Sehat Itu Mutlak, Bukan Main-Main

Sosok itu menerawang. Jauh ke masa lalu, sekira sepuluh tahun silam. Pada saat dirinya masih berstatus mahasiswa. Pada saat dimana dengan sekuat tenaga, dia mencoba menyelesaikan ujian praktikum. Ujian pertama yang di hadapinya. Meski tubuhnya menggigil. Meski sudah berbalut jaket tebal dan berbalut lagi dengan jas labnya.

Hari itu memang berhasil, tapi tidak dengan hari-hari berikutnya. Dengan muka pasi, dirinya memaksakan diri ke luar kota: keesokan harinya. Semalam hampir saja dia kehilangan kesadaran. Perutnya makin membuncit yang entah penyebabnya. Dan di depan kedua orangtuanya, sosok itu menjatuhkan diri. Letih, yang amat sangat. β€œMirip tengkorak hidup,” ujar sang ibu.

Setelah itu, penderitaanlah yang dia rasakan. Penderitaan agar tubuhnya bisa kembali pulih. Satu bulan lebih dia dirawat dan harus menjalani operasi. Ususnya mengkerut dan sebagiannya harus diangkat. Dempet. Dan karena itulah perutnya membesar. Takada yang keluar karena salurannya mampet. Menumpuk di perut.

Setelah keluar dari rumah sakit dengan beberapa jahitan di perutnya, sosok itu takmau lagi mengulangi kesalahan. Terlalu sering begadang. Kurang asupan yang bergizi. Terlalu banyak mi instan. Terlalu berlebihan mengonsumsi gorengan. Dan sedikit sekali air putih yang masuk. Semuanya berubah sejak saat itu. Apalagi harus kehilangan nikmatnya takpuasa di bulan Ramadhan. Sebulan penuh. Belum Idul Fitri yang dirayakan di rumah sakit.

Kini minumnya telah banyak. Anjuran delapan gelas sehari harus dipenuhi. Meski memang berat di awalnya. Banyak minum itu sehat. Mengencerkan darah-darah yang kental. Memperlancar kinerja organ-organ tubuh. Melumasi bagian-bagian tubuh. Memperkuat otot-otot yang kendur. Menyegarkan air muka sehingga bisa berkomunikasi sehat dengan siapa pun. Taklupa, mengurangi asupan segala yang instan karena banyaknya pengawet.

Takketinggalan, sosok itu kembali berolahraga. Menggiatkan sesuatu yang dahulu pernah dilakoninya. Berenang. Bersepeda. Aktivitas hingga kini yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Olahraga sebagai terapi kesehatan. Apapun bentuknya, olahraga akan membuat kita bugar dan tidak tergantung dengan obat-obatan. Beberapa atlet profesional terbukti berprestasi meski mereka dulunya sering sakit-sakitan. Lihatlah Paul Scholes (pesepakbola Inggris), Amy Van Dyken (perenang Amerika), atau Dennis Rodman (pebasket Amerika).[]

Dari kesalahan kita belajar
Dari kesakitan kita mencoba bangkit
Dari keterpurukan kita berharap
Menatap masa depan cahaya

NB: Tulisan ini diikutsertakan pada Kontes Aku Ingin Sehat dalam rangka milad ke-2 blog Try-2-B-Cool-N-Smart milik KakaAkin.

Advertisements

19 thoughts on “Sehat Itu Mutlak, Bukan Main-Main

  1. wahh ternyata dulu pernah dirawat di RS yachh……ngeri juga yach efek dr kebanyakan mengkonsumsi mie instan…….

    rasanya aku juga harus ber-olahraga nech supaya badan sehat seperti sosok itu

  2. air putih, murah dan meriah namun tidak semua orang menyadari manfaatnya yang sangat besar, atau sudah sadar tapi tidak mencukupi tubuh kita dengan delapan gelas sehari. ini saya alami, saya jadi ‘malas’ minum air putih karena harus bolak-balik ke kamar mandi, udara dingin ruangan menambah parah sehingga jadi sering berkemih. Tapi, kembali diingatkan postingan ini, semoga kedepannya saya bisa lebih ‘memaksa’ untuk memenuhi hak tubuh saya akan delapan gelas sehari. tidak mahal, sangat murah malah.

  3. >> mama ina : Iya, makanya sekarang kalau makan mi instan itu harus ada jeda 3 hari istirahat. Dan olahraga memang harus ^_^
    >> abi sabila : Iya, memang harus dipaksa. Bolak-balik ke kamar mandi itu konsekuensi tapi menyehatkan. Bahkan, kekurangn air putih dapat dideteksi dari warna air seni: semakin bening semakin baik.

  4. wah, teguran nih untuk saya yang lagi ngkost. sering banget makan mi instan juga gorengan. harus bergizi makannya, minum air putih yang banyak, dan olah raga tentunya. makasih ya bang infonya. πŸ™‚

  5. Bersepeda bang,,murah, mnyehatkan, anti polusi, dan anti polisi
    hehehheh…
    ngomong2 soal mie instan ya Bang,,aku akhr2 ini sering pusing kalau kebanyakan makan mie instan,,
    skrg harus lebih banyak mengkonsumsi buah dan sayuran Bang

  6. >> taufik : Iya, pengalaman buruk saya jangan ditiru.
    >> apikecil : Nah itu sudah merasakan. Hayu lah, kalau tidak urgent2 amat, jangan terlalu sering mengonsumsinya … ^_^

  7. >> bundamahes : Bagus atau tidak itu soal selera, Bun, jadi jangan terlalu berkecil hati. Berbahagialah karena kita sudah terlibat menjadi peserta ^_^

  8. di RS banyak sekali kasus seperti yang sosok jelaskan. dan penyebab yang paling dominan adalah konsumsi mie instan dan bahan pengawet lainnya. pada awalnya hanya berupa sakit perut dan pada akhirnya bisa mneyebabkan luka lambung dan bahkan obstruksi usus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s