Gebrakan Cinta Satu Malam

Indah nian. Begitu murah malah.
Menikmati sebuah kepalsuan. Miriskah?
Budaya yang taklagi membuat gerah.

Masyarakat kita memang kreatif. Lihat saja Bandung, makanannya begitu variatif hingga disebut sebagai surga makanan. Orang luar kota tidak merasa lengkap kalau tidak mencicipi salah satunya. Belum industri kaosnya. Atau Yogyakarta yang disebut sebagai kota seniman. Kota-kota lain juga pasti sama, kreatif di bidang masing-masing. Tiap kota mencirikan sesuatu yang khas. Maka lahirlah oleh-oleh atau buah tangan untuk dibawa pulang.

Namun banyak juga yang kreatifnya kebablasan. Sudah ada lampu merah, masih saja diterobos tanpa peduli pada teriakan peluit petugas hukum. Alasannya pasti kembali ke dasar. Butuh makan. Apalagi coba? Dengan ini, keaslian pun diabaikan dan teronggok di tempat sampah. Sepele? Tidak juga. Betapa banyak, bahkan sampai ratusan dan ribuan orang berharap pada pemasukan produk asli. Sebut saja penulis, editor, ilustrator, desainer, lingkungan percetakan, distributor, agensi, dan seterusnya. Ini baru di lingkungan penerbitan buku atau majalah. Masih banyak lagi di luar sana.

Sosok itu pernah membaca sebuah pesan milis. Sebut saja membajak, menjiplak, mencontek, plagiarism, menyadur, mengadaptasi, atau terinspirasi. Tentu semua itu taksama. Selalu ada bedanya. Dari kesemuanya, yang membedakan sebenarnya hanya satu. Yaitu penyebutan sumber, yaitu jujur mengakui karya orang lain, yaitu sifat tenggang rasa akan sebuah karya, yaitu takmencari untung semudah membalikkan tangan. Silakan berkontemplasi.

Contoh membajak adalah memperbanyak atau memfotokopi suatu produk dan menyebarluaskannya tanpa ijin. Contoh menjiplak adalah mengakui karya orang lain sebagai karya sendiri. Contoh menyadur adalah selalu menyebutkan sumber aslinya. Sedangkan contoh terinspirasi tidak jauh berbeda dengan menyadur, hanya saja tidak lengkap seperti menyadur.

Bagaimana dengan ‘Cinta Satu Malam’ yang dipopulerkan oleh Melinda? Sosok itu sebenarnya jengah. Apalagi melihat tayangannya yang tidak pada tempatnya. Siang hari di tengah-tengah tontonan anak-anak. Benar-benar tidak pantas. Dan setelah didalami, sosok itu semakin tidak respect pada proses penciptaan dan konten lagu itu. Hanya satu aspek saja yang disorot. Penjiplakan.

Lirik sudah pasti berbeda, tapi musiknya jelas-jelas menjiplak ‘Everytime We Touch’. Baik intro maupun refrain-nya sama. ‘Everytime We Touch’ dipopulerkan oleh Cascada, grup musik dari Jerman pada 2006. Vokalis utamanya adalah Natalie Horler. Lagu ini bahkan menjadi The Best Selling Dance Song of 2006 dan memecahkan rekor di Swedia. Total penjualan ketiga album mereka sudah mencapai 15 juta dan untuk single-nya sudah mencapai 35 juta. Penghargaan internasional pun menghampiri Cascada melalui ajang World Music Awards atau MTV Video Music Awards.

So, buat kawan-kawan yang penasaran dengan kedua lagu itu, bisa mencarinya di mesin pencari. Sosok itu mengunduh keduanya pun hanya untuk membandingkan. Dan keluarlah ulasannya dalam bentuk tulisan ini. Semoga kita semua bisa belajar dari kesalahan. Untuk diperbaiki tentu saja. Musik hanyalah salah satunya. Masih banyak yang harus dibenahi di kita. Dan hanya kita sendiri yang tahu. Wallahu’alam.[]

Advertisements

16 thoughts on “Gebrakan Cinta Satu Malam

  1. saya tidak memahami musik, jika dalam keseharian saya mendengarkan musik, maka alunan nada itu ada melulu karena suami memang penikmat musik. jadi andaikan ada penjiplak yang menyanyi khusus untuk saya, sangat mungkin saya malah tidak tahu sama sekali 😦

    nice post, bang, semangat terus postingnya! *saya jadi tertular hehehe*

  2. Saya baru tahu lho kalau lagu itu plagiat. Ngomong tentang pembajakan, menyadur, mengapatasi, dll saya ini termasuk pembajak lho *ngaku. Tapi ini berlaku bukan di blog saya. Itu berlaku waktu masih kuliah, kerjanya fotokopi buku mulu. Abis kalau beli buku asli mahal. Buku yang dijual dekat kampus pun adalah buku hasil bajakan. Kalau begini, harus gimana ya?

  3. menjiplak sama plagiat sama bang?
    dan heran nya, di kalangan akademisi sering terjadi seperti itu bang.
    bahkan beberapa waktu lalu kampus saya mencopot gelar seorang doktor karena disertasi nya ditengarai sebagai karya plagiat.
    miris mendengarnya..

  4. >> sitti : sepertinya gak. dan pasti dia gak tahu. yang plagiat kan pencipta lagunya.
    >> puteri : Wow, peta kalimat inspiratif. Kayak apa ya. Oke deh, otw….
    >> bundamahes : Begitulah, bunda. nyebelin!
    >> sya : pasti fotokopi catatan yang emang dasarnya males gak pernah nyatet. lah wong ke perpus cuma pengen ngintip orang doang ^_^

  5. >> sedjatee : Hatur nuhun ya, dan memang harus berbagi ^_^
    >> ais : kurang lebih. iya, di bandung pun juga sempat heboh mengingat yang bersangkutan menulisnya di media massa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s