Kenangan Bersepeda

Sosok itu mengernyit. Boleh jadi dia merasa sehat dengan kondisi fisiknya saat ini, apalagi dengan keberhasilannya mendonor darah beberapa waktu lalu. Menggowes sepeda pada medan yang menanjak dan curam pun sudah takmenjadi kendala. Semalam pun berhasil melewati rute yang membuatnya ‘ngos-ngosan’ saat menghadiri akikahan seorang kawan. Akan tetapi, bagaimana dengan berat badannya?

Pertama kali bersepeda ke daerah ‘atas’ dimana SPIDI masih berwarna asli bersama Pak Bayu, Pak Rikvi, dan Herlan ke Gunung Batu melewati Dago Pakar pada 29 April 2005

Pada saat donor darah, sosok itu begitu terkejut dengan angka 77. Angka kembar yang benar-benar menghantuinya. Sebelumnya, takpernah berat badannya mencapai angka itu. Okelah fisiknya didukung oleh tinggi badannya yang tergolong jangkung, tapi tetap saja dirinya merasa serbasalah. Normalnya, BB harusnya di bawah angka 70. Belum lagi kondisi perut yang makin maju. Jelas ini aib!

Akhirnya, inilah rombongan terbanyak dari B71 yang berhasil bersama-sama ke Dago Pakar pada 30 Juli 2005

Sosok itu menyadari bahwa olahraga (khususnya bersepeda) sudah semakin ditinggalkan. Memang tidak ekstrem ‘meninggalkan’ bersepeda, karena toh sosok itu masih bersepeda tiap hari untuk pulang-pergi bekerja. Tetapi bersepeda yang benar-benar untuk olahraga, sedikit demi sedikit makin menjauhkannya. Apabila dulu masih bisa bersepeda seminggu sekali mengganyang tanjakan, kini hanya sebulan sekali. Sementara kawan eks-sekantor yang notabene telat bersepeda malah semakin getol bersepeda hingga ke Manglayang, Palasari, dan beberapa tempat yang membuatnya iri.

Goes Country I (GC-I) ke Sumedang pada 16-17 September 2005

Hhh … tapi itulah realitas. Entah karena sepeda sosok itu yang itu-itu saja, tanpa ada peningkatan atau ‘upgrade’ onderdil (dan ini selalu menjadi halangan/ganjalan untuk pergi ke daerah tertentu seperti ‘daerah gunung’) atau memang niatnya yang belum kuat. Maklum, SPIDI masih produk tahun 90-an yang keluar sebelum FEDERAL. Framenya sudah karat dan keropos di bagian-bagian tertentu kendati fork dan bannya sudah diganti. Akan tetapi, MASTER bernomor seri DSA 0026030 inilah andalan terbaik sosok itu menjelajah daerah-daerah tertentu tanpa ada masalah. Pengalaman terindah yang dia miliki bersama Spidi hitam/merah yang aslinya berwarna biru. Inilah sepeda terbaik yang pernah dimilikinya kendati warisan mertua yang teronggok lusuh di pojok jemuran yang sering kepanasan dan kehujanan, dulunya.

Bangganya bisa ke Situ Lembang saat kemarau pada 25 November 2006 bersama tim pertama waktu ke Gunung Batu dahulu plus Ade Wawa, setelah rapat di daerah Cikole

Kenangan yang indah. Pengalaman berharga yang terus menjadi guru bagi kehidupannya. Saat harus jatuh di depan RS. Santo Yusup menjelang maghrib karena fork-nya patah. Berjalan malam-malam diiringi hujan rintik-rintik dari Cicadas sampai Papanggungan karena rantainya putus. Menabrak mobil pribadi hingga memecahkan lampu belakang karena rem yang tidak pakem, dan terpaksa mengeluarkan uang 20ribu rupiah untuk menebus KTP. Menuntun sepeda dari Taman Pramuka – BABE – Papanggungan, berkejaran dengan tiga bidadari yang tadinya dibonceng hingga terpaksa naik angkot, juga karena rantai yang putus. Semuanya berkejaran menjadi kilasan yang membuat sosok itu tersenyum dan menangis dalam hati. Luar biasa!

Goes Country II (GC-II) ke Waduk Cirata, Purwakarta pada 11-12 November 2006

Jangan hapus kenangan-kenangan itu dari ingatan kita! Seburuk apa pun kenangan itu yang diingat, ia akan membawa keistimewaan tersendiri bagi kehidupan kita mendatang. Yakinlah dengan hal itu.[]

Advertisements

14 thoughts on “Kenangan Bersepeda

  1. Kenangan manis semoga terjalin selamanya … meski sudah berstatus ‘alumnus’ …
    B71 … tonk he love … :))

  2. >> lidya : Iya, dan dengan menulis, semua kenangan itu tersimpan dengan baik ^_^
    >> puwi : Hayu atuh sapedahan deui …
    >> ade wawa : Sok atuh, dilukis hehehe …

  3. Membaca kenangan ini, wah… saya tambah semangat untuk senang menggowes. Makasih banyak berbagi kenangannya. Kini, saya turut aktif bersama kawan2 di Lereng Merapi Onthel Community, Yogyakarta.

  4. kenangan yang menyehatkan ya. memiliki kenangan seperti itu memang suatu anugrah
    kenangan menyehatkan yang saya miliki, mentok pulang sekolah jalan kaki.

  5. liatin foto-fotonya kok jadi bikin pengen sih bang…
    moga nanti bisa rajin olahraga lagi,,, terutama nyobain bersepeda… 🙂

    betul, kenangan itu adalah lintasan kehidupan yang tak pernah bisa kita hapuskan walau sering kita lupakan..
    baiknya, kita simpan di tempat nyaman yang dapat sekali waktu kembali dimunculkan, dan saat itulah kenangan akan menyulut lengkung senyuman atau setitik tangisan kebahagiaan… 🙂

  6. wah kenangan bersepeda, suamiku ingin mengulang masa lalunya ketika masih di jogja, pulang pergi ke kantor naik sepeda, tapi kalo di jakarta kan ngga mungkin yach dari priok ke bintaro naik sepeda hehehe…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s