Mutiara: Hikmah di Balik (Keberkahan) Kerja

Alhamdulillah. Rasa syukur ia ucapkan. Sosok itu seperti diberkahi ketika diterima bekerja di lingkungan islami. Lingkungan Al-Qur’an. Pada saat azan berkumandang, semua karyawan bersiap-siap shalat berjamaah di mushala. Tidak harus menunggu bel istirahat. Semua langsung bergerak.

Belum lagi lingkup kerjaan yang menata letak produk kitab suci umat Islam. Hampir setiap hari matanya tak lepas dari susunan khat, terjemahan, dan beberapa penguatnya. Sebut saja hadits, asbabunnuzul, atau referensi lainnya semacam Harun Yahya. Dan hari ini, sosok itu mendapatkan satu cakupan ilmu yang luar biasa. Bukti kebesaran Sang Maha.

Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahman, 55: 19-23)

Dua laut bercampur. Ini sebuah keajaiban. Buktinya sudah banyak terpampang di jagad internet. Paling mudah saat air sungai bertemu lautan di muara. Satu air tawar nan segar, satu lagi air asin nan pahit. Belum di beberapa goa yang berhasil dijelajahi. Air tawar di atas, air asin di bawah. Seperti ada dinding pemisah antara keduanya. Benar-benar kebesaran Sang Maha yang patut dipahami manusia. Makhluk cerdas yang baru diberi ilmu setitik.

Di tempat bercampurnya kedua lautan itu, Sang Maha memberikan kenikmatan. Mutiara dan marjan. Keduanya adalah sebentuk permata indah nan mahal. Beberapa ulama (Mujahid, Qatadah, Abu Rizin, Dhahak) menyebutkan bahwa mutiara lebih besar daripada marjan. Sebaliknya ada juga ulama (Ibnu Abbas, Ibnu Jarir) yang menyebutkan bahwa marjan lebih besar daripada mutiara. Buktinya ada pada Tafsir Ath-Thabari atau Tafsir Ibnu Katsir. Akan tetapi itu tidak menjadi masalah. Mutiara atau marjan, tetaplah permata yang paling indah.

Kisah menakjubkan pun mengiringi pembentukannya. Ibnu Abu Hatim yang bercerita. Ketika langit menurunkan hujan, gelombang di lautan pun terbuka. Tetesan yang jatuh itulah mengandung mutiara. Bisa jadi unsur pembentuknya. Belum lagi kisah langit yang menyertai Sang Teladan. Manusia biasa yang paripurna. Muhammad. Makhluk cahaya menyampaikan salam dari Allah Swt. dan darinya. Salam teruntuk Khadijah melalui Sang Teladan. Berita gembira tentang sebuah rumah di surga. Rumah yang di dalamnya tidak ada keributan dan kesusahan. Rumah mutiara.

Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan. Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun yang menimbulkan dosa, tetapi mereka mendengar ucapan salam. (QS Al-Waqi‘ah, 56: 22-25)

Manakala mutiara ini dijadikan perhiasan, Allah mempertanyakan nikmat yang diberikan kepada manusia. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[]

Advertisements

13 thoughts on “Mutiara: Hikmah di Balik (Keberkahan) Kerja

  1. Sosok itu bangaswi yah? 🙂 , saya pernah merasakan suasana islami seperti itu, tapi akhirnya harus keluar dari zona nyaman itu dan harus berhadapan dgn dunia yang beragam, dan disitulah benar2 ujian keimanan, apakah akan tercelup dgn keberagaman ataukah tetap tercelup kalimat2 Allah.

    Allahu Akbar, Maha besar Allah dengan segala ciptaanya, saya seneng juga kalo melihat karya2 harun yahya

  2. >> dina : Sosok itu begitu misterius, tapi saya suka menuliskannya. Ya, ujian kadang2 tidak harus di lingkungan yang saklek, bahkan di lingkungan islami pun kita terus diuji….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s