Membaca = Kinerja SDM

“Reading is the heart of education.” Farr (1984)

Telah disebutkan sebelumnya bahwa masyoritas masyarakat kita masih kurang tingkat daya bacanya. Dan budaya membaca ternyata sangat berpengaruh kepada kinerja SDM. Terbukti SDM di negeri liliput ini begitu rendah. Ini bisa didapatkan dari Human Development Index (HDI) atau indeks pembangunan manusia.

HDI Indonesia pada 1995 berada pada peringkat 104 dari seluruh negara di dunia. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Malaysia yang berada pada peringkat 59. Pada 2000, peringkat HDI negeri liliput ini turun menjadi 109 dan kembali turun pada 2002 menjadi 110. Sekali lagi sangat jauh berbeda dengan Malaysia yang meski turun pada 2000, tetapi kembali stabil pada peringkat 59 di tahun 2002. Cina dan Vietnam menunjukkan prestasi luar biasa yang awalnya berada di bawah peringkat Indonesia pada 1995, langsung menanjak mengalahkan negeri liliput pada tahun 2000 dan 2002.

Sosok itu mencoba menganalisis mengapa negeri liliput ini tidak memiliki budaya membaca. Dan kalau memang betul, bisa jadi salah satu hal paling penting adalah kurangnya political will dari pemerintah. Ini jelas pengatur lalu lintas di segala bidang. Tidak ada dukungan dari pemerintah secara total akan menghambat segalanya. Akan tetapi ini bisa dibantah. Oleh siapapun. Selalu ada pro dan kontra tentang masalah ini.

Faktor lainnya adalah kurangnya pemahaman dan kesadaran bangsa tentang pentingnya budaya membaca itu sendiri. Begitu pula dengan permasalahan budaya membaca yang dianggap belum merupakan masalah kritis. Masalah yang lebih banyak diberikan porsi berlebih pasti berhubungan dengan perut. Membaca masih dianggap anak tiri. Padahal bisa jadi pendapat ini salah. Dari membaca, masalah perut bisa tertangani jika dilihat dari sudut pandang yang benar.

Faktor lainnya adalah masih tingginya tingkat illiterasi (buta huruf) di masyarakat. Program Paket A, B, dan C masih banyak menemukan kendala. Belum lagi faktor tingginya biaya pendidikan di negeri liliput ini. Sosok itu sempat berdiskusi sambil bersepeda betapa untuk masuk ITB tahun ini sudah sampai pada angka 50 juta rupiah. Itu belum biaya SPP dan biaya administrasi selama bulan berjalan. Dan secara historis, budaya literer tidak banyak ditemui pada masyarakat kita. Budaya literer belum memasyarakat dan hanya ditemukan pada masyarakat kelas atas.

Gagalnya SDM kita terlihat jelas pada Juli 1997 dimana krisis moneter melanda hampir seluruh negara Asia. Korea Selatan, Thailand, Malaysia, dan Singapura mampu mengatasi krisis ekonomi bangsanya hanya sekitar 2-3 tahun saja. Mereka jelas telah memiliki SDM yang kompetitif, unggul, kreatif, siap menghadapi segala bentuk perubahan sosial, ekonomi, politik, budaya dan lainnya. Namun negeri liliput sampai saat ini (ternyata) belum juga bisa bangkit.

Baldridge (1987) melaporkan bahwa manusia modern dituntut untuk membaca tidak kurang dari 840.000 kata/minggu. Jika kecepatan efektif membaca (KEM) yang kita miliki hanya 250 kata/menit (kpm), waktu yang harus digunakan khusus untuk membaca saja adalah 8 jam/hari. Tentu saja kondisi seperti ini tidak praktis sama sekali. Agar waktu yang tersedia untuk membaca adalah 4 jam/hari maka kecepatan membaca mereka harus dilipatgandakan menjadi 500 kpm.

Mungkinkah?[]

Advertisements

5 thoughts on “Membaca = Kinerja SDM

  1. Menyedihkan memang
    tapi realitanya seperti ini
    membaca masih menjadi sesuatu yang terlanjur dianggap ekslusif di kalangan masyarakat kita
    salam hangat…

  2. salam kenal bang aswi,
    beberapa waktu yang lalu saya mendapat pencerahan dari penceramah bahwa selama bangsa ini kurang memiliki minat baca akan sangat sulit untuk berkompetitif di segala bidang dengan bangsa lain. Membaca adalah salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan manusia. Apabila pemerintah tidak merasa hal ini penting….yah lebih baik kita gerakan dari lingkungan kita dulu lah. Sangat sulit mengharapkan dari pemerintah karena sudah sibuk ‘berpolitik’ terus….

    *mohon izin taruh link di web….syukur2 mau tukeran link bang*

  3. >> jasmine : Iyaaaaaaaa, PR-nya dah dibaca, tapi dikumpulkannya bebas-bebas saja kan? ^_^
    >> Necky : Salam kenal kembali. Ya, mari kita mulai dari lingkungan terkecil yang dekat dengan kita. Hayulah tukeran ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s