Bersepeda: Mari Bergerak

“Lack of activity destroys the good condition of every human being, while movement and methodical physical exercise save it and preserve it.” ~Plato

Sosok itu sangat suka bersepeda. Kawan-kawannya sudah mafhum akan hal itu. Tak perlu dipertanyakan lagi. Setiap hari bersepeda, sebagai transportasi untuk beraktivitas. Dan kalau sempat, Sabtu-Minggu juga bersepeda. Membuang keringat agar badan menjadi lebih segar. Seperti tadi malam. Menghadiri Sarasehan B2W se-Jabar sekaligus night riding keliling kota dan berfoto-foto di depan New Majestic serta Gedung Merdeka. Bersama kawan-kawan pesepeda tentunya.

Bersepeda adalah aktivitas mudah dan tidak terlalu berbahaya yang dapat meningkatkan kesehatan individual secara keseluruhan. Aktivitas ini dapat mengurangi beberapa resiko masalah kesehatan, misalnya penyakit jantung dan kanker. Bersepeda tidak hanya untuk berolahraga, tapi juga dapat dilakukan sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari seperti bersekolah atau bekerja.

Salah satu penelitian (L. Andersen, 2000) menyebutkan bahwa pekerja yang bersepeda (bike to work) dapat menurunkan laju sampai 39% semua penyakit penyebab kematian. Bersepeda selama 30 menit setiap hari selama seminggu, ditambah dengan menjaga makanan dengan baik, dapat mengurangi berat badan jauh lebih baik dibandingkan dengan tiga kali aerobik selama seminggu (RE Andersen, 1999). Bersepeda juga memberikan efek positif pada kesehatan mental seperti tidak mudah stres dan lebih percaya diri (H. Boyd, 1998).

Berbagai persepsi bahwa bersepeda sangat berbahaya karena aktivitasnya yang harus berhadapan dengan lalu lintas perkotaan tidak sepenuhnya benar. Resikonya jauh lebih minimal jika dibandingkan dengan kesehatan yang lebih baik (M. Hillman, 1992). Jumlah kecelakaan di jalan raya pun makin berkurang jika jumlah pesepeda meningkat. Bersepeda tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan individu tetapi juga bagi kesehatan bumi, khususnya mengurangi polusi udara dan suara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor.

Namun sosok itu sempat murung. Apalagi ketika harus menengok ke belakang, dimana aktivitas bersepeda sebagai alat transportasi mengalami penurunan tajam mulai dari 24 miliar kilometer pada 1949 hingga hanya 4,4 miliar kilometer pada 1994. Salah satunya diakibatkan oleh kebijakan pemerintah dalam penggunaan kendaraan bermotor dan fasilitasnya. Kendati keberadaan kendaraan bermotor dapat mengurangi waktu yang terbuang selama di perjalanan, tetapi masalah baru lahir dengan sendirinya. Dan hal ini baru disadari pada 1998: The way we travel is making us a less healthy nation. Perlu dicatat bahwa penyakit jantung adalah pembunuh pertama orang dewasa, yang salah satunya diakibatkan oleh kurangnya aktivitas berjalan dan bersepeda serta terlalu seringnya berada di atas kendaraan bermotor.

Masalah transportasi memang rumit. Benang kusutnya sulit untuk diuraikan. Butuh banyak tangan. Memang tidak mudah, tapi bisa (sebenarnya). Padahal kebijakan transportasi hanya mensyaratkan beberapa hal, yaitu: 1. terbukti aman, 2. mudah diakses, 3. berkontribusi pada masalah efisiensi ekonomi, 4. terintegrasi dengan baik, dan 5. terjaganya lingkungan hidup (Department for Transport, London, 2004). Dari sini terlihat bahwa antara kendaraan bermotor dan lingkungan hidup tidak bisa seiringan. Belum kalau digali lebih dalam tentang efisiensi ekonomi.

Dari kebijakan itulah, jalan kaki dan bersepeda diajukan sebagai aktivitas penting yang harus disediakan fasilitasnya di bidang transportasi. Adanya lajur pedestrian dan jalur sepeda (bike lane) pada sebuah kota adalah sebuah keniscayaan. Lajur sepeda pun sudah tertuang sebagai fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan yang harus ada (Pasal 45 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan). Tak heran kalau pentingnya bersepeda untuk menciptakan daya tahan tubuh yang lebih baik dan meningkatkan kesehatan umum pada akhirnya tercantum di Piagam Transportasi, Lingkungan Hidup, dan Kesehatan yang dibuat oleh WHO Wilayah Eropa pada Konferensi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kesehatan di London tahun 1999.

