Bercengkerama dengan Alam

Sosok itu mencintai kotanya. Meski lahir di Jakarta, dia begitu mencintai Bandung. Kota keduanya dan tempatnya memadu kasih. Kota terindah yang pernah dijejakinya. Pohon-pohon berusia ratusan tahun. Kontur tanah yang takrata macam pebukitan bergelombang. Masyarakatnya yang ramah. Belum udara segar dan ajibnya bisa menyaksikan hawa nafas di pagi hari. Tapi itu dulu.

Kini Bandung panas. Asap-asap buangan tampak begitu jelas di atas kota. Berkumpul dan semakin banyak, tanpa bisa bergerak kemana-mana. Cekungan danau purba yang mematikan. Emisi gas buang kendaraan telah mencapai 18% di atmosfer. Kualitas udara Bandung sudah tergolong buruk. Masyarakatnya diharuskan mengisap udara yang berbahaya. Selama 55 hari di sepanjang tahun. Belum suhu kota yang bertambah 0,3 derajat celcius setiap tahunnya.

Kota urban ini telah mengimpor minyak bumi, makanan, dan air. Banyak sekali. 11.500 ton bahan bakar, 2.000 ton makanan, dan 320.000 ton air minum. Lalu mengekspor sampah, limbah cair, dan polusi udara. 25.000 ton CO2, 1.600 ton limbah padat, dan 300.000 ton limbah cair. Ekosistem pun rusak dan mendunia. Semua kota urban sama. Cuaca berubah dengan sangat ekstrem.

Sosok itu menggigil. Miris dan ketakutan. Lalu teringat pada anak-anak terkasihnya. Takmau dia berdiam diri begitu saja, sementara racun bebas berkeliaran setiap harinya. Dan dia pun mencatat apa-apa yang harus dilakukan. Minimal untuk dirinya sendiri.

  1. Hidup hemat. Gunakan listrik seefisien mungkin (lampu, TV, pompa listrik, setrika, kompor listrik, penggunaan stabilizer, dll). Gunakan kompor gas seperlunya (jangan terlalu sering masak air untuk mandi). Bijaksana memakai kendaraan bermotor.
  2. Kurangi penggunaan plastik. Jika belanja, bawalah tas belanja sendiri. Jika tidak diperlukan, jangan meminta kantong kresek.
    Kemasan sachet memang murah, tapi alangkah baiknya jika menggunakan kemasan isi ulang. Kemasan botol kaca lebih baik daripada kemasan plastik.
  3. Hidup ala mottai-nai. Reducing (mengurangi penggunaan bahan-bahan yang memang tidak diperlukan). Reusing (menggunakan kembali bahan-bahan bekas yang masih bisa dipakai). Recycling (mendaur-ulang bahan-bahan bekas menjadi barang baru, bahkan layak jual).
  4. Hidup sehat. Membiasakan diri berjalan kaki jika jarak tempuh tidak terlalu jauh. Upayakan untuk rajin berolahraga seperti jalan cepat, lari pagi, atau senam minimal satu kali seminggu. Kurangi penggunaan kendaraan bermotor dan menggantinya dengan sepeda, apalagi untuk jarak tertentu.
  5. Cintai lingkungan. Jaga dan rawat tanaman yang sudah ada. Jangan dirusak apalagi dicabut. Satu pohon bisa menopang kebutuhan oksigen untuk 2 orang. Jika mampu, tanamlah pohon di pekarangan rumah. Jika tidak ada lahan, pergunakan pot-pot tanaman. Sering-seringlah mengajak anak-anak untuk berjalan-jalan ke taman.
  6. Kampanye bersama. Ikutilah komunitas sehat yang ada, misalnya komunitas sepeda, senam bersama, atau kelompok rihlah. Canangkan program bersih di lingkungan masing-masing seperti halnya Jumat bersih. Di sekolah, adakan acara Hari Berjalan Kaki dan Bersepeda setiap minggu (contohnya sudah ada International Walking Day).

