Kalibut

Bleteng segera menarik nafas panjang. Ia benar-benar lega telah mengeluarkan uneg-unegnya pada Arya Tilam. Uneg-uneg yang berisi pengkhianatan seorang Dharmaputra pada Kerajaan Majapahit. Kuda hitamnya pun dipacu perlahan. Meninggalkan Daha di belakang, dan kembali menuju Majalangu. Tak ada rasa was-was dalam dirinya seperti ketika ia berangkat tadi. Yang ia tahu, adalah melaksanakan rencana seperti yang telah didiskusikan dengan Arya Tilam, yaitu segera melaporkannya pada Arya Tadah—sang Mahapatih. Kebetulan alam juga seolah sedang menuruti isi hatinya. Angin segar. Burung-burung bercuit nyaring. Pepohonan melambai, bergemeretak. Tapi yang pasti, alam sedang menjalankan kehidupan sehari-harinya dengan teratur. Hanya manusia saja yang menganggapnya berubah. Begitulah.

Tapi tanpa sepengetahuan Bleteng, tepat 500 tombak di hadapannya tengah menunggu seseorang di balik semak-semak. Matanya menyalang tajam. Awas akan setiap gerakan di hadapannya. Yang tertuju hanya pada satu titik sasaran. Bleteng seorang! Dan detik-detik yang dilewatinya seakan-akan melaju lambat. Amat perlahan. Berbanding terbalik dengan yang dirasakan Bleteng. Sementara alam berjalan begitu apa adanya, hingga kata-kata pun bosan untuk melukiskannya.

Tepat pada satu titik di mana kuda hitam Bleteng melangkah, tiba-tiba saja suara bergemuruh—dan bergemerosak—muncul dari arah yang tak terduga. Dan langsung berdebum kencang. Mata Bleteng melotot, bersamaan dengan gerakan refleks tangannya menarik kekang. Kuda hitamnya mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, tepat ketika di hadapannya telah jatuh sebatang pohon besar. Menghadang perjalanannya kembali ke ibukota Majapahit.

Kepala Bleteng menengok ke arah kiri dan kanan. Hatinya was-was. Ia tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres, dan mungkin akan mengancam jiwanya. Kuda hitamnya terus diajak berputar-putar untuk mencari sesuatu yang mencurigakan. Yang mungkin bersembunyi di balik pohon atau semak-semak. Tapi … sebelum ia sempat menarik kudanya untuk dipacu kembali ke Daha, tiba-tiba saja sebatang anak panah melesat dengan sangat cepatnya dari balik semak-semak yang rimbun. Menembus tepat ke leher Bleteng! Mata Bleteng melotot tajam, lalu berubah perlahan menjadi merah. Dan tanpa sempat menarik nafas lagi, ia pun jatuh berdebum dari kuda hitamnya yang begitu saja lari. Meninggalkan tubuh tuannya yang seketika menjadi mayat. Ditemani seringai tajam seseorang yang kemudian berdiri dari tempat persembunyiannya. Di balik semak-semak yang rimbun.[]

Advertisements

2 thoughts on “Kalibut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s