tidur setelah membaca doa dan berharap dapat bermimpi indah serta dijauhkan dari mimpi buruk.

Ya, anak adalah mutiara. Mutiara kehidupan. Orangtua harusnya bersyukur saat dianugerahi anak. Kehidupannya tidak boleh disiakan. Apabila ada waktu lima menit, manfaatkanlah untuk bersentuhan dengan mereka. Apabila ada waktu satu menit, pergunakan untuk mengenal mereka. Bermainlah dengan anak-anak meski sempit sekali waktunya. Tersenyum dan berimajinasilah dengan mereka.

Sungguh beruntung sosok itu begitu dekat dengan anak-anaknya, Bibin dan Anin. Naif sekali jika ada orangtua yang menganggap bahwa anak-anak harus dekat dengan sang ibu saja. Itu (memang) keharusan. Akan tetapi sang bapak juga harus dekat dengan mereka. Keduanya harus dapat bekerjasama mengurus anak-anak. Berbagi kerja. Menata rumah tangga sebagaimana rekan kerja. Ego harus dibuang jauh-jauh. Yang ada hanyalah keikhlasan dan kasih sayang. Itu pun cukup.[]

We are guilty of many errors and faults, but our worst crime is abandoning our children, neglecting the fountain of life. Many of the things we need can wait. The child can not. Right now is the time his bones are being formed, his blood is being made and his senses are being developed. To him we can not answer “tomorrow”. His name is “today”. ~ Gabriela Mistral (Nobel Sastra 1945)

Banyak kekhilafan dan kesalahan yang kita perbuat, namun kejahatan kita yang paling nista adalah kejahatan mengabaikan anak-anak kita, melalaikan mata air hayat kita. Kita bisa tunda berbagai kebutuhan kita. (Tetapi) kebutuhan anak kita, tak bisa ditunda. Pada saat ini tulang belulangnya sedang dibentuk, darahnya dibuat, dan susunan syarafnya tengah disusun. Kepadanya kita tak bisa berkata “esok”. Namanya adalah “kini”. ~ Taufiq Ismail

Advertisements

19 thoughts on “Anak: Mutiara Kehidupan

  1. menurut literatur yg saya baca (skripsi saya tentang interaksi ayah-anak) “masyarakat lebih mengacu kata ‘pengasuhan’ kepada ibu, ayah merupakan orang tua yg dilupakan. padahal ayah berperan dalam semua aspek perkembangan anak, dari pencari nafkah sampai teman bermain anak” ^_^

  2. >> jasmine : Sebenarnya tidak ada pembagian dalam berumah tangga, tapi mengapa semuanya seolah-olah seperti itu. Budaya masyarakat masih banyak yang harus dibenahi.

  3. iya sih, bang. tp mungkin persepsi masyarakat masih terus mengedepankan sosok ibu sebagai primary caretaker untuk anak2nya. padahal seharusnya suami-istri sama2 mengambil bagian dalam pengasuhan. waallahu alam
    *eh? nyambung ga sih sm komennya bang aswi? maaf yah kalo salah, saya harus banyak belajar lagi yg pasti 😀

  4. anak adalah anugerah sekaligus amanah bagi kedua orang tuanya. jangan asingkan anak dari keluarga dengan mendekatkannya pada gelimang harta. Sayang, sebagian orang tua salah memandang, demi masa depan anak, mereka ‘tega’ mengabaikan kehidupan anak di masa sekarang. Mereka kejar harta tanpa sadar meninggalkan anak-anak tanpa kasih sayang yang sebenarnya lebih mereka butuhkan.

  5. >> redni : Mangga dipersilakan dengan mengulas yang terbaik ^_^
    >> abi sabila : Nah, itulah. Sebagaia orangtua, kita jangan egois terhadap anak2 kita. Mereka sudah punya dunia sendiri yang jauh berbeda dengan dunia kita.

  6. Bang Aswi…..insya Allah gw mo mengulas yang ini. Hehehe, secara emak2 gituh loh 🙂

    Tapi bener banget Bang, laki ekye juga alhamdulillah sama kaya Abang. Deket ke anak (Zahia). JAdi walopun cuma ketemu Ayahnya seminggu sekali (Abang dinas luar mulu), tapi hubungannya sangat erat. Pan ada yah Bang anak yang bahkan seperti ‘asing’ dengan orang tuanya

    Okeh deh Bang, seian dulu kunjungan paginya. Met kerja yaaaa 🙂

  7. seperti halnya mutiara, anak adalah sesuatu yang berharga, untuk kita jaga, rawat dan didik.

    Cek, sudah meninggalkan jejak disini hehe, tinggal mendaftar 😀

  8. Seorang psikolog ternama pernah berkata, Indonesia is fatherless country…
    semoga para ayah sadar, anak tidak hanya membtuhkan kasih sayang,perhatian dan waktu dari bundanya, tapi juga dari ayahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s