Ahhh … sosok itu berharap. Mencoba menatap masa depan yang lebih baik. Demi anak-anak terkasihnya. Berbuat semampunya.[]

Advertisements

20 thoughts on “Bercengkerama dengan Alam

  1. >> apikecil : Ya, bumi kita memang butuh cinta. Tanpa cinta, semuanya akan lenyap tanpa bekas. Menyedihkan sekali. Hayu, Prit pasti bisa. Sampai tgl 15 Feb kalau gak salah … ^_^

  2. Berbuat semampunya, semaksimal mungkin, mulai dari hal-hal kecil, mulai dari diri sendiri dan saat ini.
    Ketika banyak ( kalau belum semua ) memiliki harapan dan pemikiran seperti ini, bukan tidak mungkin harapan ini akan menjadi kenyataan.

  3. bener banget,,, kita harus mulai mencintai bumi, mulai dari sekarang… untuk anak cucu kita, jangan sampai mereka tak mengenal pohon, tak dapat air bersih, atau cuma bisa liat sapi di museum, hiks.. 😦

    ah, sosok itu sudah memulai start ikut kontes ini, aku ketinggalannnnnnnnn…

    nb : bangAswi, ada YM gak bang.. ??

  4. iyah bang, di rumah kontrakan ku tiap sudut nya aku tempelin tulisan ‘hemat energi’ ; ‘matikan alat listrik jika sudah tidak digunakan’ ; ‘mulai dari diri sendiri untuk anak dan cucu kita’

    biar se isi kontrakan ini inget akan hal itu.
    tapi baru sebatas itu bang.

    jalan kaki untuk jarak tertentu dalam pikiran aku adalah beli makan di depan gang kontrakan, atau foto kopi di jalan besar, karena jalan nya gak nyaman
    (hahahhaha. sumpah, itu cuman alasan. kalau di niatin sebenernya bisa aja..)
    okeh, aku niat besok minggu mau sepedahan. beneran. serius

  5. sama kayak bogor, bang. dulu bogor sejuk, indah, dan nyaman. masih banyak pepohonan. tp sekarang, lahan2 kosong diganti jd mall2. malah jd bikin panas.
    ayooooo kita selamatkan lingkungan πŸ˜€
    semangat kontesnya, bang aswiii !!! πŸ˜€

  6. >> joe : yuk-yak-yuuuk!
    >> abi sabila : Ya, kita mulai dari diri sendiri aja dulu … ^_^
    >> advertiyha : Sudah ikutan 3 postingan hehehehe. Add aja di bangaswi …
    >> edoh : sangat betul!

  7. >> ais : udah ngomong serius di mana-mana. buktikan?! ^_^
    >> wits : good luck to ya too …
    >> jasmine : Hah?! Bogor sudah kayak gitu juga? Dulu waktu jaman SMA suka kabur ke Bogor karena keindahannya …

  8. beneran serius.
    itu juga yang aku omongin minggu kemaren sama temenku.
    dan dia cuman nyengir pas tahu aku bangun siang minggu pagi nya
    😦
    ow em ji. aku di tantang.
    akan aku buktikan.

  9. Lapooor! tadi aku udah sepedahan. muter – muter dari rumah di terban, ke daerah jalan kaliurang, terus belok ke jembatan baru nembus ke jalan monjali. (gak ngerti juga kali is Bang Aswi nya kalau dijelasin rute nya)

    hasilnya :
    – mupeng lihat helm yang dipake orang – orang yang naek sepeda laen nya
    – ketemu warung makan dengan iklan ‘Stop masak!!’
    – ketemu orang nanya jalan dan aku gak ngerti itu daerah mana

    hlaaah kok aku jadi curhat di sini?
    terimakasih atas motivasi nya Bang.
    πŸ˜€

  10. >> jasmine : So pasti akan ke Bogor lagi secara Jakarta adalah my hommy. Ada rencana ngagowes ke saja juga. Kalau ada no. HP kasih tahu ya via japri … ^_^
    >> ais : Asyiiiiiiiiiiiik, harus diposting tuh pengalamannya biar bisa ngerasain yang baru sepedaan lagi ^_^ Just keep gowes dan kring-kring-kring! Alhamdulillah, Abang juga dapet helm 2 dikasih temen….

  11. bercengkerama dengan alam, menyusuri suasana pinggiran kota dengan mengayuh sepeda, menikmati nyanyian dedaunan.. Alangkah indahnya hidup bila kita mencintai alam;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s