Bibing: Diakui sebagai Ayah

Hari masih gelap. Sosok itu dan pasangan jiwanya sudah berdiri di sisi jalan yang sepi. Apabila hari telah terang, tak terbayang padatnya jalan itu, sampai-sampai para penyeberang jalan harus sabar. Sebuah angkot datang, dan mereka berdua pun naik. Sosok itu memandang perut pasangan jiwanya yang besar dan keras. Ada sebuah rasa dan asa. Di sana.

Belum jauh berjalan, sang sopir meminta izin berbelok ke arah yang bukan rutenya. Menjemput penumpang yang sakit parah katanya. Sosok itu hanya mengangguk kendati pasangan jiwanya juga membutuhkan pertolongan cepat. Lama menunggu di depan rumah calon penumpang yang katanya tidak bisa berjalan, tak ada sapa di sana. Hingga hari pun terang. Setengah jam menunggu hingga angkot pun terpaksa jalan. Mau naik taksi katanya.

Sekali lagi, sampai di rumah sakit sang jabang bayi belum mau keluar. Pembukaan sudah besar, tetapi plasentanya pendek. Itu kata bidan. Sama halnya dengan kejadian beberapa minggu lalu. Meski sudah pembukaan empat, sang jabang bayi masih betah di sana. Agar persalinan berjalan normal, nantinya, sang pasangan jiwa pun berjalan-jalan. Mengitari rumah sakit dan menengok ruang kerjanya di belakang sana.

Wajah cantiknya bercahaya. Sosok itu memandang pasangan jiwanya. Tanpa lelah, ia menyeterika beberapa kain yang dipersiapkan untuk sang jabang bayi. Masih sempat-sempatnya. Setengah jam berlalu, dan keduanya pun kembali berjalan ke arah ruang persalinan. Sampai di sana, alhamdulillah pergerakan pun terjadi. Bidan pun bersiaga. Para bidan bahkan. Ini ajaib, karena sang pasangan jiwa sangat dikenal. Sosok itu berdiri di sampingnya. Begitu pula sang ibu mertua, almarhumah.

Pengalaman pertama. Subhanallah. Dimarahi. Diteriaki. Menjerit. Dorong. Nafas panjang. Angkat kepalanya. Dipaksa. Ngeden. Allah Mahatahu apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Sosok kecil itu pun keluar dengan sempurna. Menangis. Meronta. Disedot. Tak sadar airmata mengalir. Hati berdebur begitu kencang. Sosok itu dan pasangan jiwanya berpelukan. Semua sehat. Sakit 15 bulan lalu menjadi hilang, saat janin pertama harus gugur.

Diciumnya sosok kecil itu. Masih bau plasenta, tapi begitu harum. Azan pun berkumandang di telinga kanannya dan iqomat di telinga kirinya. Tak lama setelah dibersihkan. Bintan Fathikhansa. Itulah sebutan sosok kecil itu. Sebelumnya Khansa Bintan Fathiya. Bintan adalah nama pulau tempat mertua sedang merantau. Perempuan yang meraih kemenangan. Siang yang indah. Siang yang cemerlang. Siang yang fantastis. Tepat tujuh tahun yang lalu. Tanpa terasa.[]

Advertisements

17 thoughts on “Bibing: Diakui sebagai Ayah

  1. Selamat buat orang tua Bintan. Penantian panjang tujuh tahun berbuah manis. Semoga kelak jadi penerus yang membanggakan, amin.
    Salam

  2. Ah yang ini juga menarik untuk di ulas nih …

    eniwei …
    sudah sangat terlambat …
    tetapi tak apa …
    Saya mengucapkan
    Selamat Ulang Tahun untuk Bintan …
    Semoga Sehat dan Bahagia Selalu …

    Untuk Bintan …
    Jika Bintan sudah bisa membaca …
    Print out lah tulisan ini …
    Lipatlah kertas itu baik-baik …
    Bawalah kemana engkau pergi
    Bacalah jika engkau merindukan Ayah Bunda mu
    Ayah Bundamu sangat mencintaimu

    Salam saya

  3. kalau anak pertamaku baru mau 5 tahun bang, πŸ™‚
    semoga anak-anak kita semuamenjadi anak yang shaleh shaleha
    dan kelak menjadi kebanggan kita dunia akhirat,amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s