Ketika Sosok Itu Marah

Sosok itu sempat tertegun. Tertegun pada sebuah pertanyaan sederhana. Sang pasangan jiwa bertanya, “Pernahkah Abang marah yang amat sangat?” Ya, kapan terakhir dia marah? Marah yang sebenarnya tentu saja. Marah yang diikuti oleh tindakan fisik, mungkin. Sosok itu merenung. Sudah terlalu lama dia tidak marah (yang sebenarnya). Sudah lupa bahkan, dan teringat kembali pada obrolan beberapa malam lalu.

Marah yang paling diingatnya adalah ketika orientasi siswa pengenalan kampus atau biasa dikenal ospek, tahun 1994. Pada masa itu, ospek masih tergolong keras. Apalagi bagi ITB. Kalau kulit belum terluka dan mengucurkan darah, kayaknya masih ada yang kurang. Ini untuk kaum laki-laki, ya. Jadi, meskipun sosok itu mengambil jurusan Farmasi yang notabene mayoritas perempuan, ospeknya tidak menjamin tidak keras. Dan di sinilah kemarahan yang luar biasa dari sosok itu menemukan muaranya.

Sosok itu diharuskan menampar seorang rekannya. Berkali-kali. Adegannya adalah setiap pasangan saling berhadapan, muka dengan muka. Laki-laki dengan laki-laki. Tangan kanan siap pada pipi kiri pasangannya. Dan tampar-menampar wajah pun diulang berkali-kali. Akan tetapi sosok itu menolak. Dipaksa sedemikian rupa pun takmembuatnya mau menampar wajah kawannya. Hingga akhirnya senior pun memisahkan dirinya dan sosok itu malah ditampar bertubi-tubi oleh sang senior.

Di sinilah kemarahannya memuncak. Takkuat dengan perlakuan sedemikian, sosok itu itu bukan balas menampar, tapi menonjok. Pukulan keras langsung mendarat pada wajah sang senior. Telak. Takpelak adegan perkelahian pun berkelanjutan. Para senior langsung berusaha melerai. Dan akibatnya, sosok itu menjadi perhatian para senior. Kuliah belum dimulai, tapi nama dan wajahnya sudah menjadi berita. Ah, cerita basi untuk sebuah tips bagaimana agar Anda bisa dikenal di kampus dengan cara sederhana.

Kemarahan kedua yang diingat sosok itu adalah kejadian beberapa bulan lalu. Pada sebuah kereta ekonomi. Wrong situation at the wrong time. Siang yang menyengat ternyata makin memanas saat berada di kereta ekonomi jurusan Padalarang – Kiaracondong. Penumpang makin berjejalan masuk sementara yang turun seolah takada. Sosok itu pun makin kesulitan keluar. Aksi saling dorong-mendorong pun terjadi. Anak-anak menjerit kesakitan karena terjepit. Sosok itu beringas. Berteriak keras agar penumpang di depannya memberikan jalan. Wajahnya memerah dan mengeras pada penumpang yang berusaha menghalangi jalannya. Belum usahanya untuk meredam tangan-tangan jahil mencuri kesempatan. Bisa jadi, itulah kejadian traumatik bagi anak-anak.

Dan kini, kapankah sosok itu akan menunjukkan kemarahannya lagi? Semoga tidak. Meski tidak dilarang, marah simbolnya setan. Merah adalah warna kemarahan. Sang teladan saja mencontohkan untuk tidak marah pada musuhnya sekalipun. Tidak marah pada yang berhak dimarahi. Memaafkan jauh lebih baik daripada marah. Mudah, tapi kenyataannya sulit. Apalagi di tengah situasi masyarakat saat ini yang sepertinya mudah sekali meledak. Jadi, kapan terakhir Anda marah?[]

Advertisements

15 thoughts on “Ketika Sosok Itu Marah

  1. Terakhir kali marah sama pasangan saya, itu karena ketidak pedulian dia pada nasehat saya (menurut saya) Kami bertengkar hebat saat itu.
    Tapi itu sudah lama terjadi, kira kira dua tahun yang lalu, ngeri kalo mengingatnya. Sekarang mau coba lebih adem pada emosi biar hidup terasa lebih nikmat.

    Salam.. .

  2. >> mood : Ya, dari kemarahan itu kita bisa belajar lebih banyak. Ternyata marah itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaat.
    >> kakaakin : Alhamdulillah … ^_^

  3. kita boleh marah pada ketidakadilan, pada tindakan yang tidak dibenarkan, pada kemunafikan, pada ketidakpedulian…
    pada siapa saja yang menghina kebenaran,,
    hanya pada hal2 semacam itu kita boleh marah ya bang…
    saya marah setiap melihat hal2 semacam itu,,,walau terkadang marahnya tidak harus terlihat … tp untuk hal2 yang sudah kelewatan perlu kita tunjukkan kemarahan kita,,,

  4. Hehehe, gw sering Bang merepet sama suami, tapi hal2 kecil ajah. Merepet sama marah sama ga yah? Karena pada dasarnya saya orangnya suka detail, sedangkan kodrat si Abang (laki2 pada umumny) ga suka yang detail2, maka kadang itulah yang jadi pemicunya 🙂

  5. aku kalo marah paling diem, tp ubun2nya suka mendadak panas gitu. hahaha
    paling malu kalo udah marah 😦 makanya, skrg lg berusaha untuk lebih mengontrol emosi 🙂 hehehe *jd curhat 😀

  6. >> dhe : Kangen sama siapa ya? Kangen sama marah … gak lah. Kangen sama yang manis-manis tentunya. Ya kayak senyum itu ^_^
    >> ais : Hehehehehe, manajemen marahnya harus diatur lagi tuh, Ais. Masih berdarah moeda!
    >> puteri : Setuju banged! Gue suka dengan komentar ini!

  7. >> lidya : Wow, alhamdulillah sudah mengingatkan … ^_^
    >> jasmine : Bagus itu. Untung gak kayak udang mateng ya, keluar asep dari ubun-ubun xixixixixi ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s