Horror Chronicles

Asli! Hidup gue makin paripurna setelah mendapatkan dua putri yang macan, alias manis dan cantik. Bibing (7 tahun) berambut keriting alias ikal sedangkan Ninin (4 tahun) berambut lurus. Yang pasti, keduanya lumayan bageur untuk ukuran anak sebayanya (emangnya sepatu, pake ukuran segala!). Sudah banyak ulah yang mereka kerjakan sehingga keduanya mendapat beberapa ‘hak paten’ berupa luka-luka, apalagi Ninin kendati usianya lebih muda.

Seperti pada malam itu, saat semua anak-anak tetangga tak terdengar lagi suaranya karena diperkirakan tidur. Ye, meneketehe kele mereke pede teder ete belem. Ah ngaco! Jam di tembok udah menunjukkan angka sembilan lebih sedikit, tapi Bibing dan Ninin masih asyik loncat-loncatan di atas ‘bed’ yang benar-benar ‘spring’. Belum lagi beberapa baju, boneka, mainan, yang letaknya bagai kurva tak beraturan. Di mana-mana?! Nah, apalagi bokin tercinta sedang dines malem di rumah sakit yang artinya: berangkat jam 8.30 malem dan pulangnya jam 9 pagi besok!

Tadinya gue berpikir cuek bebek aja. Normal kan kalo gue berharap mereka bakalan capek sendiri, lalu tepar satu per satu di tempatnya masing-masing: Bibing di pojokan karena kepengen nempel di tembok, Ninin dengan bantal biru khasnya di tengah, lalu gue sendiri sebagai benteng pertahanan agar tidak ada yang jatuh! Tapi harapan gue ibarat menyalakan korek api yang basah. Artiin sendiri ya….

Mereka berdua bukannya capek malah makin menjadi. Jam sepuluh teng keduanya masih asyik ngacak-ngacak tempat tidur. Hingga pada akhirnya gue mengeluarkan jurus pamungkas ‘Horror Chronicles’, yaitu jurus menakuti dengan tayangan horor plus menunjuk-nunjuk jendela yang memang berhadapan langsung dengan kuburan keluarga tetangga. Catet: kuburan keluarga tetangga! Bukan keluarga kita.

Sekadar catetan: gue pernah tidur sendiri menjelang beberapa hari pernikahan gue. Masih ada gambar-gambar gak enak dilihat di tembok, jendela yang belum bertirai, dan belum banyak barang sehingga berkesan kamar kosong. Asli! Waktu itu gue nggak bisa tidur sampe subuh karena banyak kejadian yang bikin bulu kuduk gue berdiri: embusan angin malam dari lantai kayu, cahaya gemeretak dari jendela yang ternyata ada orang yang bakar-bakar di kuburan jam 2-3 malem, sampe perasaan dilihat sama sesuatu. Ya, bisa jadi itu … CECAK! Ck-ck-ck-ck-ck. Ssst, jangan bilang-bilang ya kalo gue rajin shalat Subuh ke masjid waktu itu emang karena takut lama-lama di kamar. Abis shalat pun langsung ngacir jalan-jalan sambil pura-pura nyari surabi hingga cahaya matahari menerangi seluruh seantero jagad Bandung.

Nah, karena itulah setelah nikah dan pada akhirnya punya anak, jendela yang langsung berhadapan dengan kuburan itu langsung ditirai mati alias nggak bisa dibuka kalau nggak perlu-perlu amat!

Sedang asyik-asyiknya Bibing dan Ninin bermain, gue pun langsung berseru kaget sambil nunjuk-nunjuk TV yang emang lagi nayangin iklan horor. Otomatis, mereka berdua menjerit ketakutan dan langsung berlari ke tempatnya masing-masing. Start pada posisi menyamping sambil memeluk bantal dengan wajah yang ditutupi. Gue tersenyum girang sambil ‘mpok-mpok’ (menepuk pantat mereka sambil mulut berdesis atau menggumamkan lagu nina bobo). Tak lupa, agar tidak disangka ngajarin yang nggak bener (padahal udah tuh!) gue langsung membisikkan doa sebelum tidur ke telinga mereka. Bibing yang memang sudah hapal langsung mengikuti, beda dengan Ninin yang cuma mengikuti kata ‘amin’nya saja.

Bibing sukses tertidur, ternyata tidak diikuti dengan Ninin. Matanya masih saja membuka karena ingin bermain. Selama hampir setengah jam gue mati-matian agar tuh anak bisa langsung terlelap. Jurus-jurus horor terus dikerahkan dari berbagai penjuru: nunjuk-nunjuk TV, nunjuk-nunjuk jendela, TV dimatiin tiba-tiba, lampu kamar dimatiin tiba-tiba, suara menggeram, teriakan ‘Tah! Tah! Tah!’, hingga pura-pura memeluk guling sambil menyembunyikan kepala.

Sebenarnya ini jadi mirip kucing-kucingan: setelah ditakuti Ninin langsung menyembunyikan wajah, tapi nggak berapa lama karena setelah itu langsung main lagi. Terus menerus sampe gue harus melancarkan jurus horor yang lain. Berulang-ulang dan terus berulang-ulang. Hehhh! Buat ngingetnya aja udah capek, apalagi diketiknya. Ya, disingkat saja: (sebentar, tarik nafas dulu yang panjaaaaaaaaaang … sekali lagi tarik nafas yang panjaaaaaaaaaaaaaa … aaaaaaaaaaaaaaang) nah, setelah setengah jam Bibing tertidur, Ninin pun pada akhirnya berhasil terlelap juga.

Fiuh! Nafas gue masih ngos-ngosan. Setelah menarik nafas kelegaan, gue pun berbaring tenang di samping mereka berdua sambil mengubah-ubah channel TV yang kira-kira menarik. Jam di tembok sudah menunjukkan angka sepuluh lebih. Tanpa sadar, angka sebelas pun terlewati dan … entah mengapa suasana saat itu sunyi senyap. Saat sedang asyik-asyiknya pindah channel, tanpa sengaja iklan horor yang lumayan HOROR muncul di depan mata. Deg! Jantung ini kayaknya hampir saja berhenti. Sempet ngedumel juga sih kenapa tuh iklan mesti tayang pada jam segini! Setelah channel dipindah dengan kecepatan tinggi, gue pun melirik pada jendela yang tirainya bergerak-gerak diembus angin malam. Tuh jendela memang tidak berdaun, tidak beranting, apalagi berbuah, yang jelas tak berpintu! Maksudnya itu. Makanya ditutup rapat-rapat, tapi sayang cuma dengan tirai saja. Hiks!

Sekali lagi … gue merasa ada yang ngawasin, bukan si Tuan CK yang pinter mutusin ekornya sendiri. Acara TV pun dicari yang rada rame dan jauh dari nuansa horor. Mata gue pejemin sambil membaca banyak doa: dari Al-Fatihah, ayat kursi, hingga doa sebelum tidur. Dan … gue pun tersiksa sendiri karena suasana horor yang nggak pernah ada habis-habisnya hingga baru bisa terlelap setelah jam satu malam. Tangan Ninin gue pegang terus biar gue merasa tidak sendiri. Ya, aslinya gue emang penakut juga. Makanya pesen gue cuman satu: kalau elo PENAKUT, jangan pernah nakut-nakutin ANAK elo sendiri! Bisa kualat![]

Advertisements

16 thoughts on “Horror Chronicles

  1. ahahahahaahhahaha…
    ahahhahahaha..
    ninin..ninin bangunlaah! bangunlaaaah.. lihat lah itu Abi ketakutan.
    Lihat lah nin…

    uahhahahahahahhahahha..
    *ngakak tenan*

  2. >> jasmine : Iya, itu kisah nyata sekira setahun lebih yang lalu. Ini tulisan hasil lomba dan alhamdulillah menang. Makanya diposting buat kenangan ^_^
    >> ais : Ninin mah tidurnya cepet banget kalau dah cape, tapia kalau gak bakalan susah nyuruh dia merem.
    >> nwwmbh : Iyaaaaaa, dah ikal beneran ^_^

  3. hahahah…makanya jangan iseng nakut2in anak, akhirnya malah ketakutan sendiri….

    emang yach nidurin anak itu capeknya minta ampuun, anakku yg kecil (9 bulan) paling kuat matanya…..kalo mau di tidurin susyahhnya minta ampun…..susu udah abis 2 botol blm tidur juga, sampe emaknya udah ketiduran dia blm tidur juga. masalahnya dia udah jago gulang guling. Akhirnya sebulan yg lalu dia jatoh dr tempat tidur krna emaknya udah dibuai mimpi, sementara dia masih gulang guling bablass hehehhe…..

  4. Hahahahaha..
    ya Ampun Bang..
    coba kalau bang Aswi sekarang di sini
    pasti heran deh liat saya ngakak gak berhenti-berhenti
    adaaaaaaaa ajaaaaaaa..
    itu namanya sih senjata makan tuan bang..
    hehhehe

  5. >> mama ina : Samma, si anin dah berapa kali jatuh, tapi gak kapok2 juga. Emang sudah sifat dasarnya kayaknya ^_6
    >> apikecil : Untung gak lihat. Kalau lihat, tak siram pake air xixixixi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s