Bersepeda: Menghilangkan Kejenuhan

Entahlah. Sosok itu sudah mulai merasakan jenuh sejak beberapa hari yang lalu. Tepatnya tiga atau empat hari ini. Tak heran, ada satu hari saat mau berangkat kerja dan terhalang hujan, sosok itu menjadi malas. Ia pun meminta izin pada atasan dengan alasan ingin istirahat. Cuti pun diambil sangat perdana. Akan tetapi, untunglah alasan malas itu masih bisa dimaksimalkan dengan mendesain kaos.

Sabtu kemarin (15/1), sosok itu sebenarnya berencana untuk bersepeda. Rute yang mau diambil adalah arah Punclut dan pulangnya melalui Lembang. Akan tetapi apa mau dikata, semuanya gagal total. Sosok itu harus memprioritaskan ternak teri. Ini jelas bukan usaha barunya, melainkan antar anak dan istri. Dan jadilah, hari Sabtu itu pun menjelma hari sibuk. Termasuk mengambil jatah preman atas usahanya mendesain salah satu buku berbau terjemahan. Alhamdulillah.

Minggu tadi pun akhirnya jenuh itu bisa dihilangkan. Sosok itu mulai menggowes ke arah utara dengan tujuan Warung Bandrek (WarBan) yang letaknya pada arah utara dari Terminal Dago.  Tempat ini berada pada ketinggian (kira-kira) 1161 meter dan berada pada latitude 6°50’42.19″S dan longitude 107°39’12.80″E. Lumayan “nanjak banget” karena sosok itu mulai bersepeda dari ketinggian 682 meter.

Namun perjalanan ini jadi pelajaran baginya. Tamparan tepatnya. Sudah tiga hari jenuh, sudah tiga hari pula sosok itu begadang. Terasa sekali lelahnya menggowes kalau terlalu sering begadang. Satu kilometer (kurang lebih) menjelang WarBan, sosok itu harus kembali ke bawah karena ada janji dengan seseorang (meski keadaan fisiknya juga sudah maksimal). Ini pelajaran berharga bagi sosok itu agar mempersiapkan fisik dengan baik sebelum berolahraga. Minimal, rasa jenuh itu sudajiah terbayar lunas dengan bersepeda.[]

Advertisements

15 thoughts on “Bersepeda: Menghilangkan Kejenuhan

  1. sekalinya bersepeda ketika “terpaksa” karena suami lagi mudik ke klaten, itupun sepedahannya ga nyampe kantor, cuma nyampe kampus yang bisa ditempuh dalam waktu 10 menit!

  2. Klo bersepeda, biasanya kita menyusuri jalan-jalan yg tak terlalu ramai dg lalu lintas kota, jd bisa santai, bisa nikmati pemandangan sekitar. Baru merasakan indahnya alam, sejuknya udara, dan…pastinya bersyukur telah diberi nafas. jd, pengen naek sepeda lg, setelah sekian lama gak menyentuuhnya.

    Makasih bwt kunjungannya. salam sobat

  3. >> wits : Sangat setuju. Dengan begitu, udara yang kita hirup pun masih segar dan perawan, belum tersenuth oleh asap menyesakkan. Makasih juga atas kunjungan baliknya.

  4. ngakak baca ternak teri. inget joke nya bapak ku dan para pensiunan itu kalau pulang subuhan dari masjid bang.
    mereka suka protes kata bapak, kalau weekend mereka semua jadi ternak teri semuaa. beruntunglah bapak ku, karena kami jaraaaaang doyan pergi di anter2, karena kami se rumah lebih senang menghabiskan weekend dengan tdiur dengan aman damai di rumah.

  5. Waduwh Bang,gimana ya kepaksa dan ngga kepaksa malah terbiasa jadi sepeda-an terus, ditambah tinggal di kawasan perbukitan. hehe….super Ngos-Ngosan bener2 deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s