Untuk itu, mari bergerak. Bergerak tanpa membuang sumber daya alam yang begitu mahal. Tak ada salahnya beraktivitas di tengah kota dengan cara berjalan dan bersepeda. Membuang keringat itu sehat. Mempercepat denyut jantung sesekali itu sangat dianjurkan. Sungguh beruntung Bandung sudah memiliki jalur sepeda (bike lane). Polemik tentang biaya pembuatannya tidak usah dipikirkan. Manfaatkan saja. Kring-kring-kring![]

“Angka kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan dengan menambah aktivitas fisik. Berjalan dan bersepeda sebagai bagian dari transportasi adalah strategi paling efektif untuk mencapai tujuan itu” ~WHO Regional Office for Europe

Advertisements

14 thoughts on “Bersepeda: Mari Bergerak

  1. membuang keringat itu sehat ! betul.
    tapi sayangnya aku lebih sering keringet dingin gara – gara mau ujina, atau presentasi, atau ngadep dosen bang
    ><
    huhuhuhuhu
    belon punya nyali sepedehan ke kampus. di samping ga punya rantai buat gembok sepeda, jalanan ke kampus nanjak
    (alasan banget gak sih?)

  2. >> ais : Wah, di Bandung mah semua jalanan naik turun, jadi bukan alasana hehehehehe. Semoga berhasil deh ujiannya, tapi jangan lupa bersepeda ya?

  3. Ah……
    Semakin banyak ajakan-ajakan bike to work nih.
    Saya tergoda juga hahahaa… masalahnya saya tidak berani bike to work sendirian…. tapi gak punya kawan… 😦

  4. Terus terang saya belum pernah ke Bandung… Pengen banget kesana… berarti sama ya kondisi jalannya yang naik turun seperti di Batu – Malang…. 😀 ini tulisan buat kontes ya Bang? Sukses ya…. 😀

  5. >> zee : Iya, tak bosan2nya saya mengajak Zee sekeluarga untuk bersepeda. Tak ada kawan, carilah. Tak ada sepeda, belilah. Yuuuk … ^_^
    >> aquidea : Ya, udara dan konturnya sama banget. Pasti gak terlalu lama adaptasinya. Hatur nuhun ya … ^_^

  6. Sayang saya nggak punya sepedah..hehehehhdankayaknay udah lupa bagaimana cara bersepedah sepertihalnya lupa bagaimana mengendarai motor…

    Seru kayanya yah….demi ksehatan dan bumi pertiwi..

  7. >> lita : Maaf terlewat. Yuk mareee budayakan terus bersepeda ^_^ Semoga polusi di kota makin berkurang….
    >> Pendar : Coba diingat2 lagi dengan cara mengendarainya. Dan sudah pasti SERUUUUUUU … ^_^

  8. dokter kenalan keluarga saya menganjurkan naik sepeda masing2 sejam tiap pagi dan sore.
    tapi saya baru sanggup seperempat jam tiap pagi, ke tempat kerja pun masih naek angkot.. :))

    24 miliar kilometer pada 1949 hingga hanya 4,4 miliar kilometer pada 1994.

    apalagi jaman sekarang, punya uang 300 ribu aja udah bisa bawa pulang motor, ngga heran.

    tapi skg kampanye BtW juga makin gencar.
    di Yogya, pemkotnya mencanangkan Sego Segawe (sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe, sepeda untuk bersekolah dan bekerja).
    selama saya masih tinggal disana, saya liat gerakan ini lumayan efektif, jadi banyak yang mulai ke kampus dan kemana-mana naik sepeda (termasuk walikotanya) karena emang di-encourage banget. kampus saya malah sudah bikin jalur sepeda sejak bertahun-tahun yang lalu.
    semoga makin lama orang yang beraktifitas menggunakan sepeda makin banyak.. 🙂

  9. >> ms. plaida : Ya, kampanye bersepeda sedang giat-giatnya di Indonesia bahkan beberapa oknum sudah mencoba memanfaatkan gerakan ini sebagai bagian dari kampanye politiknya. Semoga makin banyak yang bersepeda makin segarlah ruang gerak kita di jalan. amiiin ^_^

  10. Salam Takzim
    saya suka sepedahan bang mangkanya seranai gambar yang melarikan saya ke artikel ini saya copas ya buat blog saya
    , maap sebelumnya bang
    Salam Takzim Batavusqu